And Here I am today..

Malam hari ini saya berusaha menjadi seseorang yang kuat. Well yes I guess so.. seseorang yang kuat dan tidak boleh menangis lagi, karena bukankah Tuhan sebenarnya sudah mengirimkan seseorang yang hampir selama hidup saya, saya cari? Bukankah Tuhan bahkan sudah mengabulkan hampir semua permintaan saya dalam hidup dan rasanya tidak ada lagi yang kurang? Cuma entah mengapa sampai saat ini banyak sekali perasaan perasaan yang membuat saya ingin mundur dan berlari sejauh saya mampu.

Saya terlahir sebagai anak perempuan yang sering disakiti. Yeah saya rasa itu merupakan deskripsi yang cukup tepat untuk menggambarkan siapa saya sebenarnya. Hanya seorang anak perempuan biasa yang sedang mencari kebahagiaan. Pengalaman demi pengalaman hidup yang nampaknya seharusnya belum saya rasakan sudah saya lalui seperti hanya lembaran demi lembaran kehidupan yang mau-tidak-mau, suka-tidak-suka harus saya lalui. Jujur, memang saya belajar banyak dan dengan semua yang saya lalui ini saya memang menjadi jauh lebih dewasa dari seharusnya. Jauh lebih mudah mengerti makna kehidupan dan dari semua yang harus saya lalui ini sendiri. Menyesal? Mungkin ada sedikit rasa sesal yang saya rasakan jauh sekali di dalam lubuk hati saya. Bahkan ada rasa iri yang begitu kuat dari dalam diri saya apabila saya melihat bagaimana teman-teman saya yang lainnya, yang mungkin seusia saya atau hanya beberapa tahun lebih tua dari saya dapat menikmati indahnya masa remaja, dapat menikmati indahnya kesenangan duniawi. Ingin rasanya saya teriakan semua keluh kesah saya pada dunia, pada orang-orang yang menganggap saya kuat dan tegar menghadapi hidup ini, tetapi apakah saya sanggup menghancur image yang selama ini telah saya tumbuhkan?

Dari luar mungkin saya terlihat seperti anak berusia 19 tahun yang ceria, happy-go-lucky, easy going, jahil, selalu tertawa dan nampaknya hidup saya ini jauh sekali dari kata SEDIH. Kadang saya merasa nyaman juga dengan topeng yang sudah melekat pada wajah dan tubuh saya ini, setidaknya orang lain tidak tau kalau saya sedih atau sedang kesusahan. Setidaknya tidak perlu saya diberi simpati oleh orang lain tentang kehidupan saya yang saya rasa sudah cukup berantakan. Gila, Heboh, suka tertawa, usil, happy-go-lucky, rasanya ingin sekali saya menjadi benar-benar seperti itu. Kalimat bisa karena biasa memang benar-benar melekat sekali pada saya, saya terbiasa menutupi semua perasaan yang sebenarnya saya rasakan, saya terbiasa telihat senang dan bahagia, tegar dan kuat, dewasa dan perhatian membuat saya dikenal menjadi pribadi yang mungkin admirable di mata banyak orang yang kenal-kenal-kucing dengan saya.

Kalau ditanya berapa banyak sahabat yang saya punya? Sulit untuk saya jawab. Sahabat, kalau terdahulu dalam postingan artikel saya tentang arti sahabat, ada 3 yang saya sebutkan. Tetapi hari ini saya sepertinya akan meng-contradict apa yang pernah saya tulis. Pertanyaan apakah mereka benar-benar sahabat? Atau hanya teman dekat biasa yang mewarnai hari-hari saya? Entahlah saya sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Karena jujur saja, saya sendiri nampaknya masih sulit sekali untuk mendeskripsikan atau menjelaskan apa makna dari sahabat, atau best-friend, atau apapunlah panggilannya. Saya bukan orang yang terbuka, saya akui itu. Pada keluarga saya sendiri, atau mungkin lebih spesific, kepada ibu saya sendiri saya tidak banyak berbicara, sharing dengan ibu saya itu satu hal yang mahal sekali.
Saya adalah manusia introvert yang berusaha menjadi extrovert, begitu seseorang pernah mendeskripsikan saya suatu ketika yang membuat saya sedikit melompat kebelakang dari hadapan orang tersebut. Cukup mengejutkan karena selama ini belum ada sama sekali orang yang dapat membaca saya seperti seseorang ini. Memang mungkin itu merupakan sebuah kalimat yang tepat sekali untuk kembali mendeskripsikan saya.

Apakah menyedihkan hidup saya selama ini? Mungkin.
Apakah saya sekarang telah menemukan kebahagian itu? Mungkin.
Yeah hanya 2 jawaban itu yang dapat saya katakan saat ini. Semuanya hanya Mungkin. Karena jujur saya sendiri masih hilang dalam kehidupan yang entah kapan berakhirnya. Terkesan bodoh ya? Terkesan desperate? Ya mungkin itulah yang sering saya rasakan.
Hampir setiap malam saya menangis, entah karena apa. Yang pasti ada perasaan aneh di dada saya yang sepertinya memompa air mata saya untuk terus mengalir tanpa henti hingga akhirnya saya terlelap karena lelah menangis, kemudian saya akan bangun di ke-esokan harinya dengan kepala berat dan mata sebesar bola pingpong akibat tangisan tanpa alasan saya di malam kemarinnya.

Sampai hari ini, setelah sekian lama saya menjalani rutinitas malam hari saya yang prcaya tidak percaya setelah hampir 10 tahun ini ternyata sama, MENANGIS. Kecuali apabila saya sedang berlibur, atau sedang bertemu dengan orang pada malam hari maka menangis akan keluar dari rutinitas saya pada malam hari.
Malam hari ini saya kembali menangis, mungkin saat ini saya sedikit tau alasannya mengapa saya menangis malam hari ini. Ketakutan, ada sesuatu yang nampaknya takut sekali saya rasakan kembali. Ada keinginan untuk membuang semua rasa takut ini, ada keinginan untuk membuang semua yang ada dan benar-benar menjadi seorang yang happy-go-lucky, yang nampaknya tak banyak hal yang dipikirkan di benak mungil ini.

Entahlah, here I am today, I guess not yet moving on. Stuck in a moment, yang entah kapan akan saya lewati dengan baik. Yang saya tau saat ini, saya merindukan sosok itu, saya merindukan pelukannya, saya merindukan senyumnya, dan saya ketakutan apabila saya harus kehilangan sosok itu lagi dari hidup saya.

Just when I need you the most

Back when I was a child
Before life removed all the innocence
My father would lift me high
And dance with my mother and me and then

Spin me around till I fell asleep
Then up the stairs he would carry me
And I knew for sure
I was loved

If I could get another chance
Another walk, another dance with him
I’d play a song that would never, ever end
How I’d love, love, love to dance with my father again

Ooh, ooh

When I and my mother would disagree
To get my way I would run from her to him
He’d make me laugh just to comfort me, yeah, yeah
Then finally make me do just what my mama said

Later that night when I was asleep
He left a dollar under my sheet
Never dreamed that he
Would be gone from me

If I could steal one final glance
One final step, one final dance with him
I’d play a song that would never, ever end
‘Cause I’d love, love, love to dance with my father
again

Sometimes I’d listen outside her door
And I’d hear her, mama cryin’ for him
I pray for her even more than me
I pray for her even more than me

I know I’m praying for much too much
But could You send back the only man she loved
I know You don’t do it usually
But Lord, she’s dyin’ to dance with my father again
Every night I fall asleep
And this is all I ever dream

Dance With My Father – Luther Vandross

Saya rasa setiap orang pasti selalu ingin memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia bukan? Mungkin sama seperti saya, hampir 20 tahun menjalani hidup dan hampir selama itu pula saya selalu mencari seorang sosok yang dapat saya panggil ayah. Jujur saja, saya cukup melalui up and down dalam hal pencaharian sosok ini. Dimulai dari mendapatkan perhatian dari cowo sedikit saja rasanya saya bisa dengan mudahnya jatuh cinta dan langsung saja dekat dengan mereka dan take them as granted tanpa memandang usia atau apapun lagi, bahkan saya rela melawan ibu saya hanya untuk mendapatkan perhatian dari seorang sosok yang dulu saya percayai bisa melindungi dan menjaga saya.

Dalam waktu hampir setengah tahun ini dunia saya bisa dibilang cukup berubah. Berkali-kali bertemu dengan sosok yang salah membuat saya belajar tidak semua orang yang baik dan memberikan perhatian terhadap saya bermaksud baik, terutama apabila mereka berjenis kelamin laki-laki. Berkali-kali saya mengingatkan diri saya untuk menjaga jarak, untuk lebih pintar memilih, untuk lebih berhati-hati tetapi nampaknya larangan-larangan yang saya buat itu hanya bertahan sesaat saja, lalu tak lama kemudian saya akan kembali melupakannya. Sampai akhirnya mungkin saat ini saya dapat mengatakan kalau saya telah menemukan orang yang tepat dan orang yang sepertinya akan amat saya sesalkan apabila dia kembali hilang.

Setelah hampir 20 tahun masa pencaharian seorang sosok yang bisa saya panggil ayah, akhirnya saya benar-benar menemukan sosok itu dalam hidup saya dan betapa nyamannya memiliki sebuah sosok yang selalu bisa saya banggakan dan saya sayang, bisa melindungi saya dan dapat menjadi tempat saya bercanda tawa. Bukan hanya sebagai ayah, tetapi juga sebagai sahabat. Seorang sosok yang secara tidak sengaja saya temukan ketika frustasi dan depresi nampaknya benar benar sudah berada di ubun-ubun kepala saya. Terkadang saya merasa ketika kita mencari kita tidak akan menemukan karena mata kita terlanjur terbutakan, tetapi apabila kita sedang tidak mencari kita malah menemukan mereka, dan saya sungguh bersyukur bisa bertemu dengan sosok ini.

Seorang sosok yang begitu dapat saya banggakan, walaupun jujur saja saya harus melawan begitu banyak hal dan juga begitu banyak pikiran yang dapat membuat saya hampir bunuh diri rasanya, tetapi saya yakin semua yang hadir dan terjadi saat ini dalam hidup saya merupakan sebuah phase pendewasaan diri yang harus saya lalui. Menemukan sosok ini merupakan anugrah yang sangat berharga untuk saya, dan saya yakin Tuhan pun mengirimkan sosok ini untuk saya sayangi dan untuk saya hargai. Hari ini saya menulis ini mungkin karena saya begitu merindukan pelukannya, ciuman hangatnya di pagi hari, senyumnya yang menyapa saya setiap kali saya bangun pagi ketika saya sedang berlibur ke Indonesia belum lama ini. Ada sedikit rasa sesak yang begitu menghujam saya karena saya sadar saya begitu merindukan dia. Bertahun tahun dalam hidup saya, tidak pernah sama sekali saya terbangun lalu mencari seseorang untuk hanya memeluk saya agar saya merasa aman, karena selama ini saya merasa harus bisa menjadi sang aman untuk orang-orang yang ada disekitar saya.
Hari ini saya mungkin bisa tersenyum walau sendu ketika saya mengingat sosok ini. Ada perasaan takut yang teramat sangat apabila saya harus kehilangan sosok ini sekali lagi. Rasanya tak bisa dihitung berapa ember air mata yang telah mengalir karena ketakutan yang timbul lagi dan lagi karena mungkin trauma kehilangan. Jujur saja saya tidak bisa membayangkan apabila suatu hari nanti saya harus kehilangan sosok ini lagi.

Saya ingat sekali ada seorang sahabat yang juga merupakan sahabat sosok yang selama ini saya cari juga berkata, ‘kalau takut terus kapan majunya! hadapi, karena apapun itu pasti akan indah pada waktunya’
dan ya saya percaya itu, semuanya akan indah pada waktu..
dan semoga saja sosok ini akan terus ada, sosok ini akan terus menemani saya, menyayangi saya selayaknya seseorang yang saya dambakan selama hampir 20 tahun ini..

NB: daddy, i miss you so bad.. miss ur hugs and kisses.. also your bright smile in the morning. Love you so much daddy..
Twwwwwwwwwwiinn.. I miss u too!

iman dan kepercayaan..

Ada begitu banyak hal dalam hidup ini yang membuat kita jadi berfikir mana yang benar dan mana yang salah sebenarnya. Banyak kejadian pula dalam hidup yang membangunkan kita dari tidur, manampar kita dengan keras agar kita sadar dengan realita hidup yang entah keras atau tidak tetapi semuanya itu sebenarnya berkesinambungan dengan pendewasaan diri kita sebagai manusia.

Selama liburan saya hampir 3 minggu ini banyak sekali kejadian menarik yang membuat mata saya terbuka lebih lebar dalam banyak hal. Dari iman sampai hanya kejadian kecil yang mungkin tidak bisa disebut berarti dalam hidup manusia.
yang benar” saya pelajari adalah, hanya dengan iman yang sekecil biji sesawi saja itu bisa menyelamatkan begitu banyak orang. kalau dulu saya masih suka meragukan hal tersebut, mungkin sekarang saya telah percaya hanya dengan segelintir saja, saya bisa menyelamatkan dunia. Mungkin dunia masih dalam skala yang terlalu besar untuk saya peluk, tetapi untuk menyelamatkan seseorang yang saya sayang, hanya dengan iman yang kecil saja itu sudah bisa menyelamatkan, apalagi kalau kita memiliki iman yang lebih kuat?

Kuncinya percaya saja. itu yang nampaknya ingin sekali saya bagi hari ini. Mungkin tulisan saya sendiri hari ini tidak begitu jelas apa maunya, karena sambil mengetik saya sambil ditemani 2 anak anak yang begitu saya sayang, duduk di rumah orang yang sudah menganggap saya keluarga padahal saya hanya orang lain untuk mereka. Tetapi hari ini jujur saya bahagia, walau masih ada sedikit rasa ragu dan takut yang menghantui hati saya, tetapi asalkan saya percaya maka saya yakin semuanya akan diselamatkan..
dan saya berharap, ketika teman teman membaca tulisan saya hari ini.. maka anda pun akan mulai percaya dan semuanya akan terselamatkan..

Puas.. Apakah itu abadi?

Sudah hampir 1 minggu terakhir ini saya dan teman-teman saya akan pergi ke salah satu tempat ermain dan menghabiskan berpuluh-puluh dolar setiap harinya hanya untuk bermain bumper car atau yang mungkin lebih dikenal dengan bom-bom car di Jakarta. Sudah hampir 2 minggu berturut-turut kami sama sekali tidak pernah absen untuk pergi dan bermain disana. Ada sebuah perasaan bahagia serta puas setiap kali kami selesai bermain dan rasanya ingin lagi dan lagi.

Setiap hari kami bertabrakan satu sama lain. Menabrakkan diri ke mobil lain, menabrak mobil lain sampai secara tidak sengaja kami telah menyakiti satu sama lain dengan cukup parah. Kadang dalam bermain bumper car tersebut kami akan mengejar satu sama lain untuk menabrakkan diri dan membuat teman yang ada di mobil yang kami tabrakkan berteriak mengaduh lalu kemudian kami akan tertawa. Sungguh sangat menyenangkan setiap kali kami bermain, rasa uang yang kami bayarkan ke tempat bermain, yang jujur saja apabila saya kurskan ke rupiah, setiap kali kami bermain selalu lebih dari 100 ribu Rupiah, tetapi rasanya semua yang dibayarkan sungguh menyenangkan.

Hari ini kami kembali bermain, setelah bermain kami merasakan lelah, sakit, senang, dan ngilu-ngilu di beberapa tempat yang sempat terantuk. Selalu ada saja cerita dan teriakan bahagia kami setiap kali kami selesai bermain, bercerita satu sama lain bagaimana si A menabrak, bagaimana si C tertabrak dan lain lagi sebagainya. Ketika salah satu dari kita tertabrak dengan sangat keras maka kami akan semakin senang, dan kemudian kejadian ini mengingatkan saya pada suatu hal.

Ketika ada orang yang kesakitan kita kok malah bahagia ya? Pertanyaan ini muncul dibenak saya, sempat saya termenung sesaat di tengah sibuknya saya bermain, tetapi kemudian pikiran saya ini lenyap begitu saja karena saya sudah kembali mulai sibuk mengejar-ngejar teman saya yang menabrak saya atau sibuk melarikan diri agar tidak ditabrak.
Perasaan seperti yang saya rasakan tadi mungkin pernah juga dirasakan oleh kebanyakan di antara kita, dimana sepertinya di atas penderitaan orang lain kita akan tertawa. Mungkin tidak disengaja, atau mungkin sebenarnya kita hanya bercanda dan hanya menikmati suasana, tetapi tetap kita tertawa di atas penderitaan orang lain bukan?

Apakah itu termasuk kejahatan? Saya rasa bukan, dibilang itu sebuah dosa juga bukan walau memang kita sengaja melakukan hal tersebut untuk mendapatkan sebuah kata ‘PUAS’.
Sebuah kata yang nampaknya sangat diperlukan salam kehidupan, sebuah kata yang nampaknya bisa menjadi sebuah kunci sukses, atau bisa juga menjadi boomerang bagi diri kita sendiri. Terkadang ketika kita tertawa di atas penderitaan orang lain, ketika kita tertawa di atas kekalahan orang lain, ada sebuah perasaan ‘superior’, ‘puas’, ‘bahagia’.
Tetapi kalau kita pikirkan lagi, perasaan tersebut tidak dapat bertahan lama. Semua perasaan itu kebanyakan hanya kita rasakan sesaat kemudian akan hilang ditelan masa dan juga akan hilang dengan masalah yang kemudian akan datang.
Apakah perasaan itu yang selama ini kita cari? Apakah itu yang benar-benar kita inginkan dalam hidup? Memang tidak mudah untuk menghilangkan apa yang sudah kta rasakan sekarang ini, tetapi kita bisa mencoba bukan?

Belajar Menunggu

Saya yakin menunggu bukanlah sesuatu hal yang disukai oleh banyak orang. Bahkan banyak juga orang yang membenci menunggu, Ada banyak pepatah yang berkata, menunggu merupakan hal yang menyebalkan dalam hidup mereka. Saya sendiri tidak suka menunggu, karena jujur saja menunggu itu membosankan, banyak anak muda yang akan bilang menunggu itu ‘magay’ (mati gaya) dan memang itulah kenyataannya. Tetapi disadari atau tidak dalam hidup ini sebenarnya kita melakukan banyak hal yang berkaitan dengan menunggu. Dan hidup sendiri itu adalah sebuah penantian sebenarnya, kita semua saat ini sedang menunggu sesuatu, entah apa. Kita semua sedang menunggu alasan dan juga kepastian mengapa hari ini kita ada di dunia ini, hidup di sini dengan segala hal yang ada disini.

Jujur, bagi saya mempelajari sesuatu saat ini sangat sulit. Mungkin sebuah kalimat ‘bisa karena biasa’ itu hal yang paling benar untuk saya katakan saat ini. Hari ini saya bisa melakukan banyak hal karena saya biasa dengan hal hal tersebut. Tetapi untuk menunggu, nampaknya saya memang tidak terbiasa untuk menunggu. Dan saat ini saya sedang di uji, di uji untuk menunggu. Berhari-hari saya menolak, berhari hari saya berkata pada diri saya, akh saya tidak mau menunggu. Dan begitu banyak pertanyaan demi pertanyaan yang kembali menghantui kepala saya. Menunggu memang bukanlah hal yang menyenangkan, seperti yang saya katakan di awal tadi, menunggu bisa jadi hal yang kita benci sepanjang hidup kita. Tetapi kembali, menunggu sebenarnya merupakan hal yang setiap hari kita lakukan. Menunggu makanan, instalasi komputer anda, atau menunggu acara yang paling anda gemari di stasiun televisi kesayangan anda. Itu semua memang menunggu, tetapi kita tidak pernah sadar kalau sebenarnya kita menunggu karena yang kita tunggu adalah sesuatu yang menyenangkan dan akan menghibur.

Jadi mengapa tidak mengganti semua yang anda tunggu menjadi sesuatu yang anda yakini akan membawa kebahagiaan? Walaupun dalam benak anda masih ada begitu banyak pertanyaan dan kebosanan yang akan mengganti. Tetapi tetap letakkan paling pertama di benak anda bahwa apa yang anda tunggu merupakan sesuatu yang dapat menghibur anda. Seperti sebuah kalimat tadi, ‘bisa karena biasa’ dan saya pun yakin kalau kita bisa membiasakan diri kita untuk berfikiran demikian, maka menunggu tidak akan menjadi hal yang membosankan lagi.