Variabel Bahagia

Sering kali kita terpaku pada masalah cinta. Tapi kemudian kita lupa untuk mencintai diri kita sendiri. Kita rela melakukan banyak hal, menghabiskan banyak uang dan waktu, membuang-buang kesehatan kita untuk orang lain. Menggantungkan harapan di orang lain hingga lupa bahwa kita sendiri adalah kunci kebahagian kita.

Bahagia itu relatif. Variabel bahagia juga sangat beragam.
Seperti saya, bahagia hanya ketika sama disuguhi secangkir es kopi hitam dan dibiarkan berlama-lama menikmati buku yang menarik.
Tapi ada juga yang bahagia apabila dihadiahi berbagai barang-barang mahal.
Itu sebabnya gw bilang bahagia itu realtif dan banyak variabelnya.

Jadi sekarang sesungguhnya keputusannya ada di tangan diri sendiri.
Mau bahagia seperti apa?
Mau menggantungkan harapan pada orang lain atau pada diri sendiri?
Mau sampai kapan merasa bahwa kebahagiaan itu akan tercipta apabila kita bersama dengan orang lain?
Sampai kapan kita terpaku pada orang lain tapi bukan diri sendiri?

Kalau mau membahagiakan diri sendiri saja dianggap egois, maka coba tanyakan lagi sama diri sendiri apakah kesehatan jiwa kita masih boleh kita korbankan untuk orang lain.

Kombinasi Sempurna

Karena kombinasi itu tidak harus sempurna. Ukuran sempurna setiap orang itu berbeda-beda. Semuanya akan tergantung dengan selera masing-masing.

Aku menyukai kopi pahit dengan sedikit guyuran gula agar harum kopi itu lebih terasa.
Aku menyukai cheese cake yang lembut cream cheese-nya dengan crust yang agak keras.
Aku suka es krim rasa coklat yang agak pahit, bukan es krim coklat yang dominan rasa manisnya.
Aku suka kacang atom rasa pedas dan segala makanan dengan rasa yang ekstra pedas.
Aku suka memandangi hujan dari lantai 25 gedung kantorku dan memerhatikan titik-titik air yang tertiup angin mengalir turun dan meninggalkan jejak air di jendela.

Tapi kan belum tentu dengan kamu.
Kombinasi yang kamu anggap sempurna mungkin kopi dengan sedikit susu dan banyak gula. Atau mungkin cheese cake dengan crust yang lembut, atau juga kamu lebih menyukai es krim rasa strawberry.

Sempurna itu kan tergantung selera.
Tapi menurut seleraku sih, kamu sempurna.

Belajar Berbagi Bersama @RumahDKK

Gue percaya bahwa hal yang tidak bisa dinilai dengan uang adalah pengalaman dan pengetahuan. Sekecil apapun pengalaman pasti bisa jadi sebuah pelajaran yang menarik untuk orang lain, karena gak semua orang bisa ngalami apa yang kita alami. Gue juga memegang teguh kalimat yang berbunyi ‘sharing is caring’ karena berbagi apapun itu bentuknya merupakan sebuah penanda bahwa kita peduli terhadap orang lain yang bukan diri kita.

Hari Minggu kemarin gue dan beberapa kawan-kawan yang tergabung dalam @RumahDKK berkunjung ke asrama yatim piatu dan rumah dhuafa Al Mawaddah yang berlokasi di Jl. H. Ilyas No. 35, Rempoa. Jujur, hari itu merupakan kali pertama gue melakukan aksi sosial dalam bentuk tindakan yang sampai hadir dan main di lokasi bersama dengan anak-anak. Biasanya gue hanya berakhir dengan mengirimkan bantuan dalam bentuk uang atau barang yang kemudian akan disalurkan dengan bantuan yayasan atau komunitas tertentu. Untuk akhirnya gue sampai untuk dapat bergabung dengan sekelompok orang yang gue tidak kenal saja sudah merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa menurut gue yang sangat individualis ini. Ketika baru awal kumpul gue canggung setengah mati, bingung bersikap dan ragu bagaimana harus bertindak karena gue punya cara gue sendiri yang belum tentu bisa sama dengan yang lainnya.

Kami mulai kumpul di salah satu restoran di dekat asrama yatim piatu dan rumah dhuafa itu sekitar jam 10 pagi dengan agenda untuk berbincang dan kenal lebih dekat dulu dengan masing-masing dan membahas rencana acara di asrama yatim piatu dan rumah dhuafa nanti siang. Dari informasi yang sudah dikumpulkan, di sana ada sekitar 22 anak yang akan hadir dan mengikuti agenda yang sudah kami siapkan sebelumnya. Tentunya sebenarnya acara yang kami siapkan sangat sederhana. Sedikit pembukaan dari salah satu tetua di komunitas kecil kami ini dan kemudian dilanjutkan dengan beberapa games yang mudah tapi menyenangkan untuk menghibur dan bermain dengan adik-adik yang ada di sana.

Pukul 12.30 tepat kami berangkat menuju asrama yatim piatu dan rumah dhuafa yang memiliki jarak tempuh sekitar 15 menit dengan menggunakan motor atau mobil dari meeting point kami. Sesampainya di sana kami ternyata masih terlalu pagi dari jam yang kami janjikan. Namun kami sudah disambut oleh pemilik Yayasan Al Mawaddah ini dan beberapa adik-adik yang ternyata sudah menunggu kami. Kami kemudian diajak menuju aula yang tidak terlalu jauh juga dari asrama utama untuk berkumpul dan menggelar agenda acara yang sudah kami siapkan.

Photo 4-26-17, 22 24 11

Adik-adik yang tinggal di asrama ini datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Mentawai, Bogor, Jakarta hingga daerah-daerah lain di Indonesia. Umi Yusi, begitu pemilik yayasan ini dipanggil memiliki hati yang begitu mulia karena beliau sudah menampung anak-anak dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya semenjak 25 tahun yang lalu. Bukan hanya membantu anak-anak yang tinggal di asrama, namun mereka juga membantu warga sekitar yang membutuhkan bantuan. Puji Tuhan selalu saja berkecukupan juga dengan donasi-donasi yang datang dari siapa saja dan terkadang dengan saat-saat yang tidak terduga.

Kami memulai acara kami pukul 13.00 lebih sedikit dengan pembukaan dan pembacaan ayat-ayat Al-Quran yang luar biasa sudah dihafal oleh adik-adik di asrama. Lalu kemudian kami memulai dengan bermain game komunikata, mewarnai dan magic carpet dimana mereka harus bekerjasama untuk tetap berada di atas karpet yang perlahan-lahan dilipat menjadi kecil.

Wajah-wajah bahagia mereka dari permainan-permainan sederhana dan beberapa bingkisan yang kami berikan merupakan sebuah hadiah yang luar biasa untuk gue. Jujur, I felt so blessed and happy. Dari segala macam keluhan yang gue sebutkan setiap harinya karena entah pekerjaan, kehidupan dan lain sebagainya seharusnya gue bisa lebih bersyukur dengan hal-hal kecil dan hal-hal besar yang gue bisa miliki. Dari adik-adik disini gue bisa belajar soal kesederhanaan. Gue bisa belajar untuk menghargai hal-hal kecil yang terjadi di sekeliling gue. Terlebih gue diajarkan untuk lebih menghargai orang-orang yang ada di sekeliling gue karena mereka tidak hidup selamanya.

Bahagia itu bukan karena memiliki banyak harta benda. Bahagia itu ada di dalam diri kita sendiri. Gue banyak bersyukur setelah kegiatan kemarin. Bersyukur bahwa setiap hari gue masih bisa bernafas dan bangun setiap paginya untuk berangkat kerja. Gue bersyukur bahwa setiap hari gue masih bisa makan dan beraktivitas tanpa kekurangan suatu apapun.

Mungkin untuk teman-teman yang ingin ikut bergabung di dalam komunitas kecil kami, boleh kami dicolek-colek di twitter dengan ID @RumahDKK atau juga follow Instagram kita RumahDKK untuk melihat beberapa kegiatan yang sudah pernah dilakukan. Yang ingin ikutan membantu boleh langsung mention aja di Twitter ya, adminnya baik dan gak gigit kok :D.

Photo 4-26-17, 22 24 44

“Don’t give to get. Give to inspire others to give”

Semoga Jakarta Baik-Baik Saja.

Setelah sekian lama saya absen menulis dengan bebagai alasan dan salah satunya tentunya karena saya sedang sangat sibuk, akhirnya hari ini saya kembali menulis lagi. Dan mungkin kali ini tulisan yang akan saya angkat adalah tentang hal yang sebenarnya mungkin juga sudah banyak dibahas di blog lain atau sedang hangat dibicarakan di social media.

Pesta demokrasi baru saja kembali diadakan di Jakarta, putaran kedua. Setelah putaran pertama dimenangkan oleh pertahana dan melengserkan satu dari tiga calon pasangan gubernur dan wakil gubernur yang akan memiliki amanat untuk menjaga keamanan, keberagaman dan membangun Jakarta sebagai ibukota pemerintahan Indonesia. Dan sebenarnya bukan rahasia juga kalau sebenarnya saya menjagokan pertahana. Bukan, bukan karena kami sama rasnya. Bukan juga karena kami seagama namun karena saya melihat program-program yang beliau jalankan dan beliau rancang merupakan sebuah program yang baik untuk menaikkan strata kehidupan masyarakat Jakarta dan juga membangun Jakarta agar tidak kalah dengan kota-kota di negara lain di dunia. Saya merasakan juga banyak perubahan dalam sistem administrasi yang tidak lagi bertele-tele dan saya tidak perlu keluar uang banyak agar dokumen saya cepat selesai. Menuju perubahan baik memang tidak mudah, namun perubahan itu kemudian menjadi jelas terlihat. Perlahan, namun pasti. Saya sebagai warga Jakarta yang berangkat pagi dan terkadang pulang sangat malam pun merasa aman. Ada jaminan keselamatan dan keamanan dari pemerintahan yang pertahana lakukan selama beliau menjabat.

Ketika saya menuliskan ini dan ketika dibaca mungkin akan terasa seperti I am such a sore loser yang belum move on ketika jagoannya kalah. Kemarin saat hasil quick count yang disiarkan dari berbagai televisi nasional sudah muncul, hati saya sedih namun mungkin saya masih terlalu kaget untuk menyadari bahwa ada hal-hal lain mungkin terjadi karena etnis saya yang dianggap musuh di Jakarta. Saya bahkan masih sempat mengatakan kepada salah satu teman yang begitu sedih karena pertahana kalah dari pasangan lain dengan ‘Ya udah gpp juga, beliau yang kalah aja ikhlas. Mari kita doakan yang baik-baik untuk Jakarta dan semoga amanah juga untuk pemimpin baru Jakarta.’ Namun kemudian ketika dua hari berturut-turut di Jakarta akhirnya saya kembali mengalami pelecehan verbal hanya karena saya terlihat tidak pribumi maka saya kemudian mempertanyakan mengenai keselamatan saya sebagai warga Jakarta.

Kemarin malam saat saya sedang membeli makan malam di salah satu sudut Jakarta sendirian saya cukup bergidik ngeri juga karena ada sekelompok orang yang berteriak-teriak ‘Hey Cina, gak mau coba pergi aja pulang kampung ke Cina?’ Rasanya ingin juga saya teriak balik ke mereka bahwa saya memegang KTP Jakarta dan Paspor Indonesia. Saat saya menyebrang jalan pun ada kelompok lain yang berteriak ‘Eh ada kafir lewat, kasih jalan! Pasti masih sedih bapaknya kalah kemarin.’ Saya pun rasanya ingin berteriak balik ke mereka bahwa tidak saya bukan seorang kafir karena saya beragama dan rajin beribadah sesuai dengan ajaran agama saya. Namun saya pikir yang seperti mereka sebaiknya jangan diberi panggung dan tidak perlu juga saya tersulut emosi karena saya juga tidak kenal mereka. Saya hanya mempercepat langkah saya untuk segera sampai di mobil dan bergegas untuk pulang.

Setelah beberapa kejadian yang saya alami secara personal, saya kemudian mengkhawatirkan keselamatan dan keamanan saya sebagai warga Jakarta. Saya tidak pernah memilih untuk terlahir dengan fitur fisik yang mengindikasikan bahwa saya bukanlah pribumi dan merupakan keturunan Chinese. Kalau saya bisa memilih seperti apa saya terlahir, pastilah saya memilih untuk terlihat seperti Scarlett Johansson. Saya juga orang Indonesia, besar dan menjalani hidup di Jakarta. Jadi mengapa yang pribumi masih harus membedakan dan melakukan tindak pelecehan secara verbal? Bukankah kita semua sama? Saya juga hanya pekerja biasa dengan penghasilan yang pas-pasan di Jakarta ini.

Beberapa waktu lalu kita sempat merasa kasihan dengan Amerika yang sedang mengalami perubahan dengan terpilihnya Donald Trump menjadi presiden mereka. Ternyata saat ini Indonesia terutama Jakarta pun mengalami hal yang sama. Saat ini saya hanya bisa berdoa agar Jakarta bisa selalu baik-baik saja. Dan menjaga diri saya semampu mungkin untuk menjauh dari area-area yang memang kurang aman dan tidak berjalan-jalan di sudut Jakarta sendirian.

Semoga semua hal-hal buruk ini hanya sementara dan Jakarta semakin membaik. Amin

Masa Lalu Malam Hari

Semua orang punya masa lalu dan aku yakin pasti ada saja cerita dari masa lalu mereka yang ingin segera mereka lupakan. Katanya kalau kita sulit untuk melupakan masa lalu maka kita susah move on. Katanya kalau kita tidak bisa meninggalkan masa lalu maka hidup kita akan sengasara. Namun aku punya pandangan lain mengenai hal ini.

Menurutku masa lalu adalah sesuatu yang membuat kita jadi seperti hari ini. Aku sih tidak ingin membayangkan masa lalu yang aku punya. Walau hingga hari ini pun belum seluruhnya bisa aku lupakan dan terkadang perasaan sakit itu masih selalu muncul. Namun, nampaknya masa lalu itu cukup berpengaruh besar di dalam hidupku.
Mungkin di lain kali aku ceritakan sedikit tentang masa lalu yang tidak indah itu di blog ini.

Sekarang aku ingin tidur. (semoga saja aku dapat tidur malam ini)
Dan semoga masa lalu itu tidak akan lagi menghantuiku di dalam mimpi.
Selamat malam. Semoga kalian dapat bermimpi indah.

Dua Sisi Koin Kehidupan

Karena menurut gw ada dua macam tipe kehidupan. Yang baik-baik saja dan yang tidak baik-baik saja.

Baik-baik saja itu ketika hidup dikelilingi dengan orang-orang baik, punya pekerjaan baik, punya keluarga baik, sekolah dan kuliah lulus tepat waktu dengan nilai yang cukup memuaskan. Sudah punya jodoh dan jodohnya sangat baik serta sudah memiliki banyak hal untuk kehidupan baik yang selanjutnya. Sudah planning untuk beli rumah yang diisi dengan perabot yang baik dan bagus. Jumlah anak dan binatang peliharaan sudah terencana dengan baik dan dibalut juga dengan asuransi jiwa, kesehatan, rumah, kendaraan dan lain sebagainya yang akan menunjang kehidupan baik selanjutnya. Punya tabungan hari tua dan tabungan pendidikan anak dengan perencanaan yang teratur.

Tidak baik-baik saja itu adalah kehidupan yang dikelilingi dengan spesies manusia yang bertingkah seperti bukan manusia. Bahkan apabila dibilang seperti binatang pun nampaknya kasta binatang masih lebih baik daripada spesies manusia (yang seperti itu). punya pekerjaan dianggap diri sendiri cukup baik tapi ternyata menurut manusia lain tidak baik. Sekolah dan kuliah juga selesai tepat waktu namun pasti saja dianggap orang lain tidak sesuai. Belum punya planning beli rumah karena harga rumah yang sangat melambung, belum punya planning untuk jumlah anak karena jodoh saja nampaknya masih disimpan di tangan Tuhan. Tidak punya asuransi apapun yang dapat menjadi back-up plan kehidupan apalagi tabungan hari tua.

Tapi sebenarnya ada gak sih jalan tengah diantara dua macam tipe kehidupan itu? Gak mungkin dong hidup semulus dan seindah itu? Atau mungkin gw sedang main di taman yang salah saja? Taman yang lebih banyak kaktusnya daripada bunga lily atau bunga mawar? Ah tapi bahkan bunga mawar saja berduri, masa kehidupan tipe baik-baik saja sama sekali tidak ada durinya?

MARAH

Menurut gw semua orang punya hak untuk memilih kehidupan seperti apa yang ingin dia jalani. Semua orang punya hak untuk menentukan mana yang menurut dia baik atau buruk. Gw yakin, semua orang akan punya opini tentang mana yang baik dan buruk. Tapi yang masih gw heran sampai hari ini, kenapa sih orang-orang masih saja ngeributin kehidupan orang lain?

Mungkin juga karena gw terlalu individualis. Tapi menurut gw, diumur gw yang sudah tidak bisa juga dibilang muda lagi ini semestinya orang-orang tuh jangan sibuk beropini gitu. Lalu kemudian marah ketika gw tidak setuju dengan opini mereka. Karena bukan kalian juga yang menjalani hidup gw. Percayalah, gw tidak akan merepotkan kalian dengan urusan-urusan yang kalian anggap sulit itu. Pilihan hidup gw memang tidak selalu sama dengan kehidupan normal dan mainstream yang biasa dijalani banyak orang.

Jadi ya udah sik, santai aja. Gw gak akan ngeribetin kalian juga dan juga gw gak akan pernah menyesal sama pilihan-pilihan yang udah gw ambil. Satu-satunya hal yang rasanya gw sesali adalah kenapa manusia lain itu kepo banget dan menyebalkan sekali sampai harus ngurusin urusan orang. Emang hidup kalian kurang masalah sampai harus ikut campur di kehidupan orang lain?

Bad Luck Jane

I know that life is not always a fairy tale. I never ask for it to be as well.
I know that to have a good life I have to work hard. I even understand that life is unfair.

I know, I know, I am rambling same old story of life pain.
Yet until I am about this age I still do not get why human could be very inhumane. I still don’t understand why life is unfair to those people that works very hard. It seems that life likes to play odd ball to our life, or rather my life. Life doesn’t let me rest. It always keeps me restless.

I am trying my best not to complain too much, not to whine too much yet I always fail to do so. I hate how unfair this creepy life is. No matter how hard I try on doing things or no matter how hard I work life will just kept on giving me bad luck after bad luck. Some people told me about how God is training me to be strong and tough, yet I need a break. I need a freaking break from bad luck!

Or maybe I am just cursed with bad luck. I am a bad luck Jane.

Harapan Dalam Gelap

Gelap itu tidak selalu berarti sedih.
Karena terkadang menurutku gelap itu bisa berarti kontempelasi, entah terhadap hidup, kepada kenyataan atau mungkin bahkan kenyataan hidup.
Sering kali aku berusaha mencari kedamaian di dalam gelap.

Ada monster di dalam gelap katanya. Tapi sering kali aku merasa bahwa aku lah monster tersebut. Akulah yang seharusnya perlu ditakuti karena aku punya pikiran paling aneh dan paling mengerikan. Akulah yang seharusnya perlu ditakuti karena bahkan terkadang diriku sendiri tidak dapat menjaga kewarasanku.

Gelap itu berarti banyak hal dan aku menyukai gelap. Aku menikmati gelap.
Menakutkannya, aku dapat menjadi diriku sendiri di dalam gelap.
Menakutkannya, aku dapat melakukan apapun di dalam gelap.
Menangis, tersenyum, tertawa terpingkal-pingkal, diam menatap gelap, bersenandung di dalam gelap, berkhayal tentang masa depan, memikirkan keadaan sekarang.
Menakutkannya, aku menemukan kenyamanan di dalam gelap.

Terkadang aku bisa melihat setitik cahaya di dalam gelap.
Aku mengibaratkannya cahaya harapan. Sangat jauh, tidak dapat diraih namun selalu dapat dilihat.
Cahaya itu kemudian aku jadikan sebuah motivasi. Agar aku selalu mau bangkit dari keterpurukan yang sering aku rasakan di dalam gelap. Agar aku mau selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi. Agar aku mau berusaha lagi untuk mendekat ke pusat cahaya tersebut. Dimana? Sampai kapan? Aku tidak tahu, namun setidaknya aku berusaha.

Aku jadi ingat sebuah kutipan dari buku yang hingga saat ini masih membuatku tersenyum apabila mengingatnya.

Mimpi, cita-cita, keyakinan, apa yang ingin dikejar, biarkan ia menggantung 5 cm agar tidak pernah lepas dari matamu.. – 5 cm Donny Dhirgantoro

Maka titik cahaya yang sering aku lihat dalam gelap itu akan selalu aku letakkan di depan mataku aku tidak pernah lepas, akan selalu aku percaya. Agar aku selalu dapat berdiri lagi saat aku terjatuh dan aku akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, kapanpun.

Mati Imaji

Sedang mati imajinasi.
Sedang mati kata.
Nampaknya sudah begitu lama otakku menolak untuk merangkai kata. Sekalinya ada, rangkaian kata itu bahkan tidak dapat aku selesaikan.

Maka akan saja selalu ada alasan yang akan aku keluarkan ketika ada pertanyaan dari kawan ‘kenapa belum menulis lagi?’
Segan rasanya untuk mengatakan bahwa aku sedang tidak ada inspirasi.
Malu rasanya untuk menjabarkan bahwa aku kehabisan ide.
Padahal kemanapun mata memandang selalu ada inspirasi yang bisa muncul. Akan selalu ada hal yang bisa ditulis.

Katanya rutinitas itu membunuh imajinasi, tapi menurutku rutinitas itu dapat membuat rangkaian kata-kata indah. Tapi itu jugaa masih kataku dan menurutku. Karena pada kenyataannya aku si pelaku rutinitas juga masih gagal untuk menorehkan ide dan menumpahkan imajinasi. Jadi apa? Dibiarkan saja?
Mungkin aku butuh waktu tenang, sampai aku bisa mengumpulkan semua imajinasi lagi hingga akhirnya rangkaian kata itu akan mengalir dengan deras dan lancar. Atau mungkin aku harus menunggu sampai ada badai inspirasi lagi hingga akhirnya aku akan menulis tanpa henti.

Tapi baiknya ditunggu? Atau lebih baik diusahakan saja?