The same bird will always flock together.

Gw yakin banyak dari kalian yang pernah denger quote di atas. Artinya sih simple aja; bahwa tipe burung yang sama akan selalu berkumpul bersama. Secara harafiah sih mereka ngomongin burung, tapi sebenarnya bisa juga diasosiasikan sama manusia kok. Jadi tipe manusia yang sama akan selalu berkumpul bersama.

Manusia itu mahkluk yang ajaib menurut gw (and yes that includes me in it). Manusia gak pernah mau disamakan satu sama lain. Menurut mereka masing-masing individu akan memiliki perbedaan, apalagi kalau kelakukan salah satu manusia itu buruk. Mana ada manusia yang mau disamain sama yang buruk. Manusia juga selalu merasa extraordinary – unik, eksklusif, spesial, partikular, khusus. Manusia merasa mereka bisa sendiri, mereka selalu mampu sendiri, dan seringnya banyak juga manusia yang sok tau yang akhirnya menasehati manusia lain dengan pengetahuan mereka yang mereka sendiri anggap berlebih, dengan pengalaman mereka yang sudah mereka anggap banyak. Biasanya akan disertai dengan kata-kata ‘gw kan udah banyak makan asam garam’. Padahal setau gw pribadi sih garam itu asin dan bukan asam.

Tahun 2016 ini dimulai dengan agak unik. Selain bahwa di malam tahun baru gw tidur cepat, tapi juga nampaknya gw gak ada keinginan untuk membuat resolusi di tahun 2016 ini. Resolusi, belakangan ini hanya menjadi sebuah angan yang terus menerus menjadi angan tanpa hasil yang terlihat. Jadi berakhirlah gw yang memilih bahwa gw hanya ingin menjalani dan menyelesaikan target-target yang gw punya dari entah berapa puluh tahun yang lalu saja. Mudah-mudahan sih berhasil smua (please say AMEN together!).

So, balik lagi di tipe manusia; setiap manusia yang merasa unik dan extraordinary itu biasanya secara tanpa sadar akan mencari kesamaan antara satu sama lain. Seperti mencari benang merah yang kemudian akan menjadi sebuah kesempatan untuk menyombongkan diri. Gak percaya? Coba aja liat gimana pas lagi cari jodoh, pasti kerjaannya nyari kesamaan. Sama-sama suka makan nasi kah? Sama-sama suka denger dangdutkah? atau sama-sama suka selingkuhkah (ups!) Begitu akhirnya mereka menemukan kesamaan, mereka akan semakin sering berkumpul. Kemudian mereka akan heboh membicarakan orang lain yang tidak sama dengan mereka. Menjelekkan mereka yang berbeda dari mereka dan merasa superior atas apa yang mereka miliki while vice-versa also happens from the other side. Apa yang dianggap tidak sama atau tidak sesuai pasti akan digunjingkan, padahal mungkin saja tidak ada yang salah tapi hanya tidak dimengerti.

Biasanya yang hobi gosip akan berkumpul bersama ngegosipin yang dianggap jelek, sok kecakepan, sok kepinteran, gatel ngejer cowo cakep or simply gosipin suami orang yang mereka anggap gak pantes sama istrinya yang biasa aja. Yang hobinya sirik sama orang lain akan berkumpul bersama juga dan ngomongin gimana manusia lain mendapatkan kesuksesan mereka dari hasil pelet, atau hasil nipu orang. Kemudian secara alamiah akan terjadi proses eliminasi. Mereka yang dianggap kurang hits, kurang panas gosipnya atau punya pandangan yang berbeda akan dikeluarkan dari grup manusia ini dan akhirnya akan mencari grup lain dan ngomongin grup yang sebelumnya. (HA! I KNOW HOW HORRIBLE THIS SOUND. BUT FACE IT, IT’S THE TRUTH)

Pertanyaan di akhir blog ini kemudian adalah: Ada di grup mana ya gw? Kenapa manusia harus selalu merasa lebih daripada yang lain? Kenapa pandangan yang berbeda dari kita selalu dianggap salah? Kenapa kita gak mau coba mengerti apa yang manusia lain rasa/pandang?

Kenapa kita tidak memperkaya diri kita dengan mencoba kacamata dan pandangan lain dari grup manusia yang lain tanpa mencibir dan nyinyir?