Janji-Janji Palsu

Sulit itu mendengar janji-janji dari orang lain setelah dikecewakan olehmu.
Aku tidak pernah mengerti, mengapa aku begitu percaya dan berharap dari janji-janji manis yang pernah terlontar dari mulutmu.

‘Aku janji aku bakal sayang kamu terus, yang.’
Sebuah janji yang pernah membuatku senyum berhari-hari. Harapanku terbang melayang mendengar hal itu. Saat cinta masih bersemi. Saat aku masih merasa bahwa dunia hanya milik kita berdua. Selamanya akan begitu.


Namun kemudian, sebuah janji manis berubah menjadi janji yang menyakitkan.

‘Aku janji aku gak akan berbuat gitu lagi, yang..’
Sebuah janji yang kamu katakan ketika aku memergokimu sedang berdua dengan perempuan lain. Perempuan yang kamu katakan hanya sahabat. Teman dekat, begitu katamu. Dia suka berkeluh kesah kepadamu, begitu katamu. Dia butuh teman, begitu katamu. Dia butuh support karena sedang mengalami masalah pelik, begitu katamu. Dan aku adalah manusia bodoh yang selalu percaya dengan apa katamu. Maka kali itu aku maafkan kamu dan aku berusaha untuk mengerti posisi orang lain itu, yang katanya hanya teman.


Namun kemudian, sebuah janji yang tidak semanis dulu berubah menjadi janji yang lebih memilukan.

‘Aku janji aku gak akan pukul kamu lagi, yang..’
Sebuah janji yang kamu katakan ketika aku sudah tersungkur jatuh di lantai. Aku masih belum dapat mencerna dengan logika apa yang terjadi. Aku masih belum dapat memahami apa yang telah terjadi. Belum pernah sebelumnya kamu memukulku. Belum pernah sebelumnya kamu melemparku dengan beda apapun. Rumah ini sekarang sudah seperti area perang. Tidak lagi aman, tidak lagi nyaman. Aku takut. Tapi entah apa yang membuatku percaya lagi dengan janjimu. Maka kali itu aku anggukkan kepalaku dan berusaha untuk bangkit. Dari sakit yang kali ini bukan hanya datang dari perasaan.

………..
Hingga akhirnya aku lelah dengan semua janji-janji yang pernah kamu ucapkan. Hingga akhirnya aku bosan dengan semua alasan yang kamu berikan untuk sebuah justifikasi diri. Dirimu yang kamu anggap begitu baik dan begitu sempurna. Dirimu yang begitu aku cintai, namun begitu menyakitkan.
Apakah memang cinta sebegini menyakitkan? Apakah memang sudah karmanya untuk aku melalui semua rasa sakit ini?

Tapi katanya tidak ada yang pantas untuk dilukai oleh cinta. Karena walau cinta menyakitkan, akan tetap tersemat sedikit bahagia. Tidak lagi kutemukan bahagia. Tidak lagi kudapatkan perasaan nyaman. Aku takut. Takut dengan sosokmu, takut dengan keberadaanmu. Aku tidak mau lagi ada di dekatmu.

Maka aku putuskan untuk pergi. Tidak lagi percaya dengan janji-janjimu.
Janji-janji yang ternyata palsu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s