Mati Imaji

Sedang mati imajinasi.
Sedang mati kata.
Nampaknya sudah begitu lama otakku menolak untuk merangkai kata. Sekalinya ada, rangkaian kata itu bahkan tidak dapat aku selesaikan.

Maka akan saja selalu ada alasan yang akan aku keluarkan ketika ada pertanyaan dari kawan ‘kenapa belum menulis lagi?’
Segan rasanya untuk mengatakan bahwa aku sedang tidak ada inspirasi.
Malu rasanya untuk menjabarkan bahwa aku kehabisan ide.
Padahal kemanapun mata memandang selalu ada inspirasi yang bisa muncul. Akan selalu ada hal yang bisa ditulis.

Katanya rutinitas itu membunuh imajinasi, tapi menurutku rutinitas itu dapat membuat rangkaian kata-kata indah. Tapi itu jugaa masih kataku dan menurutku. Karena pada kenyataannya aku si pelaku rutinitas juga masih gagal untuk menorehkan ide dan menumpahkan imajinasi. Jadi apa? Dibiarkan saja?
Mungkin aku butuh waktu tenang, sampai aku bisa mengumpulkan semua imajinasi lagi hingga akhirnya rangkaian kata itu akan mengalir dengan deras dan lancar. Atau mungkin aku harus menunggu sampai ada badai inspirasi lagi hingga akhirnya aku akan menulis tanpa henti.

Tapi baiknya ditunggu? Atau lebih baik diusahakan saja?

Advertisements

Tanpa Resolusi

Memulai tahun baru biasanya penuh dengan resolusi bukan? Dengan harapan-harapan baru dan rencana-rencana baru untuk sepanjang tahun yang baru.
Tapi aku memulai tahun 2017 tanpa resolusi, karena tahun-tahun yang lalu saja saya masih ada rencana yang belum selesai.

Sudah beberapa tahun berlalu dan saya menjalani hidup tanpa resolusi. Bukan karena saya menyerah dengan hidup, namun mungkin perlahan menjadi apatis karena memang tidak akan ada perubahan yang drastis juga dalam hidup ini.
Mungkin karena saya juga bertambah dewasa, karena nyatanya kehidupan juga akan selalu seperti ini.

Ada beberapa rencana yang sudah saya siapkan untuk tahun ini. Saya juga harus berjuang lebih keras tahun ini. Walau tanpa resolusi, saya berharap tahun ini akan berjalan baik-baik saja.

Semoga.

Bukan Pemaaf

Maaf, ternyata aku bukan seorang pemaaf.
Butuh waktu berminggu-minggu untuk aku menghilangkan amarah dan berusaha melupakaan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan.
Memaafkan ternyata masih merupakaan hal sulit untuk dilakukan.

Maka maaf, aku bukan pemaaf.
Aku masih menyimpan segala marah dan sakit hati, walau aku tutupi dengan segala senyum.

Bersyukur

Hari ini aku menghabiskan setengah hariku tertawa. Tapi tawa yang palsu.
Aku bersyukur bahwa aku masih punya kekuatan untuk memalsukan tawa.
Setidaknya dari semua perasaan kacau balau yang aku punya aku masih dapat tersenyum walau palsu.
Dunia tidak perlu tau apa yang sedang terjadi dan apa yang aku rasakan.
Yang lain tidak perlu tau apa yang sedang aku pikirkan.
Aku hanya harus terus membangun gambaran bahwa semua baik-baik saja. Bahwa aku pasti bisa melewati semua hal dengan baik.

Di keadaan seperti sekarang rasanya aku sulit sekali untuk bersyukur.
Terlalu banyak hal yang sedang aku alami dan terlalu banyak perasaan yang menurutku begitu melelahkan.
Tapi aku harus beryukur karena setidaknya masih bisa memalsukan tawa, masih bisa merasa.
Terutama aku harus bersyukur, karena masih ada orang-orang yang peduli.
Aku bersyukur karena masih ada kamu.

Manusia Batu

Rasanya seperti melihat hantu ketika tadi kamu menghampiriku. Jantungku berhenti berdegup sesaat dan lidahku seketika berubah kelu. Aku hanya bisa mengumbar senyum kaku sambil sesekali melirik ke arah telepon pintarku yang aku genggam.

‘hey..’ sapamu. Aku hanya tersenyum, tidak dapat membalas sapaanmu.
‘gimana kabar?’ lontarmu lagi dengan santai. Kembali aku hanya dapat menatapmu dengan tatapan kosong. Aku tidak bisa menjawab bagaimana kabarku, jadi akhirnya aku hanya terdiam layaknya sebuah manequin yang tidak dapat berbicara. Ada jeda yang cukup panjang, nampaknya kamu sabar menunggu jawabku. Hingga akhirnya aku dapat juga mengeluarkan sepatah kata dengan gemetar.
‘baik..’

Kemudian ada lagi jeda yang panjang. Aku tidak berniat melanjutnya pembicaraan karena aku tidak nyaman, sedangkan kamu nampaknya tidak dapat merasakan kegelisahanku. Tidak tahukah kamu bahwa aku masih kesal dan marah kepadamu? Tidak terasakah bahwa aku masih malas melihat wajahmu? Mungkin aku tidak pandai menunjukkan perasaan. Tapi mungkin kamu juga manusia tanpa perasaan yang tidak dapat membawa mimik wajah.

Kamu masih berdiri dihadapanku. Sedangkan aku masih berusaha untuk lari dari hadapanmu. Entah tubuhku yang sudah berubah menjadi batu, atau kamu yang memang berhati batu. Tapi keduanya sudah menjadikan aku dan kamu manusia batu.

Cepat Pulang, Ya..

Belakangan ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan dan mengejar kehidupan dunia sehingga aku lupa bahwa aku masih ada jiwa yang perlu aku pedulikan. Pertemuan demi pertemuan harus aku hadiri. Wajah demi wajah harus aku ingat. Masalah demi masalah harus aku selesaikan. Perjalanan demi perjalanan harus aku jalani. Tapi itu setidaknya bisa membantu aku melupakan rindu yang sudah terlalu membuncah di hatiku.

Namun hari ini tubuhku sudah tidak mampu lagi untuk diajak kerja rodi dan jiwaku menjadi kopong karena aku tinggalkan begitu lama. Hari ini akhirnya aku hanya terkapar di atas kasur kedinginan karena ternyata pendingan ruangan bekerja terlalu keras. Perlahan aku menarik selimutku untuk melindungi tubuhku yang sedang lemah dari sakit, walau aku merasa itu upaya yang sia-sia karena hampir aku yakini bahwa aku bukan hanya tubuhku yang kedinginan tapi juga jiwaku. Maka aku berusaha untuk menghangatkan jiwaku dengan kenangan tentang kamu.

Kamu yang selalu siap sedia kapan saja datang menemaniku meskipun ujung-ujungnya aku akan meninggalkan kamu dan sibuk dengan pekerjaanku yang tidak pernah ada habisnya.
Kamu yang selalu bersedia menjadi samsak hidup ketika aku sedang kesal-kesalnya dengan manusia yang selalu ingin menang sendiri dan selalu merasa benar.
Kamu yang selalu memaparkan logika-logika yang mendukung ketika otakku sudah buntu dan tidak dapat diajak berfikir lagi.
kamu yang selalu dapat memberikan pelukan terhangat dan ternyaman yang dapat mengembalikan seluruh kekuatan yang sudah hilang.

Sesaat aku tersenyum. Memang benar, mengingatmu bisa menghangatkan jiwa.
Mungkin kehadiranmu bisa membangunkan tubuhku yang mati rasa akibat kelelahan ini.
Cepat pulang ya, karena jiwaku sudah terlalu dingin tanpamu.

Kullerfull Cafe & Salon

dsc_3618

Mungkin bias apabila saya mengatakan bahwa ini adalah coffee shop paling nyaman dan menyenangkan yang pernah saya datangi, karena ini adalah milik teman saya. Tapi tidak bias menurut saya apabila sebuah coffee shop itu dibangun dengan passion dan disertai juga dengan keramahan yang membuat kita akan senang berlama-lama di shop tersebut.

Terletak di sebuah ruko di ujung kota Tangerang – tepatnya di Kawasan Ruko to Boulevard blok C no. 10, Bumi Serpong Damai. Cafe ini akan menonjol dan membuat Anda ingin mampir karena namanya dan logo depannya yang cukup unik. Memadukan sebuah salon dengan cafe menjadi sesuatu yang inovatif, karena para pengunjung salon yang ingin mempercantik diri mereka dapat menikmati juga racikan kopi nusantara yang nikmat.

Entah sudah berapa kali dalam seminggu saya absen di cafe ini. Bukan hanya untuk mengunjungi teman saya yang sekarang sehari-hari menghabiskan waktu untuk terus belajar tentang kopi dan membuat kue-kue enak, tapi juga untuk menyesap kopi yang selalu pas. Entah pas untuk mood hari itu, atau pas untuk melepas penat. Tentunya dibarengi dengan barista-barista yang handal dan kocak menjadikan saya senang berlama-lama menghabiskan waktu disana. Tempatnya yang nyaman dan tenang juga menjadikan saya dapat fokus untuk menyelesaikan pekerjaan demi pekerjaan yang nampaknya tidak pernah ada niat untuk habis.

dsc_3470

Rasa kopi yang mantab ditambah dengan pelayanan yang menyenangkan membuat saya yakin siapapun, bukan hanya saya betah berlama-lama disini. Apabila sudah bosan atau penat dengan pekerjaan, maka saya akan duduk memerhatikan mobil lalu lalang melalui jendela mereka yang besar-besar. Entah berkhayal atau mencari inspirasi.

Sekali lagi, anggap saya bias karena cafe ini adalah milik seorang kawan dekat. Namun cobalah mampir sesekali ke cafe ini apabila Anda sedang merambah ke ujung Tangerang ini. Saya yakin Anda pun akan selalu ingin kembali lagi. Mungkin saya terlalu yakin, tapi rasa tidak pernah bisa bohong. Melayani dari hati pun akan selalu menghangatkan setiap jiwa yang mampir. Setidaknya secangkir kopi dengan rasa yang enak akan mewarnai hari Anda bukan?

I am Sorry..

I am sorry if life has been tough on you.
I kept on trying to make your life better but I guess I did not do a good job.
I am sorry that I haven’t been able to always be by your side.
I kept on trying to be there on every occasion but I guess I did not have enough time.
I know I should not blame time and it is all about priority.
You are my number one priority and yet I kept on disappointing you.

I am sorry if I am not a good human being for you.
I am sorry. I know sorry is not enough. I know sorry doesn’t mean anything.
I know sorry doesn’t fix the broken pieces.

Yet right now, all I can offer you is just sorry. And be sorry.

Si Penjelajah

Mengutip dari salah satu buku, “Sagitarius adalah penjelajah..”
Aku ingin sekali menjadi penjelajah yang menjelajah hatimu.
Itu terdengar sangat menjijikan bukan? Aku pun rasanya ingin muntah mendengarnya. Tapi sungguh, aku ingin sekali berkelana untuk mengenal hatimu lebih daripada yang aku ketahui sekarang.

Mungkin hiperbola apabila aku ingin menjadikan kamu duniaku. Namun rasanya aku ingin hanya hidup di dalammu dan bersama denganmu. Pernah kamu dengar seseorang yang begitu tergila-gila denganmu? Kalau belum pernah, jadikan aku manusia pertama yang tergila-gila dengan segala hal tentangmu.

Karena nyatanya, aku hanya bahagia bersama denganmu. Dan kalaupun aku harus menjelajah tempat lain, aku ingin menjelajah bersama dengan kamu. Menorehkan memori dalam kehidupan yang monoton.

Pelarian

Aku rasa setiap orang butuh pelarian.
Pelarian dari berbagai macam hal.
Pelarian dari berbagai macam situasi.
Bahkan dalam kehidupan pekerjaan saja sering kali kita ingin mengambil cuti untuk melupakan ragam pekerjaan yang membuat hidup kita melelahkan.
Sejak kamu hadir, kehidupanku kemudian menjadi berantakan.
Kamu menjadi sebuah candu yang harus selalu ada bersamaku. Rasanya tidak mampu aku untuk tidak bersama denganmu. Membayangkan kamu akan pergi dariku saja rasanya begitu menyakitkan.

Tapi kamu tau bahwa apapun yang menjadi candu itu buruk bukan?
Dan aku tidak dapat lagi bertahan denganmu karena belakangan kamu mulai memberikan pengaruh buruk kepadaku. Aku tidak lagi dapat beraktivitas dengan normal tanpa kamu. Aku tidak lagi bisa fokus dengan pekerjaanku karena sebagian besar yang aku pikirkan adalah dirimu. Rasanya aku seperti orang gila, aku tidak dapat melakukan apapun. Bahkan ketika aku berusaha untuk berdiam diri dan mengosongkan pikiranku sekalipun, tetap saja hanya kamu dan senyummu yang terlintas dan bersemayam di dalam pikiranku.

Entah berapa kalipun aku menghela nafas untuk menghilangkan kamu dari pikiranku, tetap saja hanya kamu yang hadir. Jadi akhirnya aku memutuskan bahwa aku membutuhkan pelarian. Pelarian dari kamu, dan pelarian dari kehidupanku yang isinya hanya kamu, kamu dan kamu lagi.

Setidaknya aku tidak berlari selamanya, hanya sesaat.
Entah kemana akan aku bawa kaki ini melangkah mencari pelarian darimu. Tapi setidaknya lari darimu untuk sementara.