Hidup itu sebuah perjalanan, kadang bisa juga jadi sebuah kejar-kejaran.

Waktu TK kita buru-buru mau SD, setelah tamat SD kita gak sabar masuk SMP, begitu masuk SMP kita gak sabar untuk SMA karena katanya SMA itu masa paling seru. Begitu kita lulus SMA, kita gak sabar banget untuk jadi MaBa (Mahasiswa Baru). Di masa kuliah ini juga katanya masa yang paling seru dalam hidup kita karena kita bisa ngerasain susahnya ngejalanin masuk kampus yang biasanya sih susah keluar karena masalah skripsi dan birokrasi lainnya. (Iya ini pengalaman pribadi banget!) Tapi kejar-kejaran gak berhenti sampai disitu, setelah kuliah kita harus kerja, menikah, punya anak, sekolahin anak, punya anak lagi, sekolahin anak lagi, ngejer tabungan sekolah anak, ngejer tabungan pensiun, ngejer masa tua yang sehat, ngejer dan ngejer dan ngejer dan terus ngejer banyak hal. 

Di umur gw yang udah masuk seperempat abad ini, gw termasuk orang yang berlari cukup cepat di kehidupan gw. Udah kuliah 2 kali, dengan 2 major yang berbeda. Udah punya pengalaman kerja yang cukup banyak di bidang yang berbeda-beda. Udah punya beberapa bisnis berjalan yang bisa menghidupi diri sendiri tanpa minta bantuan orang tua dari umur 19. (Yeah, let me have this bragging rights!) So I am pretty proud of myself for achieving what all those in such a young age. Tapi kembali lagi, hidup itu kejer-kejeran sama hal-hal masa depan yang kadang bikin pusing sendiri. 

Kemarin gw main ke rumah salah satu tante yang emang repotnya setengah mati. Dia itu kepo bukan kepalang, gak pernah gw ketemu seorang tante-tante yang bisa nanya detil banget soal kehidupan seseorang. Seperti yang sudah tertulis sebelumnya juga kan kalau saat ini gw emang lagi suka sama orang dan orang itu juga cukup dekat sama gw. Bibit-bebet-bobot dari orang ini juga dapet banget, mungkin gak smua dari orang ini tepat, tapi setidaknya dia jauh lebih baik daripada mantan-mantan gw sebelumnya. Seagama, se-ras, bahkan kepusingan soal dia Chinese apa juga sudah terjawab karena ternyata dia sama-sama orang Hokkien kayak gw. Tante gw ini mulai bertanya dengan sangat detil soal koko ganteng kesayangan gw ini. Dia umur berapa, tanggal lahirnya berapa, jam berapa, dia tinggal dimana, mamanya namanya siapa. Sumpah, gw nanya dia mau ngopi bareng gw atau gak aja gw gak berani gimana caranya gw tau detil hidup dia kayak begitu. Rentetan pertanyaan yang mengganggu gw itu akhirnya berakhir dengan, 

‘De, kamu inget ya kalau kamu itu udah umur 25. Kamu itu dikejer umur loh, harus cepet-cepet. Kalo emang menurut kamu si koko itu baik, ya sudah langsung dikenalin ke keluarga aja.’  

EAAAAK! saat ini gw ada di posisi dimana gw dikejer sama si umur. 

Padahal kesiapan menikah itu bukan cuma umur aja loh, tapi finansial dan juga bathin. Keduanya harus sudah bisa mapan dan gak merepotkan orang tua lagi. Keduanya harus siap dan bisa membayangkan untuk hidup bareng satu sama lain seumur hidup, karena menikah itu satu kali aja dan apa yang sudah disatukan sama Tuhan tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus siap juga dengan keberadaan satu sama lain karena setiap hari dan setiap saat akan ketemu terus. Gw sih saat ini belom terlalu ready untuk membayangkan kalau gw harus hidup sama orang yang sama sepanjang sisa umur gw. Selain itu, yang menentukan kesiapan kan diri kita sendiri. Dan yang menentukan jodoh kita itu kan Tuhan bukan karena dikejar umur. 

Kemudian gw berfikir; sampai kapan kita mau terus dikejar sama hal-hal yang dianggap norma? sampai kapan kita mau dikejar sama hal-hal yang sebenarnya gak membuat kita bahagia tapi harus kita lakukan karena kita dikejar-kejar sama umur dan keadaan? 

Kita yang atur mau nikah kapan dan kita juga kok yang nentuin mau nikah di umur berapa. Ini bukan pembelaan gw yang belom dapet jodoh dan belom siap nikah. Ini cuma curahan hati manusia berusia setengah abad yang lagi dikejer umur dan mulai ditanyain ‘kapan kenalin koko ke keluarga?’ 

Sebagai seorang manusia, kita hidup pasti punya impian, harapan yang kemudian diikuti dengan ekspektasi. Dalam kehidupan sehari-hari aja biasanya kita selalu berekspektasi. Bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Misalnya bangun pagi di hari yang cerah, tau kalau kita mau berangkat ke kantor atau berangkat kerja tapi bakal banyak kerjaan, kita udah berekspektasi kalau bakal jadi hari yang melelahkan. Atau misalnya kita kenal sama seseorang dan kita sering denger cerita kalau orang itu nyebelin dari orang lain, pas kita ketemu sama kenalan kita ini, kita juga akan berekspektasi kalau dia adalah orang yang menyebalkan. 
Baru-baru ini gw punya kenalan baru yang kemudian jadi cepet akrab karena kita sama-sama suka sama superheroes dan anime. Cepet akrab juga karena dia orangnya sama aneh dan sama gilanya sama gw. Sama-sama curious about a lot of things yang ngebuat kita bisa bahas apa aja dan bagaimana aja sampe subuh sekali pun. Bahkan kita pernah ngobrol dan nongkrong di McDonalds sampe jam 2 pagi gara-gara bahasin soal Lucifer. I know we are crazy and weird. Gw dan dia sama-sama orang yang religious, dengan agama kami masing-masing kita suka bertukar pikiran soal hidup dan pandangan agama. Menurut gw itu merupakan suatu hal yang sangat bagus, karena kita masing-masing jadi bisa menghargai agama yang berbeda itu dengan sangat baik. Kalau kita mengerti agama lain kan kita jadi bisa lebih mengerti. Sampai pada sebuah kejadian, yang ngebuat gw cukup syok. 
Gw bukan tipe orang yang berekspektasi pada apapun. Gw menjalani hari-hari gw blank, kadang ada perasaan bahwa sesuatu hal yang baik atau buruk bakal terjadi, tapi biasanya gw abaikan karena gw gak mau overly excited or sad. Begitu juga dalam pertemanan, gw sama sekali gak punya ekspektasi kepada teman-teman gw. If I do or did something for them, gw gak ada pikiran bahwa mereka harus membalas perlakuan baik gw. Kalau gw bantu mereka, gw juga gak ada ekspektasi bahwa mereka harus bantu gw dikemudian hari. Gw juga gak pernah berekspektasi bahwa teman-teman gw itu orang yang bisa gw ubah atau apapun. Ketika gw sudah memutuskan berteman dengan mereka, gw akan menerima mereka apa adanya, baik buruknya. Kalau mereka melakukan kesalahan, gw pasti ingetin. Iya kadang cara gw ingetin dengan mulut gw yang kayak tong sampah dan vocabulary yang keras, tapi gw yakin juga mereka ngerti maksud baik gw. 

Di suatu malam, gw kaget ketika orang ini bilang sama gw setelah kita berdebat soal sesuatu yang gw gak begitu inget apa, ‘gw kadang suka males ngomong sama lu deh. Lu gak sesuai sama ekspektasi gw.’ 

At that moment, I stopped myself from typing and replying to his chat. Dan gw langsung berfikir ke diri gw sendiri, emang kenapa sih harus berekspektasi dalam pertemanan? Jadi akhirnya yang gw lakukan adalah gw tanya apa sama dia ’emang ekspektasi lu apa?’ Jadilah dia menjabarkan ekspektasi dia tentang gw ke diri gw. Yang kemudian hanya gw balas dengan ‘maaf ya gw gak sesuai sama ekspektasi lu.’ 
Gw kemudian sadar bahwa kita gak bisa membahagiakan semua orang. Sering kali kita juga gak sesuai sama ekspektasi orang lain. Sering kali karena ekspektasi orang lain akhirnya kita merubah diri kita supaya sesuai dengan ekspektasi orang lain itu. Tapi emangnya itu diri kita sendiri? 
Kadang ekspektasi orang lain terhadap diri kita yang menjadi kita bukan diri kita sendiri. Kadang ekspektasi kita pada orang lain juga yang membuat kita jadi berharap terlalu banyak sama orang lain. Gw gak bilang bahwa kita gak boleh berekspektasi, tapi mungkin gak kalau kita melimitasikan ekspektasi kita? 

We can’t please everybody, the most important thing is that we are able to please ourselves and be happy with ‘self’. 
Have a great Wednesday! 

Baru kali ini gw sadar betul kalau jatuh cinta itu beneran indah. Semua perasaannya sangat menyenangan. Deg-deg-annya, sebelnya, ragu-ragunya, gak yakinnya, gak pede sama diri sendiri, doubting about him-nya, doubting about myself, kangen gak sabar mau ketemu, sabar-sabar nunggu line dari dia, sengaja balesnya lama kalau dia line gw biar disangka sibuk. Bahkan sampai sesimple dia kasih emoticon di path aja bisa bikin gw senyum-senyum dan lompat-lompat kegirangan. 

I didn’t know falling in love is this fun! Setiap hari gw berdoa supaya dia yang jadi buat gw. Setiap kali gw ke gereja atau bahkan kemarin gw ikut PDOMKK aja cuma dia yang gw doain dan cuma dia yang gw minta sama Tuhan. But I really do like him, so very much. It’s amazing di umur gw yang udah menginjal seperempat abad gw baru bener-bener ngerasa jatuh cinta. 

Semoga aja apa yang kemarin, hari ini dan besok-besok gw rasain bakal bikin gw senyum terus. Karena gw sadar juga kalau emang dia mood-booster gw setiap hari. 

Happy Birthday, Daddy!

Guess what, hari ini gw dikagetkan dengan sebuah sms yang masuk ke handphone pagi-pagi dan membuat gw ketawa sinis. Gw gak habis pikir, kenapa sih seseorang ini harus banget sering-sering gangguin hidup gw? Gw juga gak habis pikir kenapa sih gw harus dicerca dengan ‘kalau gak ada gw lu gak ada di dunia ini’ or ‘lu harus bayar hutang lu ke orang tua karena kalau gak lu anak durhaka’ Ya, bilanglah gw anak durhaka. Tapi itu semua terjadi karena siapa? Gw cuek dan gak peduli, apatis dan tidak punya hati begini karena siapa? Gw bahkan lebih respek sama orang-orang yang ada di lingkar kedua kehidupan gw daripada sama orang-orang yang so-called keluarga.

Pagi ini bapak gw yang udah sekian lama hilang dan tidak pernah nyari atau menghidupi gw sms. Dia bilang hari ini dia ulang tahun, apakah gw udah ngucapin selamat ke dia? Gw semestinya gak usah ikut kegiatan gereja kalau kelakuan gw masih kayak sekarang, gak bisa menghargai orang tua. Hey, did you look at the mirror. Did you remember what you did to me? Did you ever try to understand why these things happened to you? Why I don’t even want to see you? Why I don’t even want to look at you? Did you ever ask me why? Did you ever say sorry for the things that you have done to me? I guess those will be the questions you can never answer. Gw bukannya gak mau memaafkan, gw juga bukannya gak mau melepaskan smua kemarahan ini. Tapi serius deh, pernah gak sih lu sebagai orang tua sadar. Setelah ditinggalkan selama ini oleh istri dan anak, bahwa semua itu kejadian juga karena perilaku yang gak menyenangkan, karena sikap yang tidak menyenangkan, karena tindakan yang membahayakan nyawa istri dan anak dulu. Pernah gak sih merasa bersalah? Buat apa ke gereja kalau sendirinya masih melakukan hal yang buruk? Jangan pernah melarang gw ke gereja lah, setidaknya gw gak pernah melakukan attempt to kill your own wife or throw your kid out from a moving vehicle. Jangan pernah bilang kelakuan gw gak baik, kalau sendiri dulu juga seorang pemakai dan peminum, seseorang yang melakukan kekerasan terhadap istri dan anak karena gw bahkan tidak pernah sekalipun terbersit untuk memakai dan meminum yang dilarang oleh Tuhan. Trust me, I will never want to be like you.

Tapi kalau memang lu pengen gw ngucapin selamat ulang tahun, then Happy Birthday, Dad. Thank you for abandoning me and doing cruel things to me when I was a kid. Thank you giving me those scars and burns on my body. Thank you for giving me those pain and heartache. Thank you for showing me early in life that no such thing is a fairy-tale happy ending in this life. I hope God blesses you each day. I hope that one day you will come to that realization that I don’t want anything to do with you anymore in the future. If you ever see me anywhere in public, please just act like you don’t know me because I will do that to you. Once again Happy Birthday!

Kalo dipikir-pikir, mungkin sebenarnya gw jadi orang yang bitter dan gak pedulian juga smuanya karena orang terdekat gw. Jadi orang yang apatis dan merasa lebih baik gw menjaga kesehatan mental gw supaya gak jadi gila. Lingkaran terdekat dalam kehidupan gw yang sangat ribet menjadikan gw memilih untuk gak mau tau. Karena balik lagi, the more I know, the more headache I get. 

Dengan sangat bangga gw bisa bilang kalau gw ini anak produk broken-home. Kenapa gw bisa bangga, karena gw berhasil untuk hidup jauh dari cap orang-orang yang selalu beranggapan bahwa kalau anak broken-home pasti pake narkoba, pasti jadi orang yang gak bener, pasti orang tuanya kerja yang gak bener buat ngidupin anaknya. My mom work her ass off to provide for us (yes, karena bukan cuma gw tapi juga om tante dan sanak saudara lainnya) dan gw sama sekali gak pernah menyentuh narkoba bahkan pergi dugem aja gw gak sanggup karena bikin sakit kepala. Jadi gw sangat bangga dengan diri gw sendiri. Karena gw bukan perempuan sembarangan. 

Tapi kalau dibilang keluarga kami baik-baik aja juga gak. Karena nyokap gw yang sangat keras kepala dan keras itu sebenarnya punya begitu banyak luka bathin. Dia selalu bilang bahwa luka itu sudah sembuh, dia selalu bilang kalau dia sudah baik-baik aja, but come on. Gw punya mata, telinga, hati dan perasaan. Gw gak buta, gw gak tuli, dan gw bisa merasa juga. 

Gw rasa sok kuat itu memang keturunan, karena gw juga jadi orang yang sok kuat. Kepala batu juga keturunan, kalo udh maunya ya harus tercapai mau berapa sulit pun pasti usaha setengah mati. Tapi dengan berani juga gw bilang kalau gw sudah sembuh dari luka bathin gw. Udah gak ada marah lagi dengan masa lalu, udah gak ada rasa ingin balas dendam lagi dengan masa lalu. Ya, kadang memang ada kalanya gw merasa sendiri dan gak disayang, tapi gw rasa itu normal mengingat nyokap gw lebih merhatiin adik-adiknya dan keluarganya yang lain. 

Nyokap gw, mendidik gw untuk jadi perempuan yang kuat. Yang smuanya bisa sendiri, dari belasan tahun gw diajarin untuk biayain hidup gw sendiri. Dari belasan tahun juga gw diajarin untuk bertanggung jawab atas smua kelakuan gw, itu belum ditambah dengan bumbu amarah dia kalau mendadak dia inget sama bokap gw yang emang kelakuannya kayak monster. Dulu gw marah juga sama nyokap gw karena dia gak berlaku adil. But look at the bright side now, gw jadi orang yang sangat mandiri dan dengan bangga juga gw bisa bilang kalau gw udah gak dibiayai nyokap gw sejak gw umur 19 taun. Terlalu mandiri dan terlalu gak pedulian, gak mau tau. 

Mungkin gw cuma melakukan apa yang dilakukan sama orang-orang disekeliling gw. Mereka juga gak peduli banget sama gw. Kalo gw sakit keluarga gw bahkan gak nanya. Orang yang nanya pertama malah Personal Trainer gw atau dokter anjing gw. Mungkin juga gw jadi apatis dan egois karena mereka selama ini juga egois. Mungkin juga gw merasa kasihan sama orang-orang yang selalu menempatkan diri mereka sebagai korban dan gak bisa move on dari luka bathin mereka karena gw merasa gw udah menang dan udah bisa melakukan demikian. 

Atau mungkin juga sebenarnya gw gak pernah memaafkan mereka, gw gak pernah bisa ngerti kenapa nyokap gw selalu keras sama gw dan baik sama adik-adiknya. Ya, alasan yang terakhir ini bisa jadi sebuah kemungkinan yang sebenarnya gw deny juga selama ini. 

Mungkin kesombongan gw yg mengatakan bahwa luka bathin gw udah sembuh hanyalah sebuah denial. Tapi gw yakin betul, kalau kita terus menerus menempatkan diri kita sebagai korban dari keadaan dan juga menolak untuk mengubah kondisi mental kita, selamanya kita akan jadi korban (kayak nyokap gw). 

I am going to leave it like that for now. It’s not I don’t care, but I cannot deal with a person that doesn’t want to change the conditions and their mind set. 

Ah, maafkan racauan siang ini. Gw hanya perlu melampiaskan kemarahan gw ke suatu tempat. Dan karena sekadang mood nulisnya udah balik seperti semula, gw kembali melampiaskan smuanya ke blog ini.. 

Karena cinta tidak butuh alasan.. 

Udah beberapa hari kalimat itu mampet di kepala gw. Gak bisa keluar, gak bisa pindah, gak bisa gw lupain. Mungkin karena diri gw yang lagi lemah ini terus menerus mencari alasan untuk perasaan yang lagi gw rasain. Mungkin karena diri gw yang belakangan ini jadi serba sensitif lagi mencari alasan kenapa gw bisa suka sama orang yang sama sekali bukan kriteria gw. Semacam menjilat ludah sendiri, diawal pertama kali gw kenal sama dia orang ini dengan mudah gw bisa bilang ke temen-temen gw kalau gw gak akan suka sama dia. Karena dia gak smart, karena dia bukan tipe gw, karena badan dia terlalu kekar for my liking, karena dia terlalu aneh dan smua karena dan karena lainnya yang merupakan alasan dari diri gw yang juga gak sempurna ini menyukai seseorang. Tapi sekarang nyatanya, setiap hari gw yang kangen sama dia. Tapi nyatanya sekarang gw yang setiap hari malah pengen banget dicari sama dia. Pathetic!

Gw bisa ngeliatin handphone gw selama berjam-jam nungguin message dari dia. Gw bisa uring-uringan kalau sehari aja dia gak nyari gw. Kalau gw udah terlalu kangen sama dia, akhirnya gw yang akan nyari dia tapi terus gw merasa gak sepantasnya gw nyari dia, karena nanti dia akan ngira gw menyedihkan amat karena nyariin dia. Padahal smua itu datangnya dari ego gw yang kadang-kadang posisinya ada di atas langit ketujuh.

Di tulisan sebelumnya gw tulis bahwa baru pertama kali gw merasakan hal semacam ini. Perasaan dimana gw merasa bahwa semuanya tepat. Semuanya benar. Apa itu sebenarnya karena gw udah berumur lebih dari seperempat abad? Apa itu sebenarnya karena gw baru pertama kali ketemu sama laki-laki yang se-ras dan se-agama? Apa itu karena baru pertama kali gw ketemu sama orang yang benar-benar perhatian sama gw dengan tulus dan di-posesif-in sedemikian rupa sampai gw merasa sangat tersanjung?

Gw sering banget di cap sebagai manusia yang gak pedulian, bahkan sering kali diri gw sendiri yang melabeli diri gw sebagai manusia apatis. Gw tidak terlalu peduli sama apa yang terjadi disekeliling gw. Gw gak terlalu peduli juga sama apa yang terjadi dengan orang-orang disekitar gw. Hal ini gw lakukan karena gw merasa the more I care, the more headache I will have. So I decided to care-less, respectively I will be hurt-less. But this time, I was trying to do the same, I was trying to be the heartless bitch, but I guess love takes a funny turn on me.

Kali ini gw bener-bener merasa jatuh cinta. Gw yakin banget kalau ini bukan cinta yang sama seperti perasaan yang pernah gw rasain sama yang lainnya. Gw yakin banget bahwa ini bukan perasaan yang sama. Iya ini harus gw ulang, karena bahkan gw masih harus meyakinkan common sense gw. This does not come from my logic. Sama yang dulu gw gak pernah berdoa sama Tuhan untuk kebahagiaan dan kesehatan mereka di setiap pagi dan malam. Sama yang dulu gw gak pernah berdoa untuk kesehatan mereka. Sama yang dulu gw gak pernah merasa the butterfly in my stomach. Yang terlebih, sama yang dulu gw gak pernah sama sekali merasa malu atau takut untuk menyatakan perasaan gw sama mereka.

NOT THIS TIME! Bahkan sebelum gw memiliki dia, gw udah takut untuk kehilangan dia. Bahkan ada pula perasaan gw dimana sesungguhnya gak semua cinta harus memiliki. Bahkan gw berdoa sama Tuhan, apabila memang kita tidak baik untuk satu sama lain biarkan hati gw ikhlas melihat dia sama orang lain, tapi biarkan kita tetap berteman karena sosok dia menyatakan bahwa segala hal mungkin di dalam hidup gw. Untuk temen-temen yang kenal sama gw, mungkin merasa apa yang gw tumpah ruahkan di dalam blog ini sama sekali bukan gw. Bahkan gw sendiri aja merasa gw gak kenal sama diri gw kok. Tapi balik lagi, cinta memang selalu melakukan hal yang tidak terduga.

Sampai saat ini, mengingat gw adalah manusia yang menumpukan segala hal menggunakan logika dan sering mengabaikan perasaan (karena gw merasa perasaan adalah sebuah liability) gw masih mencari-cari alasan kenapa gw bisa suka sama dia. Sampai saat ini gw masih suka mencari alasan kenapa gw bisa jatuh cinta sama dia. Sampai saat ini gw juga masih mencari alasan kenapa baru kali ini gw merasa cinta yang semacam ini. Tapi mungkin balik lagi ke kalimat yang gw tulis di awal blog gw ini. Cinta tidak butuh alasan..

“Love doesn’t need reason. It speaks from the irrational wisdom of the heart.” – Deepak Chopra

Jatuh cinta kok kayaknya gini-gini amat ya. Udah 26 tahun nih gw, tapi kayaknya baru kali ini gw jatuh cinta sampe rasanya mau memiliki orang ini kok egois banget. It’s weird how I can’t act normal around him, It’s even weirder how I always tell everyone that I dislike him because he torture my body every week. 

Setiap minggu badan gw kayak mau patah, tapi setiap weekend berakhir gw juga yang gak sabaran buat cepet-cepet ketemu hari Sabtu dan hari Minggu lagi. Setiap weekdays gw setengah mati berharap untuk dia nanyain gimana keadaan badan gw, or sekedar message gw iseng-iseng. Setiap weekdays gw sering banget complain sama dia soal gimana badan gw sakit karena dia.. 

Tapi sampe hari ini gw tetep aja gak berani ngajak dia keluar bareng, sekedar minum kopi bareng, sekedar makan siang bareng. GAK BERANI! Ada yang menyedihkan banget malah ketika gw lagi duduk depan-depanan sama dia dan gw nunduk kemudian ngebathin kalau gw sayang dan jatuh cinta banget sama dia. 

Maybe, there is no reason why I fall for him. Tapi secara egois gw ingin memiliki dia, sama dia, because everything feels so right..   

Biasanya kalau jatuh cinta itu, gw jadi lebih produktif nulis. Biasanya juga, kalau gw sudah mulai menulis berarti ada sesuatu yang gw rasa perlu untuk dibuat menjadi sebuah memori yang suatu saat akan menjadi sebuah kenangan yang lucu untuk dibaca kembali.

Dan kali ini entah kenapa gw merasa jatuh cinta sama orang yang tepat. Selama ini kayaknya gw selalu dekat sama orang yang salah, kemudian juga kayaknya selama ini gw gak pernah betul-betul jatuh cinta saat menjalin hubungan yang dulu. Aneh banget ya, karena akhirnya setelah sekian lama perjalanan gw mencari cinta, akhirnya gw semacam menemukan cinta sama orang yang tepat. Kalau istilahnya bibit-bebet-bobotnya dapet semua.

Susah-susah-gampang jadi orang Chinese yang lahir di Jakarta dan besar di luar negri. Ketika mind-set yang dimiliki adalah mind-set tentang bagaimana perbedaan yang harus disatukan, tapi ujung-ujungnya kemudian kepentok juga sama tradisi. Seumur-umur gw pacaran serius baru 2 kali. Both of them are non-chinese dan bahkan kita gak seagama sama sekali. Tapi menurut gw perbedaan yang kita punya dulu jadi sebuah warna yang menyenangkan, karena kita masing-masing belajar tentang perbedaan, kita masing-masing belajar tentang bagaimana tradisi yang berbeda ras, berbeda agama, dan bahkan berbeda status sosial. Perbedaan-perbedaan itu bikin aku belajar akan dunia, belajar menjadi diri yang lebih baik dan lebih dewasa. Dulu mungkin karena aku belum sedewasa (baca: TUA) sekarang, pemikiran tentang pacaran itu ya simple aja. Supaya gak sendirian dan ada temen curhat; belum ada pikiran untuk nikah sama pacar itu, walau ya ada juga sih suka kebayang-bayang, tapi ya gitu-gitu amat juga.

Sekarang, ketika akhirnya gw merasa jatuh cinta sama laki-laki yang balik lagi ya bahwa bibit-bebet-bobot-nya dapet dan jatuh cinta setengah mati sama laki-laki ini akhirnya gw dihadapkan sama tradisi dengan berbagai macam pertanyaan yang gak bisa gw jawab sama sekali.

“dia orang mana? siapa nama keluarganya dalam bahasa chinese” — MANA GW TAU?!

“dia keturunan apa?” — BUKANNYA CHINESE CUMA ADA 1 MACAM?!

“maksudnya, apakah dia orang Hokkien, Teow Chew, atau Khe” — HAH?!

Pertanyaan-pertanyaan macam inilah yang kemudian bikin gw jadi bergidik ngeri sama tradisi yang kayaknya gak gw ngerti sama sekali. Dulu saat gw masih pacaran sama yang non-chinese dan tidak seagama, nyokap selalu bilang dengan banyak tanda seru dan muka merah penuh amarah “kalau emang mepet banget gak bisa se-ras setidaknya seagama-lah” Lah, sekarang dapet yang se-ras dan seagama pertanyaannya jadi lebih susah lagi.

Jadi seharusnya gw harus gimana sih? Boleh gak gw ngerasain dulu jatuh cinta ini? Boleh gak gw ngejalanin rasa kangen yang gw punya dan setiap hari gak berani gw sampein ke orang ini? Orangnya aja belom tau kalo gw suka sama dia, karena baru pertama kali ini di dalam hidup gw jatuh cinta sampe klepek-klepek gini. Baru pertama kali dalam hidup gw menjadi pengecut dan bahkan gak berani ngajak orang ini keluar untuk sekedar minum kopi bareng. Bahkan baru pertama kali ini gw berdoa setiap hari ke Tuhan untuk selalu melindungi laki-laki ini setiap harinya. Karena gw sadar, bahwa gw jatuh cinta beneran dan secara egois gw mau memiliki laki-laki ini selamanya.

Yes, yes I know terdengar sangat cheesy, but I have fallen head-over-heel for this guy, but I am to shy to say so. Dan belom juga masalah malu dan takut gw selesai, gw udah harus dihadapkan sama apakah dia Chinese Hokkien, Teow Chew atau Khe.. :)))