Belajar Berbagi Bersama @RumahDKK

Gue percaya bahwa hal yang tidak bisa dinilai dengan uang adalah pengalaman dan pengetahuan. Sekecil apapun pengalaman pasti bisa jadi sebuah pelajaran yang menarik untuk orang lain, karena gak semua orang bisa ngalami apa yang kita alami. Gue juga memegang teguh kalimat yang berbunyi ‘sharing is caring’ karena berbagi apapun itu bentuknya merupakan sebuah penanda bahwa kita peduli terhadap orang lain yang bukan diri kita.

Hari Minggu kemarin gue dan beberapa kawan-kawan yang tergabung dalam @RumahDKK berkunjung ke asrama yatim piatu dan rumah dhuafa Al Mawaddah yang berlokasi di Jl. H. Ilyas No. 35, Rempoa. Jujur, hari itu merupakan kali pertama gue melakukan aksi sosial dalam bentuk tindakan yang sampai hadir dan main di lokasi bersama dengan anak-anak. Biasanya gue hanya berakhir dengan mengirimkan bantuan dalam bentuk uang atau barang yang kemudian akan disalurkan dengan bantuan yayasan atau komunitas tertentu. Untuk akhirnya gue sampai untuk dapat bergabung dengan sekelompok orang yang gue tidak kenal saja sudah merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa menurut gue yang sangat individualis ini. Ketika baru awal kumpul gue canggung setengah mati, bingung bersikap dan ragu bagaimana harus bertindak karena gue punya cara gue sendiri yang belum tentu bisa sama dengan yang lainnya.

Kami mulai kumpul di salah satu restoran di dekat asrama yatim piatu dan rumah dhuafa itu sekitar jam 10 pagi dengan agenda untuk berbincang dan kenal lebih dekat dulu dengan masing-masing dan membahas rencana acara di asrama yatim piatu dan rumah dhuafa nanti siang. Dari informasi yang sudah dikumpulkan, di sana ada sekitar 22 anak yang akan hadir dan mengikuti agenda yang sudah kami siapkan sebelumnya. Tentunya sebenarnya acara yang kami siapkan sangat sederhana. Sedikit pembukaan dari salah satu tetua di komunitas kecil kami ini dan kemudian dilanjutkan dengan beberapa games yang mudah tapi menyenangkan untuk menghibur dan bermain dengan adik-adik yang ada di sana.

Pukul 12.30 tepat kami berangkat menuju asrama yatim piatu dan rumah dhuafa yang memiliki jarak tempuh sekitar 15 menit dengan menggunakan motor atau mobil dari meeting point kami. Sesampainya di sana kami ternyata masih terlalu pagi dari jam yang kami janjikan. Namun kami sudah disambut oleh pemilik Yayasan Al Mawaddah ini dan beberapa adik-adik yang ternyata sudah menunggu kami. Kami kemudian diajak menuju aula yang tidak terlalu jauh juga dari asrama utama untuk berkumpul dan menggelar agenda acara yang sudah kami siapkan.

Photo 4-26-17, 22 24 11

Adik-adik yang tinggal di asrama ini datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Mentawai, Bogor, Jakarta hingga daerah-daerah lain di Indonesia. Umi Yusi, begitu pemilik yayasan ini dipanggil memiliki hati yang begitu mulia karena beliau sudah menampung anak-anak dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya semenjak 25 tahun yang lalu. Bukan hanya membantu anak-anak yang tinggal di asrama, namun mereka juga membantu warga sekitar yang membutuhkan bantuan. Puji Tuhan selalu saja berkecukupan juga dengan donasi-donasi yang datang dari siapa saja dan terkadang dengan saat-saat yang tidak terduga.

Kami memulai acara kami pukul 13.00 lebih sedikit dengan pembukaan dan pembacaan ayat-ayat Al-Quran yang luar biasa sudah dihafal oleh adik-adik di asrama. Lalu kemudian kami memulai dengan bermain game komunikata, mewarnai dan magic carpet dimana mereka harus bekerjasama untuk tetap berada di atas karpet yang perlahan-lahan dilipat menjadi kecil.

Wajah-wajah bahagia mereka dari permainan-permainan sederhana dan beberapa bingkisan yang kami berikan merupakan sebuah hadiah yang luar biasa untuk gue. Jujur, I felt so blessed and happy. Dari segala macam keluhan yang gue sebutkan setiap harinya karena entah pekerjaan, kehidupan dan lain sebagainya seharusnya gue bisa lebih bersyukur dengan hal-hal kecil dan hal-hal besar yang gue bisa miliki. Dari adik-adik disini gue bisa belajar soal kesederhanaan. Gue bisa belajar untuk menghargai hal-hal kecil yang terjadi di sekeliling gue. Terlebih gue diajarkan untuk lebih menghargai orang-orang yang ada di sekeliling gue karena mereka tidak hidup selamanya.

Bahagia itu bukan karena memiliki banyak harta benda. Bahagia itu ada di dalam diri kita sendiri. Gue banyak bersyukur setelah kegiatan kemarin. Bersyukur bahwa setiap hari gue masih bisa bernafas dan bangun setiap paginya untuk berangkat kerja. Gue bersyukur bahwa setiap hari gue masih bisa makan dan beraktivitas tanpa kekurangan suatu apapun.

Mungkin untuk teman-teman yang ingin ikut bergabung di dalam komunitas kecil kami, boleh kami dicolek-colek di twitter dengan ID @RumahDKK atau juga follow Instagram kita RumahDKK untuk melihat beberapa kegiatan yang sudah pernah dilakukan. Yang ingin ikutan membantu boleh langsung mention aja di Twitter ya, adminnya baik dan gak gigit kok :D.

Photo 4-26-17, 22 24 44

“Don’t give to get. Give to inspire others to give”

Advertisements

Semoga Jakarta Baik-Baik Saja.

Setelah sekian lama saya absen menulis dengan bebagai alasan dan salah satunya tentunya karena saya sedang sangat sibuk, akhirnya hari ini saya kembali menulis lagi. Dan mungkin kali ini tulisan yang akan saya angkat adalah tentang hal yang sebenarnya mungkin juga sudah banyak dibahas di blog lain atau sedang hangat dibicarakan di social media.

Pesta demokrasi baru saja kembali diadakan di Jakarta, putaran kedua. Setelah putaran pertama dimenangkan oleh pertahana dan melengserkan satu dari tiga calon pasangan gubernur dan wakil gubernur yang akan memiliki amanat untuk menjaga keamanan, keberagaman dan membangun Jakarta sebagai ibukota pemerintahan Indonesia. Dan sebenarnya bukan rahasia juga kalau sebenarnya saya menjagokan pertahana. Bukan, bukan karena kami sama rasnya. Bukan juga karena kami seagama namun karena saya melihat program-program yang beliau jalankan dan beliau rancang merupakan sebuah program yang baik untuk menaikkan strata kehidupan masyarakat Jakarta dan juga membangun Jakarta agar tidak kalah dengan kota-kota di negara lain di dunia. Saya merasakan juga banyak perubahan dalam sistem administrasi yang tidak lagi bertele-tele dan saya tidak perlu keluar uang banyak agar dokumen saya cepat selesai. Menuju perubahan baik memang tidak mudah, namun perubahan itu kemudian menjadi jelas terlihat. Perlahan, namun pasti. Saya sebagai warga Jakarta yang berangkat pagi dan terkadang pulang sangat malam pun merasa aman. Ada jaminan keselamatan dan keamanan dari pemerintahan yang pertahana lakukan selama beliau menjabat.

Ketika saya menuliskan ini dan ketika dibaca mungkin akan terasa seperti I am such a sore loser yang belum move on ketika jagoannya kalah. Kemarin saat hasil quick count yang disiarkan dari berbagai televisi nasional sudah muncul, hati saya sedih namun mungkin saya masih terlalu kaget untuk menyadari bahwa ada hal-hal lain mungkin terjadi karena etnis saya yang dianggap musuh di Jakarta. Saya bahkan masih sempat mengatakan kepada salah satu teman yang begitu sedih karena pertahana kalah dari pasangan lain dengan ‘Ya udah gpp juga, beliau yang kalah aja ikhlas. Mari kita doakan yang baik-baik untuk Jakarta dan semoga amanah juga untuk pemimpin baru Jakarta.’ Namun kemudian ketika dua hari berturut-turut di Jakarta akhirnya saya kembali mengalami pelecehan verbal hanya karena saya terlihat tidak pribumi maka saya kemudian mempertanyakan mengenai keselamatan saya sebagai warga Jakarta.

Kemarin malam saat saya sedang membeli makan malam di salah satu sudut Jakarta sendirian saya cukup bergidik ngeri juga karena ada sekelompok orang yang berteriak-teriak ‘Hey Cina, gak mau coba pergi aja pulang kampung ke Cina?’ Rasanya ingin juga saya teriak balik ke mereka bahwa saya memegang KTP Jakarta dan Paspor Indonesia. Saat saya menyebrang jalan pun ada kelompok lain yang berteriak ‘Eh ada kafir lewat, kasih jalan! Pasti masih sedih bapaknya kalah kemarin.’ Saya pun rasanya ingin berteriak balik ke mereka bahwa tidak saya bukan seorang kafir karena saya beragama dan rajin beribadah sesuai dengan ajaran agama saya. Namun saya pikir yang seperti mereka sebaiknya jangan diberi panggung dan tidak perlu juga saya tersulut emosi karena saya juga tidak kenal mereka. Saya hanya mempercepat langkah saya untuk segera sampai di mobil dan bergegas untuk pulang.

Setelah beberapa kejadian yang saya alami secara personal, saya kemudian mengkhawatirkan keselamatan dan keamanan saya sebagai warga Jakarta. Saya tidak pernah memilih untuk terlahir dengan fitur fisik yang mengindikasikan bahwa saya bukanlah pribumi dan merupakan keturunan Chinese. Kalau saya bisa memilih seperti apa saya terlahir, pastilah saya memilih untuk terlihat seperti Scarlett Johansson. Saya juga orang Indonesia, besar dan menjalani hidup di Jakarta. Jadi mengapa yang pribumi masih harus membedakan dan melakukan tindak pelecehan secara verbal? Bukankah kita semua sama? Saya juga hanya pekerja biasa dengan penghasilan yang pas-pasan di Jakarta ini.

Beberapa waktu lalu kita sempat merasa kasihan dengan Amerika yang sedang mengalami perubahan dengan terpilihnya Donald Trump menjadi presiden mereka. Ternyata saat ini Indonesia terutama Jakarta pun mengalami hal yang sama. Saat ini saya hanya bisa berdoa agar Jakarta bisa selalu baik-baik saja. Dan menjaga diri saya semampu mungkin untuk menjauh dari area-area yang memang kurang aman dan tidak berjalan-jalan di sudut Jakarta sendirian.

Semoga semua hal-hal buruk ini hanya sementara dan Jakarta semakin membaik. Amin