Kamu pernah dengar dongeng yang bercerita tentang kura-kura yang menang perlombaan lari dengan kelinci? Entah kenapa hari ini mendadak aku ingat cerita itu ketika sedang mengingat kamu. Aku akan ceritakan sedikit inti cerita dari dongeng itu ya.

Jadi alkisah, ada seekor kelinci yang sombong dan merasa dirinya dapat berlari dengan sangat cepat. Maka seekor kelinci ini kemudian mengajak seekor kura-kura yang sedang berjalan santai untuk lomba lari. Kura-kura ini agak ragu untuk berlomba, karena ia sadar bahwa ia hanyalah seekor kura-kura yang berjalan sangat lamban, sedangkan di kelinci dapat melompat dengan sangat cepat. Namun ia pikir, ya tidak ada salahnya juga untuk dia mencoba. Tapi untung saja si kura-kura ini mau mencoba untuk berlomba dengan si kelinci yang sombong itu. Karena akhirnya si kura-kuralah yang memenangkan perlombaan itu. Mungkin kamu akan bertannya-tanya mengapa bisa, namun itu karena si kura-kura terus gigih untuk berjuang dan berjalan terus walau sangat lamban untuk sampai ke garis finishnya. Sedangkan si kelinci yang sombong itu malah asik-asik bersantai di bawah pohon rindang dengan anggapan bahwa si kura masih sangat jauh dibelakangnya.

Cerita ini mengingatkanku tentang kita.
Mereka yang berfikir bahwa kita tidak mungkin. Terlalu banyak perbedaan. Terlalu banyak masalah dan batu yang harus kita lalui.
Mereka berkata bahwa kita tidak akan bisa. Terlalu aneh. Terlalu menyakitkan kemudian.
Mereka yang menyatakan bahwa kita lebih baik tidak bersama. Karena memang seharusnya kita tidak pantas untuk bersama.
Namun kita terus berjalan dengan lamban berusaha menuju garis akhir itu. Dan lihatlah dimana kita sekarang dan hari ini.

Terima kasih karena kamu telah mau berjalan beriringan denganku si kura-kura lamban ini. Mengabaikan kelinci-kelinci sombong disekelilingmu. Aku berharap kamu punya kesabaran lebih untukku yang terkadang keras kepala ini. Mari kita melanjutkan perjalanan menuju garis finish itu.

Advertisements

Kadang langit tidak selalu terang. Sering kali langit juga lelah dan memilih untuk menjadi kelabu. Seperti hari ini, langit memilih untuk menangis sepanjang hari. Di hari yang katanya beruntung.

Selama turun temurun katanya paling baik kalau hujan turun di saat tahun baru Cina. Setiap tahun juga, aku pasti menunggu hujan yang katanya pasti akan datang karena hujan itu dipercaya membawa berkah yang luar biasa untuk rejeki kita. Kamu tau apa yang paling melelahkan dari menunggu? Itu adalah ketidakpastian dan kebosanan yang merajalela. Tapi entah mengapa sudah bertahun-tahun aku menunggu menunggu yang tidak pasti dan ternyata masih memiliki quota sabar. Padahal biasanya quota itu berbayar, namun yang ini nampaknya cuma-cuma saja untukmu.

Langit masih menangis, juga termasuk dengan raungannya yang datang dari petir yang terkadang menggelegar. Duduk disamping jendela ini membuat raungan hatiku semakin bergemuruh pula. Dimanakah kamu? Setiap hari aku selalu bertanya hal yang sama berulang-ulang. Kamu ada dimana? Sedang melakukan apa? Dengan siapa? Ingatkah kamu denganku?

Nampaknya langit hatiku tidak pernah terang semenjak kamu pergi. Ia terus konsisten berwarna kelabu dan tidak jarang menangis karena lelah. Tapi mungkin ini merupakan sebuah cara untuk melatih kesabaran.

Selamat pagi.
Dan semoga kamu berbahagia hari ini.

Hari ini aku memandang langit yang kelabu. Udara dingin yang menyergapku di pagi hari ini membuatku segera merindukan kepulan kopi hitam hangat yang biasanya menjadi pembuka hariku. Titik-titik hujan yang melukis jendela kamarku yang berembun ini seakan berbisik agar aku kembali menarik selimut dan kembali saja ke alam mimpi. Belakangan ini aku senang sekali tidur. Terlelap di alam yang membuat aku melupakan perasaan sakit yang senang menderaku. Terlelap di alam yang membuat aku lupa akan hingar bingar dunia yang bising dan membuatku sakit kepala. Terlelap di alam yang dapat membawaku kepadamu.

Tapi belakangan ini aku pun suka bangun lebih pagi. Untuk segera beranjak ke dapur dan membuat dua cangkir kopi hitam. Ya, sekarang aku membuat dua cangkir kopi hitam. Karena telah ada kamu yang juga menyukainya. Karena sekarang aku punya sebuah ritual pagi yang begitu menyenangkan: bersama denganmu menyesap kopi hitam yang begitu nikmat. Belakangan ini aku juga suka bangun lebih pagi, karena setiap kali aku membuka mata maka aku menemukan sosokmu. Sosok yang begitu nyata, begitu dekat menyelimutiku dengan pelukan. Dengkuran halusmu selalu dapat membuat aku tersenyum. Aku senang memerhatikanmu terlelap. Begitu damai. Begitu nyaman. Begitu indah. Begitu cinta. Rasanya tak kuasa aku harus beranjak dari pelukan yang begitu nyaman. Rasanya tak kuasa aku harus melepaskan selimut kasih yang begitu nyata.

Kau tau, rasanya setiap pagi aku tidak ingin cepat-cepat bergegas bangun. Rasanya aku selalu ingin berada di dalam gelungan pelukan yang dengan bertubi-tubi kau berikan tanpa henti. Rasanya aku selalu ingin ada di dalam kehangatan kasih yang tak lelah kau curahkan kepadaku.

Tahukah kamu kenapa aku begitu senang terlelap? Karena dalam lelap itu aku tau, bahwa aku berada di dalam pelukan yang aman. Bahwa aku berada di dalam cinta yang sudah tepat. Kasih yang selama ini aku rindukan. Karena akhirnya, aku menemukan seseorang yang tanpa aku sadari telah memperbaiki seluruh perasaan sesak dan sakit yang selama ini menderaku.