akhirnya tidak ada lagi kita. tidak ada lagi tanya dan tidak ada lagi jawab. semuanya telah hilang dan berhenti, bersama dengan segala kesalahan yang mungkin pernah bersama kita buat.

kadang aku kemudian bertanya dimana jawaban yang selama ini aku cari? apakah aku bertanya menggunakan pertanyaan yang tepat atau tidak?

Sakit, ya aku masih merasa sakit. Namun aku yakin (mungkin) ini untuk yang terbaik. Mungkin semuanya ini merupakan sebuah pembelajaran akan hidup. Dimana terkadang bahkan rasa berubah menjadi debu yang tak berasa.

Terima kasih untuk cinta, harapan dan perjalanan panjang yang telah kita jalani bersama. Dan bersama ini pula akan aku tutup lembaran buku dengan tinta emas yang pernah kita toreh bersama, menjadikan dia menjadi sebuah kenangan yang terindah. apabila kemudian kita akan bertemu lagi dikemudian hari, mari kita kembali memulai dengan senyum dan sapaan baru, layaknya kembali menorehkan cerita baru di buku yang baru.

Advertisements

Karena pertanyaan lebih banyak tidak terjawab dan keingintahuan selalu menjadi sesuatu yang hitam dan kelam.

Karena jawaban belum tentu menjadi sebuah kepastian dan kehidupan akan lebih banyak menjadi hal yang menyakitkan dan menyelam dalam lautan tanya dengan jawaban. Aku mungkin akan lebih memilih untuk terdiam dalam tanya dan berinteraksi dengan tanya.

 

terjebak, tersesat..

Mungkin sesungguhnya semua orang ada di dalam posisi yang terjebak dan kemudian menjadi serba salah dengan keadaan yang kalau disadari sesadar-sadarnya maka itu adalah sebuah perasaan yang hancur dan salah. Dan percayalah posisi saya saat ini dalam sebuah keadaan terjebak yang terlalu mendalam.

Perbincangan siang ini membuat saya tertawa terbahak-bahak namun kemudian membuat saya menjadi berfikir akan keadaan yang mungkin sebenarnya sesungguhnya benar-benar terjadi. Teori yang salah datang dari seorang bule German yang malah lebih jago berbincang dalam bahasa jawa walau wajahnya sama sekali tidak terlihat seperti orang Indonesia #mulaigakfokus. Tapi pokoknya intinya manusia bule ini malah kemudian mengeluarkan pertanyaan baru yang kemudian mengeluarkan sebuah teori “You are a GAY GUY trapped in a WOMAN body!” and yes, gw kemudian malah menerima teori ini. Gimana kalau memang gw adalah seorang laki-laki yang merupakan sebuah gay karena gw menyukai laki-laki. Percaya? Mungkin gak.. Cuma kalau dipikir-pikir mungkin bener juga. gw suka laki-laki, cuma gw belaku, bersikap dan bertindak seperti laki-laki. Salah? gw tidak merasa salah. Aneh? gw juga tidak merasa aneh akan keadaan gw yang sekarang ini.

Saat ini sesungguhnya gw merasa tersesat dan terjebak. Dalam sebuah keadaan yang bahkan membuat gw merasa tidak nyaman dengan keadaan yang kejadian demi kejadian yang hadapi.

Ah, after all tulisan ini hanya curhatan semata yang sama sekali tidak penting dah bahkan tidak perlu untuk dibaca. Tapi perlahan saya mulai menyadari bahwa mungkin saya sesungguhnya ini laki-laki yang hanya terjebak dan tersesaat di dalam tubuh yang salah.

Aku ingin bertanya kepada dunia tentang perasaan, tentang hal yang aku tidak mengerti. Katanya cinta menenangkan, katanya cinta membuat bahagia. Namun kenapa belakangan aku malah membuktikan bahwa cinta hanyalah perasaan yang tidak begitu berarti. Aku menghela dan kemudian terjera. Aku lupa akan apa yang aku butuhkan dan aku inginkan. Aku terbayang akan luka yang hadir karena cinta yang akhirnya mematikan..

ketika sempurna berelegi, ketika kata berubah menjadi makna. ketika cinta merapuh mengais perih dan aku terpapah menatap nanar. dimana semua kata sempurna yang pernah terucap. pernahkan sebenarnya ada kata dibalik doa, atau hanya sekedar tangisan tanpa makna? atau hanya raungan dalam deruan alam?

alam terkesan angkuh, dan aku terkesan rapuh. di dalam sabda alam yang terus bergaung. aku menjatuh, merapuh, terluka dan terlupakan.

aku tidak pernah meminta kamu untuk bertahan, aku tidak pernah meminta kamu untuk tetap ada. tapi ini semua merupakan pilihan kamu untuk bertahan. jadi jangan pernah bawa aku ke dalam kesalahan kelammu dan menyalahkan aku karena kamu telah bertahan.