#BookofTheWeek

I want to grow up but my soul doesn’t seem to be very excited about it.
Maybe she’s lying.
She’s just a soul.
One day she says, ‘Get up, lazy ass!! You have to live your day proud and loud!’ but another day she whispers, ‘so tired, can we just stay at home all day, call in sick, write an ugly story and be a busy being invisible?’ I can’t control her.
I’m just a body
She’s the thinker.
She’s so inconsistent and always has this thirst for attention and celebration for herself.
She makes me busy seeking for distractions.
She never counts me in he future plans, she’s too busy shouting meaningless motivational sentences or killing my confidence in a very low whisper, like wind in December, ‘You’re not good enough.’

The Book of Forbidden Feelings – Lala Bohang 2016

Advertisements

Sisa Hujan Kemarin

Hujan itu menyenangkan.
Hujan itu menenangkan.
Hujan itu tempat bersembunyi rahasia kasat mata yang bisa menjadi tempatku meluapkan rasa.
Selalu ada cerita yang datang saat hujan turun, dan biasanya semuanya bermula dari secangkir kopi hangat pahit seperti kemarin.

Entah kenapa kopi pahit selalu bisa menjadi teman yang menyenangkan untuk memulai aktivitas. Dan sekali lagi sore itu bersama dengan hujan yang turun membasahi bumi aku berusaha untuk menulis. Menulis di atas notebook yang selama ini hanya teronggok di atas rak buku. Menulis di atas notebook yang hampir tidak pernah mau aku sentuh karena itu merupakan notebook pemberian darimu. Aku selalu suka dengan notebook. Ya, buku tulis. Entah kenapa memiliki banyak buku tulis sangat menyenankan untukku. Aku sangat menyukai menulis di dalam buku dengan tulisan tanganku yang tidak seberapa bagus itu. Menurutku, itu merupakan terapi yang sangat menyenangkan. Namun sejak mengenalmu, aku berusaha untuk tidak lagi menulis. Karena akhirnya malah aku hanya sibuk mengingat masa lalu.

Aku pandangi buku kosong itu. Aku mulai sibuk menggigit-gigit ujung pena yang baru saja aku beli di toko buku terkemuka dengan harga yang cukup fantastis. Aku pikir mengapa tidak aku coba berinvestasi pada sebuah pen bagus yang mungkin dapat menuliskan sebuah masterpiece di dalam perjalanan sejarah menulisku. Sebuah pena hitam dengan ulir berwarna keemasan. Perlahan mulai aku coretkan juga tinta hitam itu ke atas kertas halus berwarna putih itu. Kata demi kata aku alirkan, terkadang aku harus juga mencoret beberapa kata karena aku anggap tidak tepat. Kurang mendeskripsikan apa yang ada di kepalaku.

Kamu tahu? Mereka bilang menulis sekarang tidak perlu lagi di dalam notebook. Aku hanya perlu mengetiknya di atas tuts komputer dan menyimpannya di dalam memori komputer yang serba canggih itu. Ah! Tapi aku masih suka menulis di dalam notebook karena ada usaha lebih yang harus aku lakukan. Belum lagi, apabila aku tidak terus latihan menulis mungkin satu hari nanti aku akan lupa caranya menulis.

Anak kecil diujung sana tersenyum memerhatikan hujan.
Segerombolan anak muda sedang berlari menerjang hujan untuk menyebrangi jalan. Nampaknya mereka akan pergi makan siang.
Ada seorang perempuan dengan wajah sendu yang sedang memerhatikan tetesan demi tetesan hujan sambil menggenggam cangkir gelas dari kedai kopi kenamaan itu. Mungkin ia sedang berusaha menghapus pedih dan penat yang ia jalani.
Ada lagi segerombolan anak kuliahan yang sedang berkutat dengan buku-buku tebal dan sibuk mengetik-ketik. Sepertinya mereka sedang belajar untuk ujian. Bagus juga masih ada pemandangan menarik seperti itu.

Aku kemudian tersenyum dan kembali menoleh ke arah hujan.
Ke hembuskan nafasku perlahan dan kembali menulis di dalam notebook yang kamu berikan itu. Kamu tahu, belum ada tema lain yang dapat aku tuliskan selain tentangmu. Masih terlalu banyak hal yang belum aku ketahui tentangmu. Masih terlalu banyak cerita tentang aku dan kamu yang belum berhasil aku rekam. Aku takut suatu hari nanti aku akan terlupa dengan kisah-kisah lucu yang kita punya.

Oleh-oleh dari sisa hujan kemarin adalah aku memutuskan untuk terus melanjutkan menulis di dalam notebook pemberian darimu. Untuk melanjutkan cerita kita, baik atau buruk. Senang atau sedih. Semua lebih baik dituliskan di dalam buku yang aku yakin akan menjadi sebuah bukti sejarah akan perjalanan hidup yang layak untuk dikenang.

Hujan masih belum berniat berhenti sore kemarin. Aku tutup juga notebook itu. Bukan karena aku lelah menulis, tapi lebih karena aku ingin membiarkan diriku penasaran. Petualangan hidup apa lagi yang baiknya aku tulis esok hari di dalam notebook ini?

Hal yang Tidak Ku Sukai Darimu

katanya kalau sedang jatuh cinta maka ada banyak hal yang akan disukai dari orang itu. Tapi aku malah kebalikannya, aku sedang belajar untuk mencintai orang apa adanya.

Maka ini adalah 3 hal yang tidak aku sukai dari kamu:
1. Kamu suka berbicara diulang-ulang
Entah kenapa itu sangat menyebalkan buatku. Aku adalah tipe orang yang mengerti dan langsung dengan mudah mengingat apa yang sudah pernah diceritakan orang. Maka ketika kamu bercerita akan satu hal berulang-ulang, rasanya seperti mendengar kaset rusak. Tapi belakangan ini aku sedang belajar untuk lebih sabar mendengarkan cerita orang lain.

2. Kamu suka mengingat hal yang seharusnya tidak diingat
Kamu itu seperti lemari gudang penuh berkas yang berantakan. Bisa tiba-tiba kamu mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan dan langsung membuatmu menjadi kesal atau sedih sendiri. Aku yang berada di sampingmu hanya bisa memandangimu bingung. Ingin membantu, tapi rasanya bodoh karena aku bukan tipe orang yang mengingat kejadian. Tapi belakangan ini aku sedang belajar untuk lebih lembut hati dan dapat juga menenangkanmu ketika kamu sedang mendadak teringat akan kenangan sedih.

3. Kamu selalu merasa kamu tidak mampu
Tahukah kamu hal yang menyebalkan dari kamu? Kamu selalu merasa tidak mampu dan tidak pantas. Entah itu hal baik atau hal buruk bagi orang lain. Tapi menurutku itu merupakan sesuatu yang sangat buruk. Menurutku semua orang dapat melakukan apa saja dan menjadi apa saja apabila mereka memiliki kemauan yang teguh. Tapi kamu selalu merasa tidak pantas karena kamu tidak seperti orang lain. Memang ada apa dengan orang lain? Memang kenapa kamu tidak pantas hanya karena kamu berbeda dari orang lain? Bukannya menjadi berbeda itu merupakan sebuah kelebihan? Tapi belakangan ini aku sedang belajar untuk menjadi lebih sabar hati untuk memberitahukan kepadamu bahwa kamu layak dan mampu menjadi apa saja yang kamu mau.

Ada bonus yang ingin aku tambahkan ke kamu. Ada satu hal lagi yang tidak aku sukai dari kamu. Aku tidak suka karena kamu tidak pernah pergi dari pikiranku dan selalu aku rindukan.

#QOTD

‘Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang karena pergaualan yang lama dan rayuan terus menerus. Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad.’ ~ Kahlil Gibran

Be Strong..

Wear your scars with pride.
Those scars are what made you today.
Those scars will be the memories that you can one day tell your children and grand children.

Be strong.
There will be challenges everyday. It is then up to you whether you want to fight or flee. But are you that weak to flee? I thought you are a warrior. I thought you are stronger than superman.

Remember to fight harder.
Remember to never give up.
You were the one that taught me to be tough.
You were the one that taught me to never give up.
People need break down sometimes. To regain power, not to be weaken.
So take your time, but remember to get up.

You are stronger than you think you are.
You will be able to do anything when you set your mind to it.
You are a warrior, in your own way.

Air Putih

Aku suka minum air putih. Menurutku itu sangat menyegarkan.
Itu adalah minuman favorit yang tidak pernah aku lewatkan setiap hari. Bukan hanya karena itu dianjurkan oleh pakar kesehatan, namun juga karena menurutku rasanya sangat unik. Banyak yang kemudian akan berkata bahwa air putih tidak ada rasanya. Air putih warnanya tidak putih melainkan bening, dan banyak lagi hal lain yang akan dibahas. Tapi aku tetap suka air putih. Bukan hanya rasanya, aku juga suka memandanginya.

Menurutku kamu mirip dengan air putih.
Bening dan menyegarkan.
Dibutuhkan setiap hari.
Dan suka juga untuk aku pandangi.

Remember When…

Remember when you told me that I am the only one for you?
Remember when you told me that you will never let me go?
Remember the time when you hold my hand tight and kiss me?
Remember when we feel like the world is ours?
Remember when we said that we are always gonna be together?
Remember when we promise to each other that we will be that happily ever after?
Remember when all we want was to be next to each other?
Remember when we always talk to each other about anything?
Remember when we said everything will be ours?
Remember when all we imagine was being together?

Maybe you won’t remember.
But I do.

Hitam Itu Bukan Warna

Hitam.
Warna kesukaanmu.
Biru.
Warna kesukaanku.

Aku tidak pernah bisa mengerti kenapa bisa ada seseorang yang menyukai warna hitam. Menurutku hitam itu bukan warna. Bahkan menurut teori warna sebagai cahaya, hitam juga bukanlah sebuah warna. Hal itu dikarenakan ketika tidak ada cahaya atau gelap, semuanya akan berubah menjadi hitap alias gelap. Tidak ada foton cahaya dalam suasana yang gelap. Karena tidak ada foton cahaya maka juga tidak ada foton warna pula. Jadi aku selalu terheran mengapa bisa seseorang menyukai warna gelap. Tapi katamu warna hitam itu melambangkan kamu dan kehidupanmu. Sebegitu gelapnyakah kehidupanmu? Tidak bisakah aku menjadi cahaya di dalam kehidupanmu?

Aku suka warna biru. Menurutku biru itu merupakan warna yang sangat menenangkan dan luas. Biru ada di warna langit dan warna lautan. Warna biru juga merupakan warna yang sangat universal bahkan cenderung aman. Ya, aku menyukai hal-hal yang aman. Secara psikologis pun katanya, warna biru merupakan warna yang dapat menambahkan kekuatan dan kesatuan serta dapat menjadi terapi untuk tubuh dan pikiran kita. Oleh karena itu aku suka sekali memandangi langit cerah yang biru yang sedikit dihias oleh awan yang berwarna putih. Atau memandangi lautan biru yang luas sambil ditemani oleh sepoi-sepoi angin di pantai. Rasanya semesta begitu baik padaku dan seharusnya aku mengembalikan segala sesuatu yang telah diberikan oleh alam.

Kesukaan kita memang berbeda.
Bahkan hal seremeh warna saja sering menjadi perdebatan bagi kita. Kamu selalu konsisten dengan warna hitam dan menolak untuk menggunakan warna lain di tubuhmu. Sedangkan aku begitu konsisten untuk memberikan pakaian warna lain agar kamu terlihat sedikit ceria. Tapi semoga perbedaan kesukaan warna ini tidak akan membuatmu lelah dengan paksaan-paksaan kecilku agar kamu mau mencoba menggunakan baju berwarna putih atau biru ya. Sungguh, kamu terlihat sangat menawan dengan kemeja biru yang aku berikan beberapa hari yang lalu. Walau wajahmu bersungut muram karena itu bukan warna kesukaanmu, namun itu terlihat sangat pas. Karena tidak seharusnya manusia setampan kamu terus bermuram karena kehidupan bukan?

Ingatkah kamu akan sebuah slogan yang dipegang teguh oleh anak-anak kekinian sekarang? You Only Live Once. Ya, kamu hanya hidup sekali. Makanya, aku mohon berhentilah untuk bermuram durja seperti janda ya. Tersenyumlah sedikit dan gunakanlah baju-baju lain yang berwarna lebih cerah.

Ah, tapi tahukah apa yang terpenting? Aku hanya ingin menjadi warna di hidupmu.
Bolehkah aku menjadi seseorang yang mewarnai hidupmu?

Justifikasi Galau

Hujan selalu menjadi justifikasi dari rasa galau.
Hari ini seharian langit menangis dan rasanya aku ingin ikut menangis entah kenapa.

Kutatapi butir demi butir air yang jatuh ke tanah. Sakitkah butiran itu ketika dia jatuh ke tanah? Ataukah bahagia yang ia rasakan karena ia dapat menjadi berkah untuk tanah yang kering? Ataukah ia hanya merasa jadi sampah karena hanya terus menerus dibuang ke tanah dari langit sana?

Mendadak sesak.
Aku harus menenangkan diriku sendiri sebelum mata ini juga menurunkan hujannya.
Akankah menjadi lega? Atau hanya menjadi tambah sesak?

Aku gelengkan kepalaku segera. Berusaha menghilangkan seluruh pikiran yang seringnya membebani. Berusaha menghalau seluruh pikiran buruk baru yang mungkin akan mendera diri lagi. Kutarik nafasku dalam-dalam, berusaha untuk mengosongkan pikiranku dan kembali menatapi hujan.

Hujan memang selalu menjadi justifikasi dari rasa galau.
Tapi mungkin kalau ditemani oleh secangkir kopi tidak akan segalau ini.
Mungkin ada baiknya untuk aku segera melangkah untuk mencari segelas kopi favorit yang datangnya dari gerai kopi kesukaan.

Tidak ada salahnya untuk sesekali galau mungkin. Namun baiknya jangan terlalu sering agar tidak disebut si penggalau.

Wanderlust-ing in You

wan·der·lust
ˈwändərˌləst
noun
a strong desire to travel.

I always wanted to travel. See different things.
Nampaknya nikmat untuk bisa melihat hal-hal yang belum pernah gw lihat. Merasakan apa yang jarang dirasakan dari kehidupan monoton di Jakarta yang gitu-gitu aja. Lari dari dunia yang sesak dan sendirian. Bebas dari lelah otak yang sering mendera karena pekerjaan yang gak berhenti-henti.

Tapi entah kenapa sejak bertemu kamu aku malas untuk beranjak dari kota yang sesak ini. Padahal aku sudah muak dengan kota ini. Penuh sesak dengan orang. Sesak dengan isi kepala orang-orang yang seringnya bebal, mau menang sendiri. Pekat dengan ego manusia yang merasa lebih penting dari yang lain. Kalau aku punya kuasa, rasanya ingin aku bumi hanguskan saja populasi manusia-manusia yang bertindak lebih buruk dari binatang itu. Tapi memang sejak ada kamu, bahkan disetiap akhir minggu aku rela untuk keluar dan berjibaku dengan kemacetan kota yang tidak sadar waktu hanya untuk bertemu denganmu.

Kamu tahu, melihat wajahmu itu seperti berkelana menuju Morocco. Itu karena guratan-guratan tegas tentang kultur yang ada di wajahmu. Belum lagi tatapan matamu yang dalamnya seperti Danau Malawi. Itu karena jernihnya matamu dengan kedalaman yang rasanya ingin sesekali aku menyelam di dalamnya. Senyummu apalagi, sinarnya seperti bintang-bintang di langit malam yang indah. Memandangi dirimu itu seperti sudah menjelajah ke berbagai daerah di dunia. Dari yang paling utara hingga ke selatan. Seperti keindahan Aurora Borealis di Islandia. Penuh warna, penuh keindahan.

Satu-satunya yang ingin kujelajahi sekarang hanyalah kamu dan duniamu. Bergelung di dalam dekap hangatmu, menyelam di dalam kedalaman matamu, berenang di palung cinta yang kamu berikan. Tak lupa melamun bersama dengan senyumanmu yang dapat membawaku pergi ke kota terpencil untuk menenangkan diri.

Karena memang bersamamu menenangkan. Karena memang bersamamu rasanya menyenangkan. Yang terpenting, bersamamu rasanya semua indah.
Bolehkah aku menjadikanmu destinasi wisata favoritku?
I just wanna go and wanderlust in you ..