Terkadang

terkadang aku meratap,  atau bahkan terkadang aku lebih memilih untuk terduduk diam memandang keadaan.

terkadang aku tertawa, atau bahkan terkadang aku lebih memilih untuk berteriak kepada keadaan.

terkadang aku merasa kasihan terhadap keadaan. Lebih sering dia yang dipersalahkan akan hal yang sebenarnya bisa aku atasi. Atau bahkan terkadang aku merasa lemah kepada keadaan yang sangat kuat akan kehidupan yang bahkan kemudian menjatuhkan aku kepada yang ia rasa lebih hebat.

terkadang bahkan aku ingin bertanya kepada keadaan tentang siapa aku sebenarnya. tentang kehidupan yang aku sama sekali tidak ingin mulai atau aku akhiri. aku menikmati tergantung, bergantung pada keadaan yang terkadang menyakitkan..

dan terkadang seperti sekarang, aku menorehkan perasaanku yang tidak ingin aku akhiri.. seperti tulisan ini yang akan terus menggantung, bergantung.. tergantung.

Advertisements

Jakarta at it’s best..

Hai, halo..

Minal Aidin WalfaIdzin yah.. Mohon maaf lahir bathin. Maaf terlambat ngirimin ucapannya di blog ini. Pekerjaan begitu menggunung menghasilkan kesibukan yang ngebuat gw akhirnya jadi gak nulis lagi. Ahh, juga terkena sindrom malas sampe akhirnya menulis pun jadi jarang.

Ngomong-ngomong soal Lebaran, jadi aku tetep masuk kerja loh selama lebaran kemarin. Soalnya aku gantiin yang pada libur lebaran di kantor. Ya nasib-nasib anak magang dan juga gak ngerayain lebaran yah. Dan sumpaaah.. Jakarta itu nyaman banget selama Lebaran kemarin. Gak ada tuh yang namanya macet, Cengkareng-Sarinah bahkan cuma 10-15 menit paling lama. Coba dhe bayangin luar biasanya itu.. Sepii banget banget banget..

Sumpah itu enak banget, kayak nyaman banget. Mendadak aku ngebayangin aja. Gimana kalau memang Jakarta kayak begitu terus. Gak perlulah ada yang namanya macet dan akhirnya marah-marah karena buang-buang waktu di jalan yang padahal lokasinya gak jauh-jauh amat.

Anyhow, kayaknya aku nulis itu dulu dhe. Lagi bingung juga mau nulis apa. There seems to nothing much going on in life. Maybe I should try focusing back on writing this =)

Nite nite world.. I’ll try to think of what to share next time =)

kembali bercerita..

Hari ini sekali lagi aku menulis di kantor yang perlahan mulai menyepi, dan aku sedang menunggu waktu agar aku bisa kembali punya menyetir tanpa harus bertemu dengan otoritas Negara yang menerapkan 3in1 itu. Aku sedang berusaha kembali untuk rajin memulai menulis, karena nampaknya aku perlahan sudah melupakan bagaimana caranya aku bisa menulis dengan lancar dan bercerita, sekedar melepaskan beban yang menimpa bahu ini dan membuat aku merasa lelah kebanyakan waktu. Eh sudah tau kalau akhirnya aku sudah memiliki ‘dia’ yang baru? Semoga yang ini akan bertahan dengan sangat lama dan tidak akan pernah berakhir. Ya aku tahu, kebanyakan dan seringnya aku selalu berkata bahwa aku tidak ingin ini untuk berakhir, cuma aku selalu menemukan batu besar yang nampaknya tidak dapat aku loncati, dan akhirnya mereka berakhir. Namun aku akan berusaha untuk tidak mengakhiri yang satu ini, aku akan berusaha untuk terus bersama dan tidak akan pernah selesai. Ya Boo? This is forever? Eh cuma juga belakangan ini aku lebih sering mencurahkan perasaanku melalui microblogging yang lainnya, yang nampaknya menjadi nafasku setiap hari dan akhirnya tidak bisa aku lepaskan sama sekali. Ya ya ya, aku terkesan melupakan kamu yang dulu rajin aku isi setiap hari ya, namun aku tidak menemukan waktu yang panjang untuk menulis lagi. Ah lebih tepatnya mungkin sebenarnya aku hanya malas untuk menoreh cerita saja, terlalu banyak hingga aku juga jadi bingung ingin menulis apa dan bagaimana. Terlalu memusingkan hingga akhirnya aku melupakan apa yang perlu aku tulis. Banyak yang ingin aku lupakan, banyak yang ingin aku tinggalkan malah. Tapi apa mampu aku kemudian melupakan apa yang telah aku mulai? Kayaknya kita akan kembali lagi ke topik move on yang nampaknya tidak pernah selesai kita bahas setiap harinya. Moving on is a different thing than going on, Moving on means forgetting and letting go. Moving on means making sure that you won’t go back to the things that you were, and to the problems. Dan nampaknya memang sulit untuk kita melakukan hal seperti ini. Karena mungkin pula dalam dunia ini tidak ada yang sebenarnya mudah. Tapi nampaknya aku tidak ingin menulis tentang itu hari ini, aku akan membiarkannya saja, menjalaninya sekarang dan berjanji aku akan lebih sering menoreh disini. Janji, suer. Aku akan berjanji untuk lebih sering menulis dan berusaha bercerita lagi sekarang 😀

Aku kemudian memulainya kembali. Semuanya aku mulai kembali dari awal. Tidak ada yang aku lewatkan, satu per satu aku perhatikan dengan teliti.

Namun bahkan partikel debu terkasar yang menumpuk saja tidak dapat aku lihat. Mataku seperti terbiasa untuk tidak jeli. Mataku terbiasa dengan kotor yang terkesan menghiasi alam dan dunia.

Aku kembali memulai lembaran itu. Kali ini dengan lebih teliti. Kali ini dengan baik-baik. Terlalu baik hingga aku lupa untuk menjadi diriku sendiri. Terlalu baik hingga aku menghela napas, melepaskan diri dari kukungan dunia. Melepaskan diri dari manusia, menjadi manusia.

Ahh aku tetap ingin menjadi manusia, tapi…?

Buat saya menjadi manusia itu memang sedikit sulit. Setiap orang akan memiliki masing-masing definisi akan hidup, masing-masing akan memiliki cara sendiri untuk menjalani hidup mereka. Saya memang bukan psikolog, tidak juga bahkan mempelajari hal tentang pskologi. Namun belakangan ini saya rajin memerhatikan sekeliling saya dan kemudian bertanya, sebenarnya apakah dan bagaimanakah jalan pikiran manusia.

Memang kemudian itu menjadi suatu yang sulit karena saya bahkan kemudian harus mendalami dan berusaha benar-benar mengerti seperti apa jalan pikiran mereka. Saya yakin apa yang saya lihat kemudian juga hanya sebuah tebak-tebakan akan karakter dari orang-orang yang ada disekitar saya.

Berjalan beriring dengan semakin mengenal orang-orang yang ada disekeliling saya, kemudian saya menemukan hal lain. bahwa ternyata di dunia ini banyak sekali orang-orang yang menjalani hidup dengan kepahitan. Ya, saya rasa setiap orang akan merasakan kepahitan dalam hidupnya. Mana ada hidup yang selalu manis tanpa masalah, apabila ada orang yang menjalani hidup seperti itu saya pasti ingin mengenalnya dan hidup bersamanya, karena bebas dari masalah.

Orang-orang yang hidup di dalam kepahitan ini banyak tipenya. Mulai dari yang memalsukan dirinya dan berpura-pura dihadapan kawan-kawannya (ini versi yang paling menjijikkan dari manusia pahit, saya benci orang yang palsu), dan ada pula yang terlihat baik-baik saja namun menyimpan dendam. Contohnya salah satu teman saya yang sangat mungil yang pernah saya bahas pulai beberapa post terdahulu. Kalau saya melihat secara keseluruhan hidupnya berkecukupan, bahkan sangat berkecukupan dia bisa dimasukkan dalam kategori sosialita Jakarta. Namun siapa yang sangka kalau sebenarnya dia adalah orang yang sangat pahit memandang hidup.

Hari ini dia menuliskan blog, judulnya tentang bagaimana ia bersyukur akan kehidupannya. Tapi semakin dibaca semakin saya bertanya tentang konsep bersyukur yang dia miliki. Apa fungsinya bersyukur kalau kita kemudian masih mengeluh akan kehidupan kita. Ya saya tau, saya pun masih mengeluh dan terkadang lupa untuk bersyukur, saya juga bukan manusia suci atau sempurna. Pada dasarnya saya juga hanya seorang manusia yang tidak tau untung terkadang. Cuma saat saya bersyukur, saya benar-benar bersyukur tanpa mengeluh.

Sebenarnya saya juga tidak benar-benar mengerti mau saya bawa kemana tulisan ini. Perlahan skill menulis saya tergerus usia dan mulai tumpul. Saya juga tidak lagi tau mau kemana sebenarnya saya menulis karena tulisan ini sudah saya anggurkan berkali-kali sambil mengerjakan yang lain. Yang saya tau, bersyukur itu adalah berterima kasih, dan sama sekali tidak bisa digabungkan dengan rasa sakit hati atau keluhan. Dan seharusnya sebagai manusia kita harus bersyukur karena kita diberi kehidupan. Semestinya pula saya bersyukur, karena saya masih bisa melanjutkan tulisan ini, dan produktif menulis walau mulai tumpul..

selamat malam, mari kira bersyukur