Cita-Cita tanpa Usaha

Hari ini saya terbangun kaget dan kemudian ada sebuah kalimat pepatah yang menghantui kepala saya pagi ini hingga detik ini ketika saya sedang menulis artikel ini. Letakkan cita-citamu setinggi langit, tetapi tetaplah berusaha karena tanpa usaha sia-sialah cita-cita tersebut.
Saya dulu sering sekali diingatkan oleh ibu saya, saya harus punya banyak cita cita agar kedepannya saya bisa melakukan apa saja dan banyak hal yang memang disugguhkan oleh dunia ini sebenarnya. Sepanjang hidup saya hinggal 20 tahun ini memang selalu dipenuhi dengan cita-cita, angan-angan, bahkan permintaan demi permintaan yang tiada kunjung henti. Terkadang saya sebagai merasa manusia merasa sebagai manusia yang tidak pernah mengerti apa kata puas.
Hari ini entah mengapa kalimat ini terus menerus melekat di otak saya, entah saya sebenarnya sedang dibangunkan oleh alam bawah sadar saya untuk berusaha dan jangan hanya bercita-cita atau ada hal lain tetapi kalimat ini hanya terulang dan terulang dan kembali terulang.

Kalimat ini mengingatkan saya akan sebuah cerita yang pernah terjadi dalam hidup saya. Dulu saya memiliki seorang teman yang jarang sekali bercita-cita. Hidupnya begitu simple dan berjalan seiring dengan arus air. Kadang saya merasa iri dengan dia karena bagaimana dia sangat diam dan bisa menjalaninya tanpa banyak permintaan, sedangkan saya malah selalu banyak sekali permintaannya. Suatu hari ketika saya sedang berjalan jalan menghabiskan waktu dengan teman saya ini kemudian dia bertanya pada saya,

.eh gimana sih rasanya punya cita-cita?
..haaa? jadi banyak maunya
.akh masa sih?
..ya begitulah kira-kira.. jadi pengen ini itu
.gw jarang ada cita-cita.. tau ga kenapa?
..nope.. why?
.karena gw ga mau usaha.. makanya gw ngikutin arus aja.

Sesaat saya terdiam dengan jawaban dia dan kemudian saya terpaku. Berulang kali saya berfikir, mengulang ngulang jawabannya, ‘tidak mau usaha’. Sebenarnya memang benar, setiap kali kita berangan-angan tentu saja kita harus berusaha dan berusaha untuk menggapai apa yang kita ingin. Seperti misalnya sesaat kecil, ada beberapa orang tua yang akan memberikan hadiah kepada anaknya apabila sang anak telah mencapai sesuatu, seperti mendapatkan nilai bagus disekolah atau menjadi juara di kelasnya. Keinginan anak-anak untuk membeli apapun yang mereka mau akan diinginkan saat itu. Atau mungkin anak-anak hanya akan diberikan hadiah satu tahun sekali ketika sedang berulang tahun. Sadar atau tidak sebenarnya itu merupakan sebuah pembelajaran buat si anak agar berusaha dan menunggu untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Sampai hari ini saya masih sering sekali bertemu dengan banyak orang yang punya begitu banyak cita-cita. Cita-cita yang mereka miliki tinggi setinggi tingginya langit ke tujuh, tetapi mereka selalu mengeluh, sulit mendapatkannya dan lain sebagainya. Tetapi saya menemukan sebuah faktor utama mengapa kebanyakan cita-cita atau impian itu tidak tercapai, dan semua itu hanya karena kita tidak mau berusaha.
Jadi berusahalah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, bukankah memang sudah mendarah daging sejak kita kecil apabila kita menginginkan sesuatu kita harus berusaha? Jadi mengapa sekarang berhenti berusaha apabila kita punya cita-cita.

Tidak ada yang salah dengan memiliki cita-cita setinggi langit, tetapi jangan hanya bercita-cita, jangan hanya berangan-angan. Tetapi wujudkan mereka dengan usaha.

Advertisements

Kekurangan yang menjadi Lebih

Beberapa hari ini saya banyak sekali menunda pekerjaan saya yang seharusnya sudah saya selesaikan secara langsung pada saat saya mengerjakan pekerjaan itu, tetapi entah mengapa rasanya saya malas sekali untuk melakukan semua hal yang seharusnya saya lakukan.
Rasa malas memang sering kali muncul pada diri saya terutama pada saat saya sedang merasa depresi atau frustasi yang saya sendiri tidak jelas asalnya dari mana. Dan memang beberapa hari ini saya sedang mengalami beberapa kali mimpi buruk dalam tidur malam saya sehingga ketika saya terbangun keesokan paginya saya selalu merasa lelah dan entah mengapa hal ini membuat mood saya jadi tidak kauran berantakannya.

Seperti siang hari ini, memang saya tetap pergi ke kampus walaupun saya terlambat sampai di kelas. Saya tetap pergi ke kantor walaupun tidak banyak hal yang saya kerjakan kecuali mengecek beberapa dokumen dan menunda beberapa artikel yang seharusnya saya serahkan kepada editor saya hari ini dan berjanji akan mengumpulkannya hari senin besok.
Malam inipun sebenarnya saya memaksakan diri saya untuk mulai mengerjakan semua pekerjaan yang mulai menumpuk. Entah mengapa mood saya untuk melakukan hal yang berguna berkurang dan saya malah lebih memilih untuk menikmati waktu saya untuk pergi berjalan-jalan, memotret pemandangan, berenang, membaca buku, atau bahkan hanya memejamkan mata sambil merebahkan tubuh saya berangan-angan.
Apakah mungkin karena saya terlalu lelah untuk menulis dan belajar, atau sebenarnya saya terlalu lelah berfikir tentang banyak hal yang hanya merupakan angan angan saja. I may take things too much in granted sometimes, tetapi saya tau semua itu sebenarnya untuk menyenangkan hati saya sesaat.

Menyenangkan hati yang sedih memang merupakan tugas kita sebagai seorang individu. Kita harus menjaga diri kita sendiri dan menyenangkan diri kita sendiri, karena seperti kata sebuah kalimat yang sering saya dengar dilontarkan oleh seorang terdekat saya, ‘kalau bukan kita sendiri, siapa lagi?’. Saya ingat ini sering kita jadikan sebuah motto ketika saya sedang semangat mengerjakan beberapa hal. Karena saya tidak suka menyuruh atau meminta tolong apabila saya dapat melakukannya sendiri. Saya memiliki motto, ‘lebih baik menolong dari pada ditolong’ yang mungkin buat sebagian orang merupakan sebuah motto yang salah besar. Tetapi sudah hampir 20 tahun saya hidup dengan motto tersebut.

Kemudian saya menemukan diri saya hari ini, dengan amat sangat terpaksa menulis dan mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus saya kirim melalui email besok pagi. Dan ketika saya melakukan saya berulang kali berusaha menghilangkan kata-kata pada benak saya seperti:
‘akh masih ada hari esok’
‘akh aku udah capek’
atau
‘akh udah akh berenti dulu..’

Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak saya, Apakah karena saya telah jenuh? Apakah karena saya telah lelah? Atau ada hal lain yang belum saya ketahui yang sepertinya menghalangi saya untuk melakukan semua hal yang sepertinya harus saya lakukan.
The time is ticking, and yet nampaknya saya sama sekali tidak menemukan di sisi mana kesalahan dan mengapa kemalasan saya terus menerus muncul. Dan kemudian saya sadar, bahwa saya hanya membutuhkan sebuah saat tenang dan sedikit melepaskan diri dari segala kesibukan saya, melepaskan diri dari semua hal yang mengukung saya selama ini. Saya harus melepaskan diri dari kebanyakan pekerjaan yang sebenarnya hanya merupakan pelarian saya dari segala kesedihan dan kesakitan. Seperti yang pernah saya tulis di artikel saya sebelumnya bahwa kita harus mengenali masalah kita dan kita harus bisa mengerti apa yang sebenarnya kita sebagai individu inginkan.

Manusia memang terkadang memiliki kelemahan, tetapi kenali kelemahan demi kelemahan yang kita miliki dan rubahlah itu menjadi kekuatan. Karena sebenarnya kita semua memiliki banyak kelebihan dari segala kekurangan yang kita miliki asal kita bisa mengolah dan merubah mereka menjadi sesuatu yang akan menjadi sayang berguna dikemudian hari.

Dewasa atau..

kadang beberapa kali kita tumbuh besar seiring berjalannya umur kita merasa bahwa diri kita sudah dewasa. Bertambah umur, tandanya kita sudah dewasa. Tetapi apakah benar begitu, dengan kita bertambah umur tandanya kita sudah bertambah dewasa? Beberapa hari yang lalu, saya tercenung mendengar sebuah prediksi atau hitungan kasar oleh seorang kawan lama kepada saya.

‘Kamu itu pikirannya udah 27 tahun’

sesaat saya terdiam, 27 tahun, umur itu sepertinya sudah jauh sekali dari usia saya yang sebenarnya yang baru saja beranjak ke 20. Masih butuh waktu lebih dari 8 bulan lagi untuk saya mencapai ‘the big TWO-ZERO’ dalam hidup saya. Tetapi sekarang malah ada yang bilang kalau umur saya ini sudah 27 tahun. Memikirkan hampir mencapai 20 saja saya sudah merasa tua, apalagi 27.
Tentu saja kemudian saya bertanya, dari mana perhitungan usia pemikiran saya mendadak ia bisa mengatakan bahwa saya memiliki pikiran orang berusia 27 tahun, dan katanya hanya merupakan perhitungan kasarnya saja setelah ia membaca beberapa artikel yang saya torehkan di blog ini.

Kemudian saya berfikir, memang banyak orang yang telah mengenal saya baik dan pernah membaca beberapa artikel maupun tulisan dalam bentuk apapun yang saya tulis mereka pasti akan berkata kalau semua pemikiran saya memang lebih dewasa dari umur saya yang sebenarnya. Tetapi darimanakah mereka menilai pemikiran dan umur saya? darimanakah mereka menilai sebuah kata DEWASA?
Lalu kemudian saya mendapatkan jawabannya dengan versi saya. Versi seorang anak muda yang sedang beranjak dewasa, dari mana mereka menilai kedewasaan seseorang.

Coba tanyakan beberapa pertanyaan ini kepada diri anda sendiri:
1. Apakah anda sudah bisa mempercayai perkataan diri anda sendiri?
2. Apakah anda sudah bisa hidup dengan apa yang anda percayai?
3. Apakah anda bersikap baik ketika anda sedang bersama teman atau kerabat anda?
4. Apakah anda dapat mengontrol diri anda?
5. Apakah anda dapat menerima apabila di kritik?
6. Apakah anda bisa bersikap di depan banyak orang?

Beberapa pertanyaan itu mungkin dapat mewakili beberapa ciri dan juga sifat dimana orang bisa menyebut orang lain dewasa.

Kedewasaan sendiri bagi sebagian orang merupakan sebuah momok yang begitu menyeramkan, karena begitu kita sudah mendapat gelar dewasa, tandanya kita harus menjadi kita sendiri. Kita harus bisa memutuskan beberapa hal untuk diri sendiri dan lain lagi sebagainya dimana kita sudah tidak bisa bergantung kepada orang tua kita. Dimana kita sudah tidak bisa meminta bantuan kepada orang lain dan kita sudah harus bisa mencari solusinya untuk diri kita sendiri. Memilah milih mana yang benar mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk. Semua itu tentunya memiliki syaratan dan juga perbandingan serta pemikiran masing-masing yang saya yakin berbeda dari satu antara lainnya.

Jadi apakah yang dinamakan dewasa? Apakah ketika kita sudah bisa memilih, memutuskan dan menilai hal hal tertentu? Apakah ketika kita sudah sampai di umur 20? atau masih ada lagi yang lainnya?
Saya yakin semua daripada kita pasti memiliki definisi masing-masing untuk hal ini.

Dewasa, mungkin memang bukan sesuatu yang mudah didapatkan. Sampai hari ini, masih ada beberapa orang yang saya kenal, yang sudah jauh umurnya di atas saya dan di mata saya mereka sebenarnya sama sekali belum sampai pada sebuah phase hidup ‘kedewasaan’ mereka masih ada dalam phase ‘pendewasaan’
Dewasa, mungkin memang membutuhkan waktu untuk mencapai itu, dan saya yakin semua orang memiliki ciri masing masing dan perasaan masing masing ketika mereka sudah dewasa.
It’s not about age, it’s not about belief. It’s about what you, what you wanna be, and what you wanna learn. Itu yang saya percaya dari sebuah kedewaaan.

mengenali masalah anda

Pernahkah anda merasakan ditelinga anda rasanya ada banyak sekali teriakan teriakan dan bising sekali sehingga anda sulit berkonsentrasi?
Mungkin sebagian dari kita sering mengalami hal ini, dimana sebenarnya kita sedang duduk di tempat yang sepi dan sama sekali tidak ada suara apapun kecuali mungkin ketikan jari anda pada keyboard, atau mungkin suara pendingan ruangan anda, tetapi anda bisa mendengar suara bising dan teriakan teriakan yang tak jelas asalnya dari mana.

Saya, sudah sekian lama saya tidak mendengar atau merasakan hal itu. Mungkin karena saya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan juga kegiatan saya sehingga waktu untuk tenang saya pun nampaknya terlupakan begitu saja. Tetapi pagi tadi ketika saya mendudukan diri saya di bangku ruangan kantor saya, lalu melihat kesekeliling saya cukup tercengang, melihat tumpukan pekerjaan yang belum saya kerjakan. Sesaat saya terdiam, kantor masih sepi karena masih pagi dan juga karena kemarin malam hampir 1 kantor lembur hingga entah jam berapa mengejar beberapa deadline yang harus diselesaikan sebelum majalah kami terbit minggu depan.
Sesaat saya mulai menarik satu persatu berkas berkas yang bertumpuk dimeja saya dan mulai meliti mereka dan mulai mengecek apakah mereka sesuai dengan konsep yang saya berikan awal bulan lalu. Sebenarnya ingin sekali saya menyalakan kumpulan mp3 saya, tetapi entah mengapa saya menyukai ketenangan disekeliling saya. Sedang asik mengecek data dan menandatangani beberapa data perlahan saya mulai mendengar kebisingan samar samar di telinga saya. Saya pikir anak anak kantor sudah mulai kembali ke kantor dan mulai meminta data satu sama lain untuk menyelesaikan majalah kami yang memang sudah harus di berikan ke percetakan besok siang, tetapi ketika saya melihat berkeliling kantor saya masih sepi. Hanya ada beberapa reporter dan writer yang sedang sibuk mengutak ngatik di laptop mereka masing-masing.
Sesaat saya sadar bising yang saya dengar ini datang dari diri saya sendiri. Sebenarnya saya sendiri masih bingung darimana asal bising yang saya dengar ini. Entah dari dalam hati dan perasaan saya sendiri? Entah dari kepala saya yang mungkin membutuhkan rehat sejenak dari segala aktivitas saya atau entah dari mana.. Saya merenung kemudian tercenung sesaat mendapati mungkin itu merupakan suara perasaan saya yang selama ini saya diamkan dan tidak saya hiraukan rasa sakit atau rasa apapun yang sedang mendera saya.

Terkadang kita melupakan apa yang seharusnya kita rasakan. Bukan melupakan, mungkin berusaha melupakan dan berusaha menghilangkan perasaan yang datang mendera hati dan pikiran kita. Mungkin akan dilakukan dengan mengisi hari kita dengan begitu banyak pekerjaan dan kegiatan yang tidak kunjung reda, sehingga untuk memikirkan apa yang kita rasakan saja kita tidak punya waktu. Tetapi terkadang perasaan ini malah ingin diperhatikan, perasaan ini ingin kita merasakan mereka dan belajar dari apa yang pernah terjadi dalam hidup kita.
Jujur saya sendiri berfikir, apakah saya memang harus melakukan dan kembali merasakan sakitnya mereka? Tetapi pernah ada sebuah pepatah mengatakan, ‘pengalaman merupakan guru paling berharga dalam hidup.’
mungkin memang kita harus selalu belajar dari pengalaman yang pernah hinggap dikehidupan kita. Mempelajari dan menghargai perasaan dan kesakitan memang tidak mudah, tetapi sekali kita bisa memperlajari mereka dan mengerti semua perasaan itu, maka kita sudah ada dalam phase kehidupan yang disebut dewasa.

Jangan pernah takut untuk merasakan semua perasaan yang pernah menyakiti anda. Karena semua itu hanyalah sebuah perasaan yang akan berlalu apabila anda tau bagaimana menanganinya.

after sometimes..

Udah lama banget kayaknya gw tidak menggunakan blog gw untuk curhat sejak gw menjadikan blog gw ini untuk jadi tempat articles gw..
But since sudah beberapa saat ini gw lagi mikir dan mengalam beberapa kejadian yang nampaknya membuat gw cukup down, gw lagi bingung how can I really start writing again.. masih menunggu beberapa inspirasi yang gw butuhkan untuk menulis..
after sometimes, memang banyak banged hal yang pengen gw tulis jadi article untuk dimuat di majalah, atau hanya dijadikan sebuah renungan buat kita mempelajari kehidupan kita yang sebenarnya indah ini, hanya saja, nampaknya gw masih harus butuh waktu untuk tenang dulu dhe.. lagi ngambil cuti untuk beberapa saat berhenti dan merenung dalam kehidupan dan keseharian gw.

well, masih menunggu inspirasi dan holiday soon.. cant wait for holidayy!! and start photographing the scenery..

Sekarang, Bukan Nanti..

Note: Apa yang tertulis disini merupakan opini dan pandangan dari sang penulis semata, apabila ada kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebelumnya.

Pernahkah anda merasa di benak anda ada begitu banyak hal yang sepertinya bisa menjadi sebuah masterpice? Saya yakin semuanya dari kita pasti pernah mengalami moment seperti ini, saya sendiri mengalami moment seperti itu saat saya dalam kesedihan atau mungkin dalam diam. Ketika saya diterpa masalah, atau ketika saya sedang sendirian dan ingin membawa pikiran saya terbang kesana kemari.

Malam kemarin saya kalut sekali, ujian saya belum selesai, ditambah lagi saya baru saja melihat sesuatu yang sepertinya menghancurkan semua harapan dan impian saya rasanya hancur berantakan. Dalam kegelapan ruangan saya menangis dan menangis, merasa malas dengan segala konsekuensi hidup, merasa malas dengan segala sesuatu yang nampaknya harus saya hadapi dengan sebuah senyuman palsu di hari-hari saya selanjutnya.
Kemudian saya mulai menuliskan sebuah note di Facebook. Awalnya note itu merupakan sebuah kalimat panjang tak beraturan yang hanya merupakan random thoughts yang saya miliki. Tetapi kemudian tulisan panjang itu saya hapus total dan kemudian ia berubah menjadi sebuah sajak.
Kemudian tadi pagi, dan tadi sore saya kembali menulis random thoughts yang saya miliki dan berubah menjadi sebuah sajak atau mungkin sebuah puisi.

Tulisan demi tulisan saya torehkan entah di kertas sembarang yang saya lihat di depan mata saya. Saya ketak ketik di notes yang ada di telepon genggam saya, atau mungkin apabila saya sedang memang merasa apa yang saya tulis itu baik sekali, maka saya akan menuliskan tulisan tulisan itu pada sebuah buku yang memang saya gunakan untuk menyimpan tulisan saya.

Hingga saat ini benak saya pun masih begitu penuh dengan kata demi kata yang rasanya ingin meledak keluar dari benak saya dan harus saya tuliskan sebelum saya bisa menjadi gila. Tetapi disela-sela ledakan kata-kata yang ada dibenak saya ini, ada sebuah pertanyaan yang ada dibenak saya..
‘Why are you doing this?’
Sesaat saya terdiam..
Mengapa saya melakukan ini, karena saya tahu sekali ketika saya menulis sebenarnya saya kembali mengulang masa lalu yang mungkin sudah terlupakan dan kembali menyakitkan. Ketika saya menulis juga sebenarnya saya hanya menuliskan apa yang mungkin tidak saya rasakan sebenarnya.
Saya kembali termenung dan kembali saya menyadari, kenapa kepura-puraan dalam hidup harus selalu ada. Sampai kapan kita harus selalu berpura-pura? Hingga kapan kita harus selalu berpura-pura dalam hidup kita??

Jawaban itu hanya ada di diri kita masing-masing tentunya. Tanyakan itu pada diri kita sendiri, sudah siapkah kita menjadi manusia yang tidak akan berpura-pura lagi. Beberapa saat saya berusaha mengheningkan diri saya dan berfikir. Berusaha menyatukan diri saya kembali satu persatu. Melegakan otak dan pikiran saya yang mungkin begitu berantakan dan kalut terlalu sangat. Kemudian ada sebuah pencerahan muncul ketika saya sedang terdiam tanpa berpikir. Hanya tercenung dan berusaha mengosongkan pikiran saya.
Terkadang semua masalah yang muncul merupakan masalah yang kita pikir akan terjadi. Kebanyakan dari kita merasa, berfikir bahwa hal hal yang mungkin belum terjadi akan terjadi. Apakah kenyataannya itu sudah terjadi? Atau sebenarnya semuanya itu masih hanya merupakan Kemungkinan? Tentu saja, kemungkinan banyak yang bisa terjadi. Mungkin ini mungkin itu. Semuanya dalam hidup memang meiliki dampak probabilitas, tetapi apakah semuanya itu sudah terjadi?
Jawabanya: BELUM..

Semua itu masih hanya merupakan pemikiran kita, ketakutan kita, paranoia kita sebagai manusia yang terlalu banyak berasumsi.
Kemudian saya kembali terdiam dan berfikir, kalau begitu.. biarkanlah aja semuanya berjalan sesuai dengan keinginannya, kenapa harus kita yang terus menerus berfikir dan berusaha..
Dan itulah yang nampaknya merupakan sesuatu yang harus kita cermati. Mengapa kita harus berfikiran tentang hal yang belum terjadi? Jalani saja apa yang ada.. dan banyaklah berdoa agar yang terbaik yang akan terjadi dalam hidup kita. God Bless Us All.

Belajar Dari Masa Lalu

Hari ini saya mengobrol dengan seorang kawan lama yang sudah lama sekali kami tidak berbincang. Berbincang dengan kawan saya yang satu ini selalu menjadi kesenangan bagi diri saya karena begitu banyak hal yang dapat saya pelajari dari cara berfikirnya yang memang menurut saya sangat berbeda dibandingkan dengan kebanyakan orang. Sedikit mengobrol dengan dia, kemudian ia mengingatkan saya dengan sebuah cerita yang sempat ia ceritakan pada saya suatu malam beberapa saat yang lalu sebelum saya beranjak tidur, dan ceritanya kira-kira seperti ini.

‘Ada seorang anak kecil yang bernama Diana, sebut saja begitu. Ia masih kecil sekali, baru saja berumur 5 tahun dan ia memiliki sebuah boneka beruang yang ia beri nama Damai. Diana begitu sayang dengan Damai karena Damailah yang menjadi teman mainnya, teman tidur, teman menangis, teman berbagi dan sebagainya. Damai juga sebenarnya begitu menyayangi Diana, beberapa kali Damai ingin sekali ikut menangis melihat Diana yang menangis meraung raung sambil memeluk dirinya yang tidak dapat berbuat apa apa selain berada dalam pelukan Diana.

Hari demi hari berlalu dan Diana pun perlahan beranjak dewasa, Damai selalu ada disana memerhatikan Diana berkembang, bertumbuh. Damai selalu ada disana masih menjadi sebuah boneka yang begitu menyayangi Diana dan siap kapan saja menjadi tempat bercerita Diana. Tetapi ada yang berubah dari Diana, sudah jarang sekali Diana mencari Damai, sekarang Diana jarang sekali bercanda, berbicara, bercerita atau bahkan menyentuhnya. Damai begitu merindukan pelukan dan sentuhan dari Diana, Damai begitu merindukan senyuman dan celotehan dari Diana, tetapi semua itu tidak kunjung datang.
Kebanyakan setiap hati Damai menanti nanti Diana untuk pulang, kembali ke kamarnya dan mengambilnya dari meja tempat ia di dudukkan dan bercerita seperti dulu. Tetapi setiap kali Diana sampai di rumah, masuk ke kamarnya, Diana akan mulai sibuk sekali dengan telepon genggamnya, berceloteh riang dengan orang yang ada di-ujung bagian telepon sana lalu kemudian jatuh tertidur tanpa sama sekali menyentuh Damai.

Suatu siang, Diana pulang dan masuk ke kamarnya. Diana berjalan menuju arah Damai, dan Damai pun sudah merasa amat girang, sudah lama sekali ia menanti nanti saat dimana Diana akan kembali memeluknya, menyentuhnya dan bermain kembali dengannya. Harapan Damai perlahan sepertinya menjadi kenyataan karena Diana berjalan kearahnya, kemudian meraih dia di tempat dimana ia selalu diletakkan, Damai sudah siap dipeluk, sudah lama sekali ia menanti nantikan saat ini. Saat dimana Diana akan kembali memeluknya dan berceloteh kepadanya.

Diana mengangkat Damai, memerhatikan Damai lama sekali dengan sebuah pandangan yang sulit sekali untuk dijelaskan oleh Damai. Perlahan Diana memeluk Damai dan kemudian meletakkan Damai di sebuah kotak, perasaan Damai perlahan merasa bahagia, Damai merasa mungkin Diana akan mengajak dia pergi ke sebuah tempat yang indah setelah selama ini ia hanya diletakkan di atas meja. Tetapi ternyata semua dugaan Damai salah, Damai diletakkan di dalam sebuah kardus yang berisi dengan semua mainan Diana..

Lalu kardus itu kemudian di tutup dan dibawa ke gudang, diletakkan kardus itu digudang bersama dengan Damai, dan ditinggalkan Damai di dalam gudang yang gelap itu sendirian…’

Cerita yang sempat di dongengkan oleh kawan saya ini sempat membuat saya terperangah sesaat dan malam itu setelah dia menceritakan dongeng tersebut, sebelum saya tidur saya mengambil boneka saya dan tidur bersamanya. Tetapi kemudian beberapa hari kemudian setelah saya berfikir lagi, sebenarnya bukan itu yang dimaksud oleh kawan saya.
Saya yakin semua orang mungkin akan memiliki pendapat yang mempelajari hal yang berbeda dari cerita yang diceritakan di atas, tetapi saya yakin kita semuanya, atau mungkin kebanyakan dari kita akan memiliki pendapat dan berkesimpulan cerita di atas memiliki arti, ‘Kalau sudah punya teman baru, jangan lupakan yang lama.’
Itu pula yang pertama saya saya tangkap selama beberapa hari. Tetapi malam ini ketika saya menceritakan kembali dongeng ini kepada para pembaca sekalian, ada pelajaran lain yang saya tangkap dan sesaat saya merasa, saya pun sebenarnya seperti Diana.

Beranjak dewasa, saya rasa semua orang pasti pernah merasakannya, ah tidak mungkin apabila ada orang yang tidak pernah merasakan. Mungkin ada yang saat ini sudah menjadi dewasa, sedang ada dalam phase pendewasaan diri, atau mungkin ada yang masih menunggu kapan phase pendewasaan diri itu akan datang. Saya sendiri mungkin masih ada dalam phase pendewasaan diri, dimana semua hal yang ada disekeliling saya saat ini patut saya pilah pilih, mana yang baik untuk saya ikuti dan pelajari, tetapi ada pula yang harus saya buang, saya singkirkan dan lebih baik sama sekali tidak saya ketahui. Menurut saya saat Diana menaruh Damai di dalam kotak, itu adalah phase ‘pendewasaan’ Diana, dimana ia merasa sebenarnya ia sama sekali tidak membutuhkan Damai lagi. Tetapi suatu hari nanti Diana akan merindukan Damai dan akan kembali membuka gudang itu dan menemukan Damai sudah lusuh, kotor, dan bahkan sudah tidak berbentuk digerogoti oleh tikus-tikus yang bersemayam di dalam gudang tersebut.

Apabila kita aplikasikan ini pada hidup kita, saya sendiri sebenarnya pernah melakukan hal yang mungkin mirip seperti Diana. Meletakkan dan melupakan semua memori lama saya pada suatu tempat yang mungkin tidak akan pernah saya ingat lagi atau bahkan tidak ingin saya ingat saat saya berusaha melupakan memori memori tersebut. Tetapi ada yang saya lupakan, bahwa terkadang kita ingin mengingat apa yang pernah terjadi di masa lalu kita sebagai bahan pembelajaran dalam hidup kita.

Janganlah anda pernah membuang benda benda atau memori yang mungkin akan menjadi sebuah pembelajaran bagi kita dikemudian hari. Mungkin memang tidak pernah salah untuk kita sekedar menyingkirkan, berusaha melupkan sebuah memori apabila memang itu bukanlah sebuah memori yang memang indah untuk diingat atau menyakitkan hati. Tetapi bukan berarti kita harus membuang mereka. Simpanlah ‘mereka’ dalam suatu sudut tersamping dibenak anda, dan jadikanlah mereka pembelajaran di kehidupan anda kemudian hari.
Karena mungkin memang benar apa yang dikata kebanyakan orang ‘Pengalaman merupakan pelajaran yang paling berharga di dalam hidup.’

Bersihkan Hati

Pagi ini saya sebenernya bangun dengan malas malasan dan sangat tidak berniat untuk melakukan apapun. Kemalasan yang memang sudah beberapa hari ini menyelubungi saya, bahkan sangking malasnya saya sampai untuk beranjak bangun dari tempat tidur saya pun saya begitu malas. Meraih buku novel yang ada di samping tempat tidur saya dan kemudian meraih ipod saya yang masih menyala sejak kemarin malam memutarkan lagu yang sama berulang ulang, saya sudah menyiapkan diri saya untuk menikmati hari saya dengan membaca dan mendengarkan lagu lagu yang mungkin bisa merilexkan tubuh dan pikiran saya setelah 1 mingguan lebih saya dikejar kejar dan mengejar ngejar deadline dan tugas tugas kampus saya. Baru saya membaca 2 halaman, telepon genggam saya sudah menjerit jerit, kemudian ibu saya pun telah memanggil manggil. Saya raih telepon genggam saya, melihat yang menelpon adalah editor dari majalah tempat saya bekerja, saya yakin dia pasti sudah menanyakan aritkel interview yang semestinya sudah saya kirim malam sebelumnya. Sedangkan ibu saya yang memanggil manggil di luar sana, entah apalagi yang harus saya kerjakan di pagi yang sebenarnya malas untuk saya ini. 

Setelah saya mengangkat telepon dari editor itu, saya pun kemudian beranjak bangun dan keluar dari kamar saya demi memenuhi panggilan ibu saya. Ternyata saya disuruh mencuci beberapa sepatu saya yang memang sudah begitu lusuh dan kotor karena sudah sekian lama saya gunakan dan sama sekali belum saya cuci. Sedikit menggerutu memang ketika saya memenuhi suruhan tersebut, tetapi saya lakukan juga suruhan itu. Mengambil seluruh peralatan mencuci sepatu yang memang sepatutnya saya gunakan, lalu saya pun mulai mencuci sepatu. 
Ditengah mencuci sepatu pikiran saya mulai melanglang buana memikirkan hal hal apa saja yang mampu hadir di benar saya, dan kemudian sebuah pemikiran muncul di benak saya yang sempat membuat saya berhenti sejenak dari kegiatan mencuci sepatu saya. Apabila sepatu dan benda lainnya saja harus di cuci apalagi dengan diri kita? Sebuah pertanyaan yang hadir dibenak saya yang kemudian membuat saya mengaplikasikan ini kepada manusia. 

Kita sebagai manusia, pasti tidak ada yang bersih. Saya yakin sekali itu. Sebagai manusia, kita telah lahir dengan 25% dosa yang dibawa dari jaman Adam dan Hawa pada masa lalu, dan kita sendiri dalam masa pertumbuhan dan kehidupan kita, sebaik baiknya kita pasti ada sedikit saja kesalahan atau dosa yang pernah kita perbuat. Tidak mungkin kan ada manusia yang begitu suci hingga tidak ada dosa atau kesalahan apapun yang pernah ia perbuat, apabila ada yang berkata ada manusia yang sebenarnya suci di dunia ini, mungkin saya ingin sekali bertemu dan berkenalan, lalu berbincang dengannya. 
Kalau sepatu saja harus dicuci apabila ia kotor, apalagi manusia yang setiap harinya mungkin secara sengaja ataupun tidak sengaja melakukan kesalahan. Sekecil apapun itu, itu tetaplah dosa. Begitulah yang pernah saya baca di salah satu renungan harian yang selalu menginspirasikan hidup saya. Kalau benda mati saja harus dibersihkan, begitu pula dengan diri kita. Kita pun harus membersihkan diri kita dari segala kesalahan dan dosa yang melekat pada kita, yang secara sengaja atau tidak sengaja kita lakukan setiap harinya. 

Sudah mendekati paskah, baru saja hari rabu kemarin kita menerima abu sebagai pertanda bahwa kita lahir dari abu dan akan berubah menjadi abu. Sebagai pertanda bahwa Yesus Tuhan kita akan bersedia disalibkan dan wafat demi menebus semua dosa kita yang pernah kita lakukan. Dari dosa kita yang terbesar hingga dosa kita yang terkecil. Sudah mendekati saat paskah, dan sudah saatnya kita mengaku dosa, sacrament di dalam sebuah gereja yang mungkin jarang sekali kita lakukan. Saya ingat dulu, ketika saya harus mengaku dosa saat saya masih kecil, saya akan menuliskan 10 dosa saya di atas sebuah kertas yang menurut saya paling normal agar saya tidak malu kepada pastur yang akan mendengarkan dosa dosa saya. Hal ini seharusnya jangan lagi dilakukan, karena ketika kita mengaku dosa, mengakui kesalahan kita di depan pastur melalui sacrament pengakuan dosa sebenarnya kita sedang mengakui kesalahan kita di hadapan Tuhan secara langsung. Katakan sejujur jujurnya kesalahan kesalahan yang pernah kita perbuat dan bersihkanlah diri kita dan hati kita dari segala kesalahan yang pernah kita perbuat. Memang benar kita juga pasti akan kembali mengulang kesalahan atau membuat kesalahan yang baru. Tetapi mengapa kita harus menumpuk numpuk kesalahan kesalahan tersebut? Bukalah hati kita, akui kesalahan kita dan jadilah manusia yang baru.

Kalau sepatu saja harus di cuci dan dibersihkan, begitu pula sebagai manusia yang bergelimangan dengan kotoran dan dosa. Jangan pernah takut dan malu, akui saja apa yang pernah kita perbuat, dan jangan pernah takut karena sesungguhnya Tuhan selalu memiliki tempat bagi mereka yang ingin kembali kepada-Nya. Pintu-Nya akan selalu terbuka bagi kita yang ingin pulang kepada-Nya.