Belakangan ini banyak banget gw denger orang ngomong sama gw ‘never say never, Ta’. Belakangan ini pula banyak banget hal yang gw bilang gak mungkin gw rasain, atau gak mungkin terjadi sama gw bakal terjadi kemudian malah terjadi satu-satu. Gw kayak lagi dicobai kekuatan hatinya, berapa kuat gw megang omongan gw. Seberapa kuat gw bisa bertahan bilang gak mungkin dan gak akan.

Selama ini gw selalu berjuang untuk tidak pernah benar-benar jatuh cinta. Karena balik lagi ke logika bahwa apapun yang jatuh itu pasti pecah atau rusak, begitu juga dengan cinta. Gw sampe hari ini masih suka heran sama orang yang bilang kalau dia lagi jatuh cinta banget. Sadar gak sih mereka kalau sebenarnya mereka akan segera sakit hati karena dia jatuh cinta? Sadar gak sih mereka kalau cinta itu menyakitkan? Cinta itu selalu menyakitkan. Dan gw sadar betul akan hal itu. Makanya gw sangat berhati-hati dengan siapa gw akan mencintai. Makanya gw sangat berhati-hati juga dengan siapa gw akan jatuh cinta.

Sekarang gw semacam gak berani lagi bilang gw gak akan, karena belakangan ini gw semacam terus-terusan dipaksa untuk menelan omongan gw sendiri. So let’s see where this take me, I am not willing to let go. That is for sure.

 

Advertisements

Christmas is almost here. Gak berasa juga mendadak tahun sudah hampir berakhir. Kayaknya tahun lewat begitu aja dari kehidupan gw, kayaknya tahun ini berjalan begitu aja dan bahkan gw sampe gak sadar sebenarnya apa yang terlewatkan dan gw lewatkan. Karena natal sudah hampir datang dan tape di mobil gw yang lagi memutuskan untuk ngambek aja dan cuma bisa memutarkan CD, akhirnya gw memutuskan untuk masukin CD yang berisi lagu-lagu natal. Hingga sampailah gw pada sebuah lagu dengan lirik yang sampe harus gw denger berulang-ulang.

‘Maybe we worry too much about wishing and not enough about giving’

Dari awal tahun hidup gw panik banget dengan ingin ini, ingin itu. Ingin dapetin si koko, ingin punya kehidupan normal. Ingin berjuang buat koko. Ingin merasakan perasaan yang sebenarnya gw sendiri aja gak paham. Gw terlalu terpaku dengan keinginan gw, I worry too much about wishing. I kept on praying and wishing, but then I forgotten about giving. I thought I was giving enough. I thought I was sharing enough. But have I, really?

Menyadari betapa ambisiusnya gw akan hidup dan keinginan gw, kadang-kadang gw terpaku sama satu hal dan kemudian akhirnya gw jadi selfish. Menyadari betapa mudah semangatnya gw akan satu hal, kemudian gw akan menjadi manusia yang sering meninggalkan banyak hal yang kecil dan hanya fokus sama satu hal yang gw anggap sangat penting. Tapi kadang yang gw anggap penting juga sebenarnya ga penting dan akhirnya gw salah fokus.

This year I learned about letting go. Gw selalu bilang sama diri gw sendiri bahwa gak smua hal yang gw ingin akan gw dapatkan. Nyokap gw juga selalu bilang itu sama gw, gak smua hal yang gw ingin akan gw dapatkan. Gw harus usaha dulu, gw harus berjuang dulu untuk hal-hal yang gw mau. Tahun ini gw belajar bahwa apa yang gw mau belum tentu baik buat gw, terlebih ketika gw udah tau hal itu gak baik buat gw; gw gak boleh maksain apa yang gw mau. Gw terlalu banyak berharap dan meminta, lupa bagaimana memberi dan melakukan hal baik. I forgot about random act of kindness.

Seperti kata lagunya,

‘Giving is priceless, random act of kindness.’

I should really care about giving and not about wishing. For now, I have a lot of love to give to the hopefully the right person. 🙂