Saya Mohon..

Sampai hari ini saya masih belum terpikir kenapa sering kali manusia berbuat sangat jahat kepada mahkluk lain. Ketika manusia diciptakan paling sempurna oleh Tuhan. Diberikan budi dan pikiran yang paling sempurna oleh Tuhan, namun kita malah menggunakannya dengan superioritas.

Kemarin malam saya pulang agak terlambat dari pekerjaan saya dan harus kembali berjibaku dengan macet yang nampaknya makin tidak mengenal waktu di Jakarta. Saya sibuk bernyanyi sambil bermain game untuk menghilangkan bosan dan menghalau kantuk yang menyerang karena lelah. Tiba-tiba mata saya terbelalak, melihat seekor anjing yang begitu ketakutan dan tampak sekali kelaparan berada di tengah-tengah pembatas jalan di tol yang ramai sekali. Seketika jantung saya berhenti berdetak dan serta merta saya membuka jendela mobil saya untuk memastikan bahwa yang saya lihat benar-benar seekor anjing. Setelah saya yakin bahwa itu seekor anjing, insting saya langsung berteriak; saya buka pintu mobil saya dan berusaha saya datangi anjing itu untuk saya bawa pulang saja. Namun sayang sekali anjing itu nampaknya begitu ketakutan dengan manusia dan berlari menjauh. Saya masih sempat berusaha mengejar anjing itu, namun ia berlari semakin jauh, sedangkan mobil saya yang terbuka dan kosong juga tidak mungkin saya tinggalkan begitu saja. Maka dengan berat hati, menahan tangis dan amarah saya berjalan kembali ke arah mobil saya. Sambil tidak henti saya menoleh kebelakang, berharap anjing itu kembali ke arah saya.

Sesampainya saya di mobil saya marah bukan main. Sedih bukan main. Emosi saya seperti diaduk-aduk, saya menyesal sekali tidak dapat membantu anjing yang sangat membutuhkan bantuan itu. Saya marah, kenapa ada yang tega membuang binatang di jalan tol. Anjing itu sudah dapat dipastikan 90% tidak akan selamat. Saya sedih, karena saya tidak dapat berbuat banyak. Kondisi saya yang sendirian dan tidak mungkin meninggalkan mobil di jalan tol membuat saya merasa menjadi sangat tidak berguna sebagai manusia. Mengapa saya tidak dapat menyelamatkan anjing malang itu? Mengapa saya begitu penakut untuk berjalan lebih jauh untuk mengejar anjing itu? Saya terus menerus berpikir dan berpikir, saya terus menerus menyesal. Bahkan hingga saat ini, saya menuliskan cerita ini saya menyesal bukan kepalang karena saya tidak berhasil menyelamatkan anjing itu. Tadi pagi ketika saya berangkat bekerja melewati jalan tol yang sama, saya berusaha menyisir pembatas jalan tol itu, berharap saya melihat anjing itu lagi masih hidup. Namun harapan saya masih sia-sia.

Saya tahu, tidak semua orang menyukai binatang. Sebagian besar orang Indonesia takut dengan anjing. Saya paham, tidak masalah. Tapi saya mohon dengan sangat, jangan pernah untuk memutuskan memelihara binatang kemudian memutuskan untuk tidak lagi mau memelihara mereka kemudian hari, dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Ketika kita memutuskan untuk memelihara binatang, apapun jenis binatang itu, maka hidup mereka akan bergantung kepada kita. Dan apapun keadaan yang kemudian akan terjadi pada hidup kita, maka hidup mereka adalah tanggung jawab kita hingga akhir hayat mereka. Binatang peliharaan itu bukan seperti boneka yang apabila kita sudah bosan kemudian bisa kita letakkan begitu saja di dalam gudang atau kita lempar ke tong sampah. Mereka hanya mengenal kita dan percaya pada kita. Bayangkan Anda hidup, bergantung dan membutuhkan orang lain kemudian Anda dibuang begitu saja tanpa bantuan ke jalanan.

Saya mohon dengan sangat, jangan pernah memutuskan untuk memelihara binatang karena sedang pacaran dengan seseorang dan mendadak ingin merawat seekor binatang karena itu seperti tanggung jawab bersama. Kemudian ketika Anda putus dari hubungan itu anjing itu akhirnya dibuang begitu saja. Saya mohon dengan sangat, jangan pernah memutuskan untuk memelihara binatang karena mereka terlihat lucu saat mereka masih kecil dan ketika mereka sudah menjadi lebih besar dan tidak lagi terlihat lucu dan akhirnya meninggalkan mereka atau membuang mereka.

Saya mohon, hidup mereka bukan mainan. Hidup mereka sama pentingnya dengan hidup kita. Bukan berarti kalau mereka binatang maka mereka lebih rendah daripada kita manusia. Saya mohon, jadilah manusia yang juga peduli terhadap kehidupan mahkluk lain.

Hingga saat ini saya masih memikirkan anjing malang itu, dan kemudian saya jadi terpikir dengan nasib-nasib anjing lain. Sungguh, kalau saya mampu akan saya pelihara semua binatang terlantar itu. Semoga suatu hari nanti saya akan dapat menampung dan memelihara semua yang terlantar.

Memperbaiki Diri

Belakangan ini aku sedang sering memakai rok.
Entah mengapa, belakangan ini aku sedang rajin berdandan. Belum tahu sih akan bertemu dengan siapa dan berdandan untuk siapa, namun aku sedang rajin mempercantik diri. Mungkin hanya sebagai bukti bahwa aku juga bisa cantik.

Aku sedang sering mampir ke pusat kebugaran tubuh.
Aku sedang rajin lari dari di atas treadmill, aku rasa itu seperti berlari menjauh dari masalah hidupku. Padahal hanya lari di belt berjalan, tidak maju tidak juga mundur. Entah untuk apa aku rajin berolahraga, mungkin untuk mempersehat diri. Atau mungkin aku sedang ingin terlihat seksi, tapi masih entah untuk siapa.

Belakangan ini aku juga sedang rajin belajar tersenyum.
Entah mengapa dan entah untuk apa. Tapi katanya senyum merupakan riasan terbaik untuk manusia. Karena aku sedang merasa seperti manusia, maka aku sedang rajin tersenyum. Agak melelahkan ternyata, karena ketika sedang tidak ingin tersenyum pun, karena aku sedang berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik aku berusaha untuk tersenyum kepada siapa saja.

Tepatnya aku sedang belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Aku sedang memperbaiki diri. Menjadi seseorang yang lebih baik, menjadi seseorang yang lebih berguna, menjadi seseorang yang lebih menyenangkan. Bukan karena aku tidak puas dengan keadaanku sebelumnya, namun sejak ada kamu aku merasa bahwa aku perlu untuk menjadi seseorang yang lebih baik.

Sudahkah aku menjadi lebih baik? Mungkin belum.
Tapi rasanya aku ingin menjadi seseorang yang terbaik untukmu.

Unsweetened Coffee

Aku tidak pernah suka makanan atau minuman manis.
Buatku, rasa manis itu merusak seluruh rasa yang ada. Bahkan menurutku manis itu membunuh.
Seperti minum kopi, aku selalu memilih untuk meminum kopi pahit. Meskipun itu latte sekalipun. Menurutku hidup itu pahit, maka jangan pernah memberi harapan dengan rasa manis.

Aku jadi ingat sebuah cerita. Sebuah malam dulu, ketika aku sedang menghabiskan waktu di salah satu esplanade dekat tempat tinggalku dengan seorang kenalan seperti biasa aku memandangi jalanan yang saat itu sedang ramai ditemani segelas kopi hitam pahit. Kemudian si kenalan ini meraih gelas kopiku dan mencicipi kopi tersebut. Serta merta ia langsung mengembalikan gelas kopiku dan berteriak tentang bagaimana tidak enaknya kopi itu. Aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa begitulah aku suka menikmati kopi, sama seperti aku menikmati hidup.

Getir katanya. Namun begitulah hidup bukan? Rasa getir.
Bagaimana saja saya memberikan rasa terhadap hidup. Namun apabila memang kita bisa menikmatinya walau getir, mengapa tidak?

Uncategorized

Menurut saya hidup itu layaknya sebuah database.
Perlu dikategorisasi.
Perlu disesuaikan.
Tapi seringnya di dalam hidup yang serampangan (read: hidup saya) ini, banyak hal yang tidak sempat dan tidak dapat dikategorisasikan.

Ketika setiap hari yang saya lakukan hanya rutinitas mencari kebutuhan untuk hidup. Bangun-Mandi-Bekerja-Bekerja-Bekerja-Tidur dan kembali mengulang hal yang sama lagi keesokan harinya, nampaknya saya tidak memiliki ruang untuk mengisi kehidupan saya dengan kegiatan lain lagi selain bekerja. Mencari sesuap nasi dan segenggam berlian, begitu katanya. Namun nampaknya yang terjadi lebih sering mencari sesuap nasi daripada mendapatkan berlian. Saya menyisakan ruang yang sangat sedikit untuk menikmati hidup kata teman-teman saya. Yang tidak mereka sadari adalah bahwa dengan saya bekerja dan bekerja, saya sedang menikmati hidup. Tentunya, saya pun mengeluh ketika saya terlalu lelah. Ketika saya kurang tidur. Ketika saya merasa bahwa saya bosan terus menerus bekerja. Tetapi meskipun begitu, yang akan saya lakukan adalah kembali bekerja.

Menurut saya bekerja itu semacam pelarian dari kehidupan saya yang uncategorized ini. Tapi meskipun dianggap uncategorized, saya menikmatinya. Saya menikmati keadaan dimana saya tidak ada waktu untuk berfikir negatif tentang kehidupan. Saya menikmati keadaan dimana yang bisa saya pikirkan hanyalah pekerjaan dan pekerjaan bukan kehidupan pribadi saya yang serampangan.

Ada lagi hal yang saya nikmati dari hidup saya yang uncategorized ini.
Bahwa saya menikmati setiap detik, menit dan jam yang saya miliki ketika akhirnya saya memutuskan untuk rehat sejenak. Duduk berdiam dengan segelas latte dingin, dengan buku bacaan dalam genggaman bersama dengan orang tersayang merupakan hal yang sangat saya tunggu.

Beruntung saya memiliki dia yang tidak menuntut waktu dan perhatian terlalu banyak. Yang penting dia tahu, bahwa semua yang saya lakukan saat ini adalah untuk masa depan. Entah yang mana. Tapi seluruhnya untuk kebaikan.

What Makes You Want Me?

What makes you want me?
I need you to want me as much as I want you.
It hurts. Hurts so bad when all I feel are rejections.
Rejection after rejection.

What should I do to make you want me?
What kind of things that will make you want me?

Should I dress up like those girls?
Or should I be geeky and read a lot of financial books?
Should I do make up like those people?
Or should I wear casual shirts all the time?
Should I be quiet and mysterious?
Or should I keep talking and ask you about your daily life?

What should I do to make you want me?

Ego

Ego itu katanya merupakan musuh terbesar manusia. Tapi entah kenapa kali ini aku ingin menjadi egois. Aku lelah kehilangan. Rasa menyakitkanya terlalu menyakitkan dan terkadang tidak bisa aku pahami. Aku tidak menyukai hal-hal yang tidak bisa aku pahami.

Menjadi egois itu ternyata tidak menyenangkan juga. Tapi toh aku juga bukan manusia yang baik dari awal. Ada banyak sekali hal-hal buruk yang aku lakukan di dunia ini. Aku bahkan sering berharap beberapa manusia hilang dari muka bumi ini. Aku bahkan sering sekali beranggapan apabila banyak manusia hilang dari muka bumi ini maka kehidupan di bumi tidak akan sebegitu sulit seperti sekarang.

Aku ingin jadi egois. Aku ingin memiliki kamu. Aku ingin kamu hanya untukku.
Aku tau itu hal yang sangat menyebalkan. Tapi aku tidak ingin kehilangan kamu.
Bolehkah aku memiliki kamu? Selamanya? Karena aku sudah lelah kehilangan. Aku sudah lelah merasakan sakit.

Karena aku ingin bahagia.
dan bahagiaku; kamu.

Tanpa Kamu

Aku tidak pernah ingin lagi pulang ke rumah tanpa kamu.
Aku tahu itu terdengar sangat manja dan menyebalkan, tapi rasanya hidupku tidak pernah lengkap tanpa kehadiranmu.

Tidur malamku tidak lagi nyenyak tanpamu disisiku.
Aku selalu kedinginan tanpa pelukmu di malam hari. Walau sudah ada selimut tebal yang menggelung tubuhku, namun itu rasanya tidak sama.
Tidak ada bisikan selamat malam ditelingaku sebelum akhirnya kamu mengecup dahiku dengan hangat.
Tidak ada dengkuran halusmu saat malam yang sering aku dengarkan diam-diam ditengah kantukku.
Tidak ada sapaan selamat pagi darimu saat aku bangun pagi hari.

Sungguh, aku tidak mau lagi pulang ke rumah tanpa kamu.
Aku hanya ingin selalu pulang ke pelukanmu. Dan dimanapun itu tempatnya, selama ada kamu maka itu akan menjadi rumah untukku.

Janji-Janji Palsu

Sulit itu mendengar janji-janji dari orang lain setelah dikecewakan olehmu.
Aku tidak pernah mengerti, mengapa aku begitu percaya dan berharap dari janji-janji manis yang pernah terlontar dari mulutmu.

‘Aku janji aku bakal sayang kamu terus, yang.’
Sebuah janji yang pernah membuatku senyum berhari-hari. Harapanku terbang melayang mendengar hal itu. Saat cinta masih bersemi. Saat aku masih merasa bahwa dunia hanya milik kita berdua. Selamanya akan begitu.


Namun kemudian, sebuah janji manis berubah menjadi janji yang menyakitkan.

‘Aku janji aku gak akan berbuat gitu lagi, yang..’
Sebuah janji yang kamu katakan ketika aku memergokimu sedang berdua dengan perempuan lain. Perempuan yang kamu katakan hanya sahabat. Teman dekat, begitu katamu. Dia suka berkeluh kesah kepadamu, begitu katamu. Dia butuh teman, begitu katamu. Dia butuh support karena sedang mengalami masalah pelik, begitu katamu. Dan aku adalah manusia bodoh yang selalu percaya dengan apa katamu. Maka kali itu aku maafkan kamu dan aku berusaha untuk mengerti posisi orang lain itu, yang katanya hanya teman.


Namun kemudian, sebuah janji yang tidak semanis dulu berubah menjadi janji yang lebih memilukan.

‘Aku janji aku gak akan pukul kamu lagi, yang..’
Sebuah janji yang kamu katakan ketika aku sudah tersungkur jatuh di lantai. Aku masih belum dapat mencerna dengan logika apa yang terjadi. Aku masih belum dapat memahami apa yang telah terjadi. Belum pernah sebelumnya kamu memukulku. Belum pernah sebelumnya kamu melemparku dengan beda apapun. Rumah ini sekarang sudah seperti area perang. Tidak lagi aman, tidak lagi nyaman. Aku takut. Tapi entah apa yang membuatku percaya lagi dengan janjimu. Maka kali itu aku anggukkan kepalaku dan berusaha untuk bangkit. Dari sakit yang kali ini bukan hanya datang dari perasaan.

………..
Hingga akhirnya aku lelah dengan semua janji-janji yang pernah kamu ucapkan. Hingga akhirnya aku bosan dengan semua alasan yang kamu berikan untuk sebuah justifikasi diri. Dirimu yang kamu anggap begitu baik dan begitu sempurna. Dirimu yang begitu aku cintai, namun begitu menyakitkan.
Apakah memang cinta sebegini menyakitkan? Apakah memang sudah karmanya untuk aku melalui semua rasa sakit ini?

Tapi katanya tidak ada yang pantas untuk dilukai oleh cinta. Karena walau cinta menyakitkan, akan tetap tersemat sedikit bahagia. Tidak lagi kutemukan bahagia. Tidak lagi kudapatkan perasaan nyaman. Aku takut. Takut dengan sosokmu, takut dengan keberadaanmu. Aku tidak mau lagi ada di dekatmu.

Maka aku putuskan untuk pergi. Tidak lagi percaya dengan janji-janjimu.
Janji-janji yang ternyata palsu.

Aku Heran..

Aku heran, kenapa pula kamu masih sibuk dengan masa lalumu?
Masa lalu yang seharusnya sudah kamu lupakan dari kemarin-kemarin.
Masa lalu yang kata kamu menyakitkan namun masih juga kamu ingat-ingat.
Mungkin kamu adalah manusia masochist yang sangat menikmati sakit?
Bukankah aku manusia masochist itu?

Aku heran, kenapa pula sampai saat ini kamu masih sibuk membicarakan dia?
Dia yang kemarin katamu sudah melukai hatimu.
Dia yang kemarin katamu ingin kamu lupakan selamanya.
Dia yang kemarin katamu lebih baik tidak kamu kenal.
Mungkin kamu sebenarnya masih sayang?

Aku bahkan sampai saat ini masih tidak mengerti apa yang menyebabkan kamu terjebak dalam masa lalu. Bahkan masa lalu yang tidak menyenangkan. Memangnya apa yang berusaha kamu cari? Apa yang masih berusaha kamu pertahankan?

Aku heran, padahal sudah ada aku yang menemani kamu. Namun nampaknya aku masih belum nampak di matamu. Semoga kamu segera sadar, bahwa sudah ada aku.
Aku yang dapat memberikan bahagia.