Bukan Pemaaf

Maaf, ternyata aku bukan seorang pemaaf.
Butuh waktu berminggu-minggu untuk aku menghilangkan amarah dan berusaha melupakaan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan.
Memaafkan ternyata masih merupakaan hal sulit untuk dilakukan.

Maka maaf, aku bukan pemaaf.
Aku masih menyimpan segala marah dan sakit hati, walau aku tutupi dengan segala senyum.

Advertisements

Bersyukur

Hari ini aku menghabiskan setengah hariku tertawa. Tapi tawa yang palsu.
Aku bersyukur bahwa aku masih punya kekuatan untuk memalsukan tawa.
Setidaknya dari semua perasaan kacau balau yang aku punya aku masih dapat tersenyum walau palsu.
Dunia tidak perlu tau apa yang sedang terjadi dan apa yang aku rasakan.
Yang lain tidak perlu tau apa yang sedang aku pikirkan.
Aku hanya harus terus membangun gambaran bahwa semua baik-baik saja. Bahwa aku pasti bisa melewati semua hal dengan baik.

Di keadaan seperti sekarang rasanya aku sulit sekali untuk bersyukur.
Terlalu banyak hal yang sedang aku alami dan terlalu banyak perasaan yang menurutku begitu melelahkan.
Tapi aku harus beryukur karena setidaknya masih bisa memalsukan tawa, masih bisa merasa.
Terutama aku harus bersyukur, karena masih ada orang-orang yang peduli.
Aku bersyukur karena masih ada kamu.