Harapan Dalam Gelap

Gelap itu tidak selalu berarti sedih.
Karena terkadang menurutku gelap itu bisa berarti kontempelasi, entah terhadap hidup, kepada kenyataan atau mungkin bahkan kenyataan hidup.
Sering kali aku berusaha mencari kedamaian di dalam gelap.

Ada monster di dalam gelap katanya. Tapi sering kali aku merasa bahwa aku lah monster tersebut. Akulah yang seharusnya perlu ditakuti karena aku punya pikiran paling aneh dan paling mengerikan. Akulah yang seharusnya perlu ditakuti karena bahkan terkadang diriku sendiri tidak dapat menjaga kewarasanku.

Gelap itu berarti banyak hal dan aku menyukai gelap. Aku menikmati gelap.
Menakutkannya, aku dapat menjadi diriku sendiri di dalam gelap.
Menakutkannya, aku dapat melakukan apapun di dalam gelap.
Menangis, tersenyum, tertawa terpingkal-pingkal, diam menatap gelap, bersenandung di dalam gelap, berkhayal tentang masa depan, memikirkan keadaan sekarang.
Menakutkannya, aku menemukan kenyamanan di dalam gelap.

Terkadang aku bisa melihat setitik cahaya di dalam gelap.
Aku mengibaratkannya cahaya harapan. Sangat jauh, tidak dapat diraih namun selalu dapat dilihat.
Cahaya itu kemudian aku jadikan sebuah motivasi. Agar aku selalu mau bangkit dari keterpurukan yang sering aku rasakan di dalam gelap. Agar aku mau selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi. Agar aku mau berusaha lagi untuk mendekat ke pusat cahaya tersebut. Dimana? Sampai kapan? Aku tidak tahu, namun setidaknya aku berusaha.

Aku jadi ingat sebuah kutipan dari buku yang hingga saat ini masih membuatku tersenyum apabila mengingatnya.

Mimpi, cita-cita, keyakinan, apa yang ingin dikejar, biarkan ia menggantung 5 cm agar tidak pernah lepas dari matamu.. – 5 cm Donny Dhirgantoro

Maka titik cahaya yang sering aku lihat dalam gelap itu akan selalu aku letakkan di depan mataku aku tidak pernah lepas, akan selalu aku percaya. Agar aku selalu dapat berdiri lagi saat aku terjatuh dan aku akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, kapanpun.

Mati Imaji

Sedang mati imajinasi.
Sedang mati kata.
Nampaknya sudah begitu lama otakku menolak untuk merangkai kata. Sekalinya ada, rangkaian kata itu bahkan tidak dapat aku selesaikan.

Maka akan saja selalu ada alasan yang akan aku keluarkan ketika ada pertanyaan dari kawan ‘kenapa belum menulis lagi?’
Segan rasanya untuk mengatakan bahwa aku sedang tidak ada inspirasi.
Malu rasanya untuk menjabarkan bahwa aku kehabisan ide.
Padahal kemanapun mata memandang selalu ada inspirasi yang bisa muncul. Akan selalu ada hal yang bisa ditulis.

Katanya rutinitas itu membunuh imajinasi, tapi menurutku rutinitas itu dapat membuat rangkaian kata-kata indah. Tapi itu jugaa masih kataku dan menurutku. Karena pada kenyataannya aku si pelaku rutinitas juga masih gagal untuk menorehkan ide dan menumpahkan imajinasi. Jadi apa? Dibiarkan saja?
Mungkin aku butuh waktu tenang, sampai aku bisa mengumpulkan semua imajinasi lagi hingga akhirnya rangkaian kata itu akan mengalir dengan deras dan lancar. Atau mungkin aku harus menunggu sampai ada badai inspirasi lagi hingga akhirnya aku akan menulis tanpa henti.

Tapi baiknya ditunggu? Atau lebih baik diusahakan saja?

Tanpa Resolusi

Memulai tahun baru biasanya penuh dengan resolusi bukan? Dengan harapan-harapan baru dan rencana-rencana baru untuk sepanjang tahun yang baru.
Tapi aku memulai tahun 2017 tanpa resolusi, karena tahun-tahun yang lalu saja saya masih ada rencana yang belum selesai.

Sudah beberapa tahun berlalu dan saya menjalani hidup tanpa resolusi. Bukan karena saya menyerah dengan hidup, namun mungkin perlahan menjadi apatis karena memang tidak akan ada perubahan yang drastis juga dalam hidup ini.
Mungkin karena saya juga bertambah dewasa, karena nyatanya kehidupan juga akan selalu seperti ini.

Ada beberapa rencana yang sudah saya siapkan untuk tahun ini. Saya juga harus berjuang lebih keras tahun ini. Walau tanpa resolusi, saya berharap tahun ini akan berjalan baik-baik saja.

Semoga.