Hidup itu penuh kontradiksi. Kita selalu dihadapkan sama pilihan-pilihan dan setiap pilihan ada konsekuensinya. 

Kita selalu dihadapkan sama pilihan-pilihan yang tidak mudah, dan terkadang kita akan berfikir apa yang akan terjadi if I walk the other way. 
Mungkin contoh paling simpelnya adalah ketika gw memilih untuk menghabiskan weekend gw nyakitin badan di gym. Kalau latihannya berat kayak minggu lalu, maka gw akan menghabiskan 3 hari bersumpah serapah ketika gw menggerakkan bagian-bagian tubuh gw, karena astaga sakitnya itu luar biasa. Pilihan gw adalah untuk hidup sehat, berotot, jadi kuat, bisa ketemu koko. Konsekuensinya badan sakit. Terkadang gw mikir sih, gimana kalau gw balik jadi kayak dulu. Menghabiskan weekend di rumah untuk tidur dan beristirahat. Will I be as happy as I am today? 
Jadi memang secara kenyataan hidup itu penuh dengan kontradiksi. 

Seorang sahabat kemarin berdiskusi sama gw soal kebahagiaan dalam hidup. Belakangan ini gw gampang dibuat seneng; cukup dicari sama koko aja bisa bikin gw senyum sepanjang hari dan bahkan sampai hari besoknya. Tapi sesungguhnya pandangan gw tentang bahagia itu hampir sama, bahagia ketika kita merasa tenang dan damai. When we feel tranquil with our feelings and situations. Sangat sulit untuk mendapatkan itu sesungguhnya. Karena gak ada damai yang sungguh-sungguh di kehidupan. Pasti selalu ada masalah setiap harinya, pasti ada aja kejadian yang bikin hati jadi gak damai. Mungkin karena itu ya gw sama temen gw ini cocok banget. 

Setiap pilihan memang selalu ada konsekuensinya. Misalnya juga, gw memilih untuk tetap mengajar dan menolak pekerjaan yang kemarin ditawarkan ke gw oleh salah seorang kawan. Pekerjaan itu sebenarnya sangat menggiurkan dan sangat cocok dengan gw. Gw kemarin kuliah komunikasi supaya bisa kerja di bidang itu, tapi kemudian setelah berfikir gw menolak pekerjaan itu karena berbagai macam alasan. Konsekuensinya, sampe hari ini kadang gw agak nyesel kenapa gw gak ambil aja ya kerjaan itu. Tapi balik lagi, kalau sudah memutuskan pilihan ya harus dijalani baik-baik bukan?

Setiap hari kita dihadapkan dengan pilihan-pilihan sulit. Seringnya kemudian kita termanggu dan bingung; enaknya milih yang mana, baiknya ambil yang mana. Kemudian kita menimbang-nimbang; kalau gw milih yang ini gimana, kalau kita milih yang itu gimana. 
Ketika akhirnya kita memilih, maka kita harus yakini bahwa kita sudah siap dengan konsekuensinya. Ketika akhirnya kita memilih, walaupun sering tersemat rasa menyesal kemudian tapi kita harus konsisten dengan pilihan kita. Karena menurut gw, kunci kehidupan yang bahagia adalah ketika kita konsisten dengan pilihan hidup kita. Serta bersyukur bahwa kita masih bisa dikasih akal sehat untuk menentukan pilihan kehidupan yang kita mau. 

Being consistent is the key to success. 

Have a great Wednesday people! 

Seorang anak OMK nanya sama gw di hari Sabtu setelah kita selesai Persekutuan Doa, ‘Katanya kalau kita menunggu cinta dari orang yang gak cinta sama kita, maka kita akan melewatkan cinta dari orang yang sesungguhnya cinta sama kita, ya ci?’ 
Terus gw balikin pertanyaan dia dengan sebuah pertanyaan lagi, 

‘Emang tau dari mana kalau kita melewatkan sebuah cinta?’ 
—- 

Sebenarnya gak ada yang salah dengan pertanyaan dia yang semi statement itu. Memang, sering kali kita terlalu fokus sama hal-hal yang sebenarnya gak ada maknanya di hidup kita. Misalnya seorang temen gw terlalu fokus menemukan cinta dan membuktikan cinta dia sama seorang perempuan yang padahal membuat dia jadi manusia yang tidak bersyukur dan menjauhi Tuhan. Dia sampe lupa gimana caranya untuk hidup dan tersenyum dengan benar. Dia sampe lupa gimana caranya menjalani hidup dengan benar karena dia fokus cuma sama perempuan ini yang sebenarnya merupakan masalah buat dia. Dia gak sadar bahwa banyak teman-teman dia yang berusaha membantu dia untuk jadi lebih baik tapi dia abaikan semua bantuan teman-teman dia. Hasilnya apa? Dia jadi orang yang berantakan karena terlalu fokus sama sebuah cinta yang kurang tepat. (Gw gak bisa bilang bahwa cinta itu salah, karena pengalaman hidup itu gak pernah salah) 

Sesungguhnya dalam hidup ini kita gak pernah tau apa yang disiapkan sama Tuhan untuk kita. Kita harus menjalani hidup aja sambil terus percaya bahwa Tuhan punya sesuatu yang indah untuk kita. Dalam perjalanan hidup kita, pasti kita bakal nemuin banyak banget kerikil dan gak jarang batu besar-besar yang gangguin kita. Nutupin jalan kita menuju kebahagiaan yang udah disediain sama Tuhan itu. Tapi sering kali baru kita ketemu sama sebuah batu kerikil yang merupakan sebuah cobaan kecil, kita bakal jongkok disana dan meratap. Galau. Pusing. Panik. Merasa bahwa dunia udah mau runtuh. Merasa bahwa gak ada lagi fungsinya hidup karena kita gak punya kebahagiaan. Gw dulu juga pernah merasa demikian kok. Gw merasa untuk apa gw hidup, susah mulu yang gw dapet. 
Tapi kemudian gw sadar bahwa sesungguhnya gw terlalu fokus sama hal yang salah. Gw terlalu fokus sama masalah gw. Gw terlalu fokus sama cinta gw. Gw terlalu fokus sama keinginan duniawi gw, padahal gak selamanya bahagia itu di dapatkan dengan instan kan. Bahkan mau masak mie instan aja mesti direbus dulu, ada prosesnya. Ada perjalanannya. 

Jadi selama beberapa bulan ini, dalam perjalanan gw berusaha mendapatkan dan meraih cinta si koko, gw belajar bahwa gw seharusnya jangan terlalu fokus. Kan udah ada pepatah yang bilang ‘sesuatu yang terlalu banyak gak akan pernah baik.’ 
Sebaiknya semuanya ada pada takaran yang pas aja. Tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak. Tapi cukup. 

Setuju?

Selamat hari Senin! 

Sebetulnya setiap hari kita bisa banyak belajar dari senyap. Tapi sering kali keramaian membuat kita terdistraksi. 
3 hari yang lalu gw curhat sama temen gw soal bagaimana gw sebenarnya udah capek hati nungguin koko. Gw sebenarnya sudah capek berusaha karena kode apapun yang gw kasih ke dia itu gak nyampe. Antara emang gw yang ngasih kodenya kurang kuat, atau emang dia aja oon gak ngerti sama kode gw, atau emang dia sebenarnya tau kalau gw suka sama dia tapi dia mengabaikan gw begitu aja. Temen gw kemudian bilang begini ke gw, 

‘Ta, coba deh lu belajar diam. Senyap, dan dengerin kata hati lu mau apa. Keinginan itu kan ramai, ribut, berisik. Kita juga hidup di dunia yang serba berisik, serba buru-buru, coba lu diem dan dengerin baik-baik.’ 

Terus kemudian gw terdiam. Temen gw yang satu ini bukan tipe yang bisa ngomong sesuatu yang bijak kayak gitu, jadi ketika dia bisa ngomong sesuatu yang bijak kayak gitu pasti dia kesambet apaan gak tau. Tapi apa yang dia omongin bener juga. Coba gw diem, bener-bener diem dan dengerin apa kata hati gw. 

Gw sebagai manusia loner ini semestinya bisa dong melakukan itu dengan mudah. Gw sebagai manusia loner sebenarnya udah mampu dong untuk menjalankan itu dengan mudah. Tapi ternyata mendengarkan kata hati itu sangat sulit. Karena selalu ada logika yang menyanggah kata hati gw. Karena selalu ada logika yang bikin gw punya beribu-ribu alasan untuk gak dengerin. 

Semalaman gw duduk terdiam. Gak dengerin lagu apapun, gak nonton tv, gak main handphone. Smua gadget gw tinggalin begitu aja dan duduk bengong di sofa samping kasur sambil ngeliat ke luar. Semalaman gw duduk terdiam berusaha untuk benar-benar mendengarkan kata hati gw, berusaha mengerti kenapa gw ada di posisi ini hari ini, berusaha untuk men-senyap-kan smua pikiran negatif dan benar-benar hanya fokus sama kata hati. Hasilnya, gw malah sakit kepala karena yang kepikiran begitu banyak hal lain. 

Mungkin udah sebegitu jarangnya gw menggunakan hati dan mengandalkan logika sehingga susah banget untuk gw mengerti dan mendengarkan kata hati gw. Mungkin sudah begitu ramainya kehidupan gw hingga akhirnya gw tidak bisa lagi belajar dari senyap. Padahal setelah gw diingatkan sama temen gw kemarin itu, gw sadar betul bahwa memang ada begitu banyak pelajaran yang senyap simpan. Ada begitu banyak cerita dan kenangan yang senyap simpan. Ada begitu banyak refleksi diri yang senyap simpan, tapi kita abaikan begitu saja. Karena kita terlalu nyaman dengan hingar bingar kehidupan, karena kita terlalu bergantung dengan keramaian, karena kita memilih untuk tidak peka terhadap senyap. 

Belum banyak yang gw dapatkan dari senyap. Karena gw lagi kembali belajar untuk menikmati senyap dan mendengarkan. Betul-betul mendengarkan. Karena gw yakin setiap masalah dan setiap keraguan yang gw miliki saat ini, jawabannya pasti tersembunyi di senyap dan gw harus mendengarkan dengan seksama. 



Mungkin masalah hidup kalian juga tersembunyi di senyap. Yuk kita sama-sama mendengarkan! 

Kalau hidup itu adalah sebuah kompetisi, maka smua mahkluk di dalamnya akan berlomba-lomba untuk menang. 
Udah beberapa hari kalimat itu nyangkut di kepala gw. Entah gw denger dimana, baca dimana, atau tiba-tiba muncul aja di kepala gw. Tapi udah ada beberapa hari gw berusaha untuk mengartikan kalimat yang kayaknya dalam banget artinya itu. Sore ini ketika gw makan sendirian tadi, gw berfikir apakah sebenarnya hidup benar-benar cuma sebuah kompetisi? 
Gw adalah manusia yang sangat ambisius. Gw diajarkan nyokap gw untuk mengejar smua cita-cita dan keinginan gw dengan gigih dan sekuat tenaga. Kalau pengen sesuatu usaha yang keras, usaha yang kuat supaya kalau kita dapetin apa yang kita mau kita bisa berbangga dan bilang bahwa semuanya itu hasil keringat dan kerja keras kita. Dan gw menerapkan itu dalam kehidupan gw. Gw berusaha sangat keras untuk bisa mencapai apa yang gw miliki saat ini, semuanya pake keringet dan darah, kadang-kadang sedikit air mata. Gak jarang gw pengen nyerah dan kalah aja, tapi kalau gw inget bahwa tujuan gw belum tercapai maka gw pasti bangun lagi dan jalan lagi. 

Hal ini bukan hanya gw terapkan dalam kehidupan profesional gw. Sifat ambisius gw ini gw terapkan dibanyak hal dalam kehidupan gw, bahkan sampai sesimpel main game pun gw melakukan hal demikian.
Tapi semakin dewasa gw, semakin bertambahnya umur gw, kemudian gw merasa bahwa dalam hidup apapun yang kita lakukan pasti jadi bahan omongan orang. Berlaku baik aja kita diomongin orang, apalagi kalau kita berlaku buruk. Dan karena hidup adalah sebuah kompetisi, maka masing-masing orang akan berlomba untuk membuat sebuah citra yang baik bagi diri mereka sendiri. Gw emang seorang manusia yang cuek, gw gak peduli apa kata orang tentang gw. Bahkan gw bisa menyortir apa yang ingin gw dengar, kalau gw gak seneng gw pasti gak dengerin dan I won’t even hive a damn about it. Tapi tentunya sebagai manusia normal gw juga akan berlomba dan berusaha untuk punya sebuah citra yang baik dong. 
Saat ini gw sedang melakukan sebuah pencitraan yang sangat tinggi. Gw lagi berusaha untuk mengambil hati dan memperoleh cinta si koko. Sifat ambisius gw sering kali bikin gw gak sabaran untuk pengen cepet-cepet aja mencapai dan meraih apa yang gw inginkan. Perlombaan gw dengan citra dan tampak yang bagus di mata koko membuat gw terkadang jadi manusia yang sangat kompetitif dan suka gak memerhatikan perasaan orang lain. (Gw masih mikir, sebenarnya ini kekurangan apakah kelebihan ya?)

Gw manusia yang selalu ingin menang ini, gw manusia yang gak pernah mau kalah sama apapun, termasuk sama keadaan. 
Tapi sebenarnya dalam sebuah kompetisi kita gak harus selalu menang. Kadang dalam sebuah kompetisi kita juga gak harus terburu-buru untuk memulai dan langsung berlari. Mungkin kita harus berjalan pelan dulu, kemudian berjalan lebih cepat, dan baru akhirnya berlari. Kalau pake ilmu yang gw pelajari selama gw latihan lari di gym, bukan seberapa kemampuan gw untuk bertahan lari, tapi bagaimana gw dari cuma bisa lari 1 menit sampai akhirnya bisa lari 5 menit. Dengan konsisten latihan dan konsisten punya kemauan untuk jadi lebih baik. 
Hidup emang sebuah kompetisi, tapi kita gak harus selalu menang. Kalau kita bisa melihat sesuatu dalam sebuah kekalahan, sesungguhnya kita pemenangnya. 
(Gak berarti gw bakal nyerah dan kalah buat dapetin cinta koko. Mungkin gw cuma perlu belajar untuk berjalan dengan baik dulu sebelum akhirnya sanggup berlari) 
Cheers! 

‘Sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asik sendiri. Lama tak ada yang menemani, rasanya..’ Terlalu Lama Sendiri, Kunto Aji
Kalo dipikir-pikir ya, gw ini manusia yang anehnya maksimal. Dibilang loner, sebenarnya bukan juga karena gw suka ngumpul dan ngobrol sama orang. Kenalan dan ngobrol sama orang baru menurut gw sangat menyenangkan. Tapi dibilang gw friendly and social butterfly juga bukan karena gw suka sama tempat ramai dan kemudian menyepi. Muka gw yang songong dan gaya gw yg sombong ini sebenarnya bikin orang hesitant untuk ngedeketin gw, tapi itu sebenarnya karena mereka belum kenal sama gw aja. Dibilang gw extrovert juga bukan, karena banyak banget hal pribadi yang gw simpen sendiri. Dibilang gw introvert juga bukan, karena gw bisa cerita soal kehidupan gw kalau gw udah nyaman sama orang. Ada tuh katanya ambivert, tapi kok kayaknya gw juga bukan orang yang begitu ya? Sungguh, gw ini serba salah (kayak Raisa).

Gw sangat nyaman dengan kesendirian gw. Gw bisa nonton sendirian, jalan-jalan di mall sendirian. Gw bahkan sangat menikmati duduk di cafe yang ramai dan duduk sendirian ngeliatin keramaian. Gw suka tempat yang ramai untuk menyendiri. Iya emang aneh, tapi di tempat yang ramai kayak begitu gw malah lebih bisa berfikir dan belajar banyak. Mengobservasi sekeliling gw, kadang-kadang gw malah ngeliatin orang dan bikin skenario di kepala gw soal kehidupan orang-orang itu.
Tapi belakangan ini gw sadar bahwa kesendirian gw ini kayaknya menjadikan gw sebagai orang yang sangat individualis dan gak peduli sama orang sekitar gw. Iya gw mengobservasi, tapi sering kali bukan berarti gw mau berinteraksi sama mereka. Bahkan sering kali gw memilih untuk melakukan banyak hal sendiri karena gw gak nyaman pekerjaan gw dikerjain sama orang lain (kalau itu sebenarnya gw punya trust issue aja kali ya?).

Ada seseorang yang bilang sama gw;

‘Ta, kamu tuh terlalu nyaman sendiri. Itu gak baik loh, kamu itu butuh orang lain juga. Kamu kan perempuan, coba deh kamu sesekali serahin ke laki-laki. Coba deh sesekali kamu menikmati hidup sama orang lain, jangan sendirian terus.’

(Orang yang ngomong ini tuh gantengnya maksimal, waktu dia ngomong kayak gini level gantengnya bertambah and I was mesmerized)
Waktu itu sih, gw anggap lalu aja omongan dia. Karena menurut gw hidup sendiri itu menyenangkan, gw gak usah urusin orang lain, mikirin perasaan orang lain. Gak perlu ada urusan soal bagaimana gw harus bersikap dan bertindak dan apa implikasinya ke orang lain. Smua yang gw lakukan itu hanya akan berdampak pada diri gw sendiri.
Tapi kemudian setelah gw pikir-pikir lagi ya, gimana caranya gw bisa jadi sama koko kalau pikiran gw masih kayak gitu?
Gw terlalu nyaman sama diri gw sendiri dan gw menolak untuk membuka diri gw untuk orang lain. Gw terlalu nyaman sama kesendirian gw dan kemudian gw lupa bagaimana caranya bersikap sama orang yang gw suka. Gw kepikiran sih untuk nikah, punya anak, hidup berkeluarga yang normal seperti kebanyakan orang sama koko. Tapi gimana caranya gw bisa sampai ke tujuan gw yang mulia itu kalau gw masih terlalu nyaman dengan kesendirian gw? Rasanya gw gak ikhlas untuk melepaskan kesendirian gw untuk sesuatu yang lebih baik? (Gw masih punya banyak pertanyaan apakah berdua lebih baik daripada sendiri)
Mungkin gw harus belajar untuk melepaskan kesendirian gw pelan-pelan dan belajarkan untuk mengizinkan orang lain masuk. Mungkin gw harus belajar untuk bersosialisasi dengan baik dan tidak terlalu nyaman untuk menyendiri di tempat ramai.
Mungkin blog ini bagusnya ditutup juga dengan lagu ini;

Tak mungkin ku melewatkanmu hanya karena diriku tak mampu untuk bicara bahwa aku inginkan kau ada di hidupkuSiapkah Kau Tuk Jatuh Cinta, HiVi 

Pernah gak merasa kalau kita mencintai orang yang salah? Pernah gak merasa kalau mungkin apa yang kita lakukan atas nama cinta itu smua akan jadi sia-sia karena kita mungkin gak pernah ditakdirkan untuk bersama? 

Belakangan ini banyak pertanyaan yang sulit banget gw jawab. Gw merasa kayaknya gw sama sekali gak layak untuk mencinta dan dicinta. Bahkan kadang gw ngerasa cinta ini kutukan banget karena kok kayaknya menjadikan gw jadi manusia yang pengecut dan penakut. Menjadikan gw bukan jadi manusia yang gw kenal lagi. Padahal katanya ‘love is the answer’. Answer to what kind of question? Perasaan setiap kali gw bertanya sesuatu jawabannya bukan cinta (Emang Rangganya ada dimana?). 
Selama ini gw berusaha menjauhkan diri dari kata cinta. Gw belajar dan terlatih untuk menjadi apatis. Gw belajar dan terlatih untuk gak banyak peduli dengan perasaan dan bergantung seluruhnya dengan logika. Karena nampaknya semua hal yang menggunakan logika jauh lebih baik dan jauh lebih mudah untuk gw mengerti. Bahkan banyak temen-temen gw yang bilang kalau gw gak punya hati dan gak punya perasaan. Beberapa bulan ini sejak cinta mampir dan merusak logika gw, ada salah seorang temen gw yang bilang; ‘Ta, sebenarnya lu punya hati kok. Lupa aja lu taro dimana.’ 
Gw ngakak banget waktu dapet message kayak gitu dari dia gw mikir, Masa iya sih gw bisa lupa naro hati dimana. Gw punya empati dan simpati kok dalam menjalankan hidup gw. Iya memang bertumpu sama logika, iya emang selalu berlaku sesuai dengan logika, tapi bukan berarti gw gak peduli sama sekali kan? Tapi ternyata baru beberapa hari ini gw sadar akan makna dari dua kalimat yang disampaikan oleh temen gw itu; bahwa sebenarnya gw kurang lapang dada.

Gw kurang lapang dada dalam menerima cinta. Gw kurang lapang dada untuk melepaskan kesalahan dan kepahitan dalam diri gw yang kemudian akhirnya membentuk gw jadi orang yang apatis dan cuek. Gw kurang lapang dada untuk melihat dunia menggunakan hati, tapi melulu menggunakan logika. Dan bahkan sekarang ketika gw jatuh cinta untuk pertama kalinya, gw juga kurang lapang dada untuk membiarkan smuanya flow sesuai dengan arus cinta. Gw selalu berfikir apa yang baik dan seharusnya terjadi, dengan logika gw yang sebenarnya sudah dilatih dan terlatih untuk menjadi apatis. Ketidakmampuan gw untuk berlapang dada menjadikan gw sebagi seorang yang pengecut akan cinta karena memang cinta gak pernah pake logika (kemudian nyanyi lagu Agnez Mo – Tak Ada Logika). Ketidakmampuan gw untuk berlapang dada kemudian juga menjadikan gw terombang-ambing diantara keinginan hati dan keinginan logika, berusaha untuk melompati berbagai macam proses kehidupan dan berhujung pada keinginan untuk menyerah karena logika gw gak bisa melihat titik terang dari perjalanan cinta yang gak bisa gw mengerti ini. 
Jadi kalau gw balik lagi ke pertanyaan di awal blog ini, sebenarnya secara logika gw gak yakin kalau orang yang lagi buat gw bimbang dan gak karuan ini adalah orang yang tepat untuk hidup gw. Dan sebenarnya gw juga udah berada hampir di ujung garis menyerah kalah karena logika gw udah gak bisa nampung keadaan dan merasa saat ini gw sedang buang-buang waktu menjalani perasaan yang gak tau ujungnya ada dimana. Tapi itu kan logika gw. 
Kali ini dalam hidup gw, gw juga ingin menggunakan hati gw. Gw mau berlapang dada kepada pengalaman yang baru gw rasain satu kali seumur hidup ini. Gw mau membiarkan smuanya mengalir seperti air dan menjalani proses yang logika gw bilang percuma dan buang-buang waktu. Gw mau berlapang dada menerima pengalaman cinta yang unik, yang menarik, yang menguras tenaga pikiran dan hati. Toh selama ini hati gw juga jarang kepake kan? 

Gw mau berlapang dada belajar tentang cinta. Karena gw yakin gak ada yang sia-sia dalam hidup. Bahkan pengejaran gw akan cinta dari seseorang yang belum tau kalau gw setiap hari jatuh cinta sama dia ini, pasti akan membuat diri gw jauh lebih ‘kaya’ suatu hari nanti. Sukur-sukur kalau suatu hari nanti gw udah sama dia, gw bisa cerita bagaimana pathetic-nya gw dalam berusaha menggapai cinta dia dan kita berdua akan tertawa bareng kemudian pelukan. 
Tapi meskipun gw gak ditakdirkan sama dia, gw bersyukur udah diketemukan Tuhan sama dia. Gw bersyukur udah bisa ketemu dia dan belajar banyak hal dari dia. Dan gw akan berlapang dada untuk mencinta dan dicinta (suatu hari) sama dia. 

Have a great, Sunday! 

Sebuah quote mampir dan membuat gw tercenung tadi siang;

What’s to come tomorrow and what’s left behind in yesterday, is all determined by what we do today

Mungkin yang suka nonton youtube, pasti sering denger Wong Fu Productions dan kenal dengan bagaimana kehebatan mereka membuat film-film pendek yang penuh makna. Quote tadi gw temukan saat menonton salah satu video mereka. Sesaat gw kemudian terpikir tentang apa aja yang sudah gw lakukan selama 1 minggu kebelakang. Atau mungkin 1 minggu terlalu jauh, gw mengingat kembali apa yang gw lakukan selama 24 jam kebelakang. Ternyata gak banyak yang berarti, ternyata gak banyak yang bisa membuat perubahan dalam hidup gw. Selama 24 jam kebelakang dari gw menulis blog ini, yang gw lakukan hanya: tidur-tiduran, baca blog orang, nonton youtube, baca buku, main pokemon, chat sama orang, update status path, nonton Ant-Man di bioskop, bahas soal gym sama temen gereja. Sungguh kalau diperhatikan sebenarnya gak ada sama sekali yang penting. Tapi kemudian sebenarnya ada sesuatu yang sebenarnya bisa aja gw lakukan berbeda kemarin supaya apa yang terjadi hari ini mungkin bisa sesuai dengan kemauan gw.

I have been a coward for a couple of months now. Yes, not a couple of weeks, but it’s been months that I have been acting stupid. Ketika sebenarnya dengan mudah aja gw bisa kok bilang sama koko kalau gw suka sama dia. Ketika sebenarnya dengan mudah aja gw bisa bilang sama koko kalau gw sayang sama dia and I do want him to be mine. Ketika sebenarnya dengan mudah aja gw bisa lebih all out nunjukkin perhatian gw untuk dia. Tapi yang terjadi malah smuanya yang salah, malah gw lebih akrab sama Managernya dari pada sama dia. Lebih mudah untuk gw terbuka sama Managernya daripada sama koko. Ketika planning gw untuk pergi makan sama koko malah berubah menjadi pergi makan sama Managernya karena ada hal yang membuat kita harus re-schedule waktu makan sama koko, dan dengan mudah gw malah meng-iya-kan ajakan orang lain untuk makan. Tanpa intensi apapun, gw hanya berfikir bahwa gw pengen punya temen makan. Tapi gw lupa bahwa sebenarnya apa yang gw lakukan bisa berdampak sama hal-hal yang kemudian terjadi besoknya.

What’s come tomorrow is determined by what we do today. And I am unsure about tomorrow because I haven’t been doing anything today, to get to where I want things to be.

What’s come tomorrow is determined by what we do today. And I am unsure about tomorrow because I haven’t been myself.

Padahal kemarin malam gw baru aja ngomong sama salah seorang teman bahwa semua hal di dalam hidup itu tentang mind-set. Semua bisa terjadi if we put out mind to it, I have been putting my mind to it, but I haven’t do anything to get it. I keep on wishing, tapi berharap dan berharap aja terus tanpa banyak melakukan. Ya emang gak ada yang salah dari berharap sih, tapi gw juga sadar bahwa kalau cuma ngarep ya sampe kapan-pun smuanya cuma jadi harapan.

Gw sadar bahwa I have to do something about this, and fast. If I really want things, means I have to work extra-hard. Bahkan ketika gw sedang menulis ini, berkali-kali gw harus menghapus kata ‘tapi’ karena gw ingin menyanggah diri gw sendiri. Karena gw ingin menyanggah kemauan dan kemampuan gw.

So, let’s see what I can do today to make a better tomorrow.

*mungkin berangkat ke gym besok adalah rencana yang sempurna karena badan gw udah jerit-jerit minta diajak cardio*

Ketika liburannya udah mau habis, baru gw mulai rajin baca buku lagi. Kemarin-kemarin pas liburannya masih panjang, gw malah heboh tidur-tiduran dan berangkat ke gym latihan lari demi bisa bertahan lari marathon di-hatinya yang susah dicapai.. #tsaah (mohon diabaikan saja). Tapi hasil membaca gw hari ini tadi bikin gw nelen ludah berkali-kali karena ada salah satu chapternya yang seperti sedang mendeskripsikan diri gw.

Di buku itu ditulis begini, ‘Mereka yang gak gampang galau karena laki-laki dan memilih untuk tidak terlalu peduli dengan perasaan mereka tentang cinta itu sebenarnya sangat berbahaya, karena begitu sekali mereka jatuh cinta, mereka akan benar-benar jatuh cinta.’ 

Berkali-kali gw mengklaim diri gw sebagai manusia yang apatis, gak peduli sama apa kata orang, gak peduli apa pendapat orang tentang kehidupan gw. Gw punya jalan hidup gw sendiri dan gw menjalani hidup gw dengan cara gw. Iya memang sering kali gak sesuai dengan norma-norma dan pandangan kebanyakan orang, tapi gw malah seringnya sengaja dan gak peduli sama apa kata orang. Karena menurut gw yang terpenting adalah menjadi diri gw sendiri dan nyaman dengan kehidupan gw. Gw adalah manusia yang juga gak begitu peduli dengan perasaan, karena menurut gw perasaan adalah liability. Perasaan seringnya bikin kita jadi gak bisa bikin keputusan dan sering kali melakukan hal-hal di luar logika.

Pacaran 2 kali secara serius selama 7 tahun, masing-masing 3 tahunan itu sebenarnya menarik. Karena akhirnya gw sadar bahwa sebenarnya gw gak pernah benar-benar jatuh cinta sama kedua laki-laki itu tapi sebenarnya gw cuma gak pengen sendirian aja. Supaya gw ada temen buat diajak ngobrol, supaya gw ada temen buat diajak curhat, supaya ada yang diajak jalan kalau weekend, supaya ada temen makan kalau lagi bosen, supaya ada yang diajak telponan kalau udah malem, supaya ada yang bisa di-mention di social media. Seluruh itu sama sekali gak ada perasaan cinta, seringnya karena gw gak mau sendirian aja. Ketika akhirnya gw putus sama mereka juga gw sama sekali gak ada galau-galaunya sama sekali. Ya sedih 1 hari, merasa ada yang hilang karena kebiasaan-kebiasaan yang akhirnya dimiliki selama masa ‘pacaran’ itu, tapi sama sekali gak ada juga sedih karena merasa kehilangan orangnya.

Dan akhirnya setelah perjalanan panjang selama 7 tahun itu, ketika gw yakin bahwa sebenarnya cinta itu gak benar-benar ada, akhirnya gw jatuh cinta. Dan seperti yang dijabarkan oleh novel itu, begitu gw jatuh cinta itu sangat berbahaya karena sekalinya jatuh, benar-benar jatuh.

Laki-laki ini berhasil bikin gw menemukan segala ketidak-sempurnaan dia menjadi sempurna. Dia berhasil bikin gw mikirin dia setiap hari, berdoa supaya gw diberi kekuatan lebih dan kepercayaan diri yang lebih tinggi waktu gw ada disekitar dia. Cinta itu juga sebuah motivasi yang sangat bagus. Sejak gw kenal sama dia, gw bahkan selalu berusaha dan bekerja lebih keras. Latihan ebih keras, kalau gak kuat juga gw bilang gw kuat. Kalau udah bener-bener gak sanggup, gw tetep bilang gw sanggup. Padahal kadang-kadang gw berasa maag gw udah mau pecah karena terlalu capek. Bahkan sekarang gw terobsesi untuk punya otot dan punya stamina lebih kuat biar gw bisa menunjukkan kalau gw punya progress. Iya perjalanan gw masih panjang, tapi bahkan ketika setiap kali badan gw sakit-sakit mau patah-patah itu malah menyenangkan buat gw. Sekarang gw jadi punya adiksi ke gym, adiksi untuk olahraga. Badan gw semacam butuh, adrenalin gw semacam terpompa keluar terus. Otak gw juga semacam butuh olahraga, karena the better I run, the better my stamina, the better I do things the more I can show progress.

Here I am, declaring that I am in love. Fallen. Hard. For this guy that’s not even really my type. I am too shy to tell him about my feelings, because as most people told me ‘don’t talk about love but show it.’ I have fallen real hard for this guy, and tomorrow for the first time we will actually go out together. Semoga aja besok gak akan jadi awkward, semoga aja gw gak akan jadi manusia pemalu gak jelas yang akhirnya jadi malu-maluin. Semoga aja gw gak akan show too much, because I do need him, I do want him, and everyday I keep on praying for him to be the one and only.

Jatuh cinta itu biasanya menyakitkan, namanya aja jatuh. Tapi gw bahagia bisa jatuh cinta sama koko. Karena setiap hari sejak gw kenal dia, setiap hari sejak gw menyadari kalau gw jatuh cinta sama dia gw berubah menjadi orang yang lebih baik. Karena gw sadar gw benar-benar jatuh cinta, saat gw mengenal cinta, gw menjadi orang yang lebih dewasa dan lebih balance menggunakan perasaan dan logika.

Dan karena mencintai dan menyukai dia membuat gw lebih bahagia. Bahkan sekedar dapet message dari dia atau sekedar mengingat dia aja bisa membuat gw senyum sepanjang hari. Semoga dia tetap jadi semangat hidup gw, tetap menjadi secercah cahaya di kehidupan gw yang gak rapi-rapi amat ini.

Hari ini, malam ini. Di bulan Juli tanggal 11 di tahun 2015 ini. Gw masih aja pengen ngebahas cinta. Gw masih aja pengen ngebahas perasaan yang sebenarnya kalau dibahas sampe nanti alien udah mampir ke Bumi juga belom tentu kali bisa dijabarkan dengan kata-kata. Karena katanya cinta itu cuma bisa dirasa, tapi bukan dijelaskan.

Tadi gw lagi buka-buka kulkas dan kemudian gw menemukan sekotak susu yang udah kadaluarsa. Iya, gw emang tipe manusia yang suka beli makanan, nyimpen sampe lupa kalau gw punya makanan dan terus akhirnya kadaluarsa kayak sekotak susu kesukaan gw itu. Dan kemudian gw sadar, bahwa sama seperti sekotak susu yang disimpan terlalu lama dan akhirnya kelupaan, cinta juga bisa kadaluarsa. Perasaan yang gak terungkapkan, perasaan yang terlalu lama terpendam, perasaan cinta yang berlebih dan akhirnya gak kesampean akan menciptakan perasaan lelah, dan akhirnya habis.

Gw pernah baca dimana gitu ya, katanya ‘Take risk, to love and to be love’ Saat ini sih gw masih head-over-heel ya sama si koko. Like there is no one else yang gw ingini, hanya dia aja. Bahkan dari begitu banyak orang yang lagi PDKT sama gw (iya gw lagi laku abis!), gw masih aja pengennya sama si koko. Masih aja gw sama sekali gak ada kepikiran sama yang lain. Padahal kalau gw yang dulu mah pasti udah lirik kiri kanan, gaet yang ada dan yang cepet aja. Tapi seperti yang emang gw tulis di post sebelum-sebelumnya bahwa this is a different kind of love. It’s not the same, not the ones that I use to feel. Saat ini sih gw lagi take risk, lagi berusaha untuk take risk tepatnya. Cuma nampaknya keberanian gw masih sampe di depan pagar aja, belum berani untuk ngetuk pagar terus minta masuk.

Keberanian yang minim dari diri gw ini kadang bikin gw ngerasa bahwa satu hari mungkin cinta yang gw punya ini bisa kadaluarsa. Memang sih ini bukan tipe cinta yang biasa gw rasain, memang sih gw merasa kalau perasaan yang kali ini gw rasain adalah perasaan yang cukup unik. Tapi gimana kalau perasaan yang gw rasain akhirnya kadaluarsa karena ketakutan gw sendiri? Tapi gimana kalau perasaan yang gw punya akhirnya kadaluarsa karena kesalahan gw sendiri? Seberapa lama gw bisa bertahan sama perasaan unik yang gw punya ini? Seberapa lama gw harus bertahan supaya cinta ini gak kadaluarsa?

Tapi semestinya kalau perasaan ini benar-benar berbeda cinta ini gak akan kadaluarsa dong? Semestinya kalau perasaan ini benar-benar cinta yang gak pernah gw rasain, dia gak akan kadaluarsa. Karena bahkan sampai hari ini gw masih panik kalau mau ketemu koko. Karena bahkan sampai hari ini, gw masih malu untuk natap mata dia lama-lama. I am too afraid to show more than what I intended.

Jadi gw harap cinta gw dan perasaan gw sama dia gak akan pernah kadaluarsa. Karena (mungkin) yang gw mau terakhir kali itu dia. Karena (mungkin) yang selama ini Tuhan mau tunjukkan dan kirim untuk gw itu dia.

Can I have an Amen for that?

Someone told me once, ‘manusia itu jatuh cinta cuma 1 kali seumur hidup, jadi jangan disia-siakan kesempatan jatuh cinta lu ini’ 

Belakangan ini cinta jadi sesuatu yang sering gw sebut-sebut. Iya mungkin karena gw sedang jatuh cinta. To be honest the feeling of love is very much different. Ada sisi egois manusia gw yang gak sabaran, pengen cepet-cepet aja sih jadian. Ada juga sisi egois manusia gw yang pengen merasa disayang, memiliki dan dimiliki. Tapi kemudian gw sadar kalau gw mau sesuatu yang baik, pasti dapetinnya gak mudah. Smuanya butuh proses, dan terkadang jalan yang dilalui pasti sulit, terjal dan berbatu. Ya kan kalo gampang pasti dapetnya somay atau bakpao doang ya? 

Kemarin itu gw curhat sama salah seorang teman lama. Terus dia bilang sama gw, ‘Ta, lu tuh aneh banget ya. Baru kali ini jatuh cinta jadi pengecut. Bilang aja sama dia. You are smart and attractive! Trust me, he likes you as well. Cuma belom yakin aja’ 

Waktu temen gw ngomong gitu sih gw cengangas-cengenges aja. Ketawa- ketawa gak jelas. Gak gw pikirin, karena pada dasarnya gw jadi manusia yang kurang PD kalau berada disekitar si koko (read my last post about him). Gw selalu merasa kurang baik, gw selalu merasa kurang sempurna, gw selalu melihat dia sebagai laki-laki yang bisa dapetin cewe mana aja. Gw selalu merasa ‘siapalah gw dibanding orang lain’. Gak jarang gw juga pengen banget mundur dan ninggalin dia. Ngelupain perasaan gw sama koko dan balik jadi orang apatis, tanpa perasaan. Tapi kalau gw balik jadi manusia kayak gitu, apa yang udah gw pelajari dalam hidup? Padahal cinta itu kan awal dari smua kehidupan? Kalau gw menolak untuk mencinta berarti gw menolak kehidupan dong? 

So here I am, trying to learn about love. Gw yang masih jatuh cinta sama koko. Masih deg-deg-an setiap kali mau ketemu dia. Masih setiap hari nunggu line dari dia. Masih setiap hari berharap dia nanya kabar gw. Masih setiap hari senyum-senyum sendiri kalo inget dia. Masih berusaha untuk bercanda dan jadi cewek yang menyenangkan kalau sama dia. Masih berusaha untuk memenangkan hati dia melalui proses yang kadang buat gw gregetan sendiri ini. 

Dan, sebenarnya jatuh cinta itu bukan cuma satu kali seumur hidup. Jatuh cinta itu berkali-kali, setiap hari, setiap kali, sama orang yang sama. Karena akhirnya gw sedikit menyadari bahwa cinta itu pilihan. Kita ingin mencintai atau tidak? 

Saat ini gw masih belajar memahami cinta yang gw punya untuk dia. Dia yang belum tau bahwa setiap hari gw jatuh cinta sama dia..