Pelindung kita

Note: Apa yang tertulis di artikel ini murni merupakan opini dan pandangan personal dari penulis semata. Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebelumnya.

Malam ini sebenarnya saya malas sekali untuk menulis entah mengapa, padahal di kepala saya ada beberapa bahan yang akan ada baiknya untuk saya tulis dan saya bagikan disini kepada pembaca sekalian. Entah mengapa rasanya jari ini begitu malas untuk menari-nari di atas keyboard laptop saya ini.

Sudah sejak sore saya duduk di depan laptop saya, melakukan begitu banyak hal. Sampai akhirnya barusan saja saya bertanya sesuatu hal yang entah mengapa ingin sekali saya tanyakan pada teman saya.

. kenapa screen saver dikasih nama itu sih?
.. karena itu akan digunakan untuk menjaga screen komputer kita supaya ga rusak. Karena kalau LCD itu khan menampilkan hanya 1 gambar saja, cairan di dalam LCD itu akan membeku dan layar kita akan rusak.

Sesaat saya terdiam dan termenung. Komputer saja memiliki alat pengaman untuk dirinya sendiri, menciptakan screen saver agar ia tidak rusak. Apalagi kita manusia, saya yakin kita semua juga pasti ada yang menjaga dan melindungi kita.
Sambil menulis artikel ini, saya pun sedang ditemani oleh sebuah lagu yang begitu indah terus mengalun terulang-ulang. Sebuah lagu dari Nikita yang berjudul Sentuh Hatiku, dan saya pun kembali mengulas sebuah senyum karena saya sadar ya, kita memang selalu punya penjaga yang begitu setia memantau, memerhatikan, dan melindungi kita dalam setiap langkah yang kita ambil. Kita memiliki Tuhan kita yang selalu menyertai dalam perjalanan hidup kita.

Saya tidak pernah merasa begitu damai, tidak pernah merasa begitu tenang. Apakah ini memang tandanya ketika kita sudah menerima Tuhan dengan utuh? Pertanyaan ini muncul dibenak saya sesaat. Karena apabila saya menengok kebelakang, saya bukanlah seorang yang religius, sama sekali bukan. Saya sempat menjadi orang yang mempertanyakan keberadaan Tuhan, sempat meragukan adakah Tuhan.

Saya ingat sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh rekan saya kepada saya, ‘Selalu ada kesempatan kalau kita mau berubah. Serahkan diri lo sama Tuhan, dan lo akan damai.’ Saat itu, saya tidak percaya, bukan bukan.. mungkin kata yang tepat saya masih ragu, apakah Tuhan masih akan mengizinkan saya untuk kembali menjadi anaknya. Apakah saya ini merupakan domba yang hilang yang selama ini dicari oleh Tuhan? Apakah masih layak untuk saya menjadi anak Tuhan lagi? Berulang kali saya bertanya dan bertanya. Merasakan keraguan yang sungguh.

Mungkin hingga 3 atau 4 hari sebelum hari ini saya masih ragu, walau saya menulis renungan tetapi pertanyaan seperti, Apakah memang saya yang dipilih oleh-Nya? Apakah saya layak? Apakah saya bisa? masing mengisi kepala saya terus menerus hingga saya berhenti menulis untuk sesaat. Tetapi malam hari ini saya berani dengan lantang dan mantab mengatakan ‘Saya siap menjadi tangan Tuhan.’ karena saya tau Tuhan selalu ada disana, Tuhan selalu menyertai saya, dan Tuhan selalu menjaga kita seperti screen saver yang menjaga layar komputer kita agar tidak rusak. Tuhan akan selalu menjaga kita semua dari bencana atau segala hal yang akan menghancurkan kita.
Kembali sebuah kalimat yang sudah beberapa hari ini terngiang di kepala saya membuat saya tersenyum, ‘Bukan layak, pantas, atau sanggup kah kita untuk membantu Tuhan melainkan, maukah kita untuk memberikan waktu untuk Tuhan?’

Kalau saya saja bisa mengapa anda semua tidak? Marilah kita memberikan waktu kita untuk Tuhan, karena percayalah Tuhan akan selalu membukakan pintunya bagi mereka yang ingin kembali. Tuhan bahkan akan bersuka cita karena kita akan kembali, seperti ketika seorang ayah yang mengatakan pesta besar-besaran ketika anaknya yang pergi dari rumah itu kembali pulang. Layaknya ayah itu, begitulah Tuhan kita. Seorang ayah yang akan selalu menjaga kita dan memeluk kita ketika kita kembali kepada-Nya. God Bless Us All!

Note: Terima kasih kepada Edy Haryanto yang sudah dengan jelasnya menjelaskan tentang screen saver dan secara tidak langsung memberikan saya insprirasi untuk menulis ini.

Advertisements

Sudah cukupkah atau?

Note: apa yang tertulis disini murni merupakan opini dari sang penulis semata, apabila ada kata kata yang kurang berkenan, saya mohon maaf sebelumnya.

Saya terkadang merasa hidup saya begitu monoton. Setiap hari kegiatan saya kebanyakan hanya itu itu saja dan tidak banyak perubahan di dalam hidup saya. Bangun pagi, terburu-buru mandi kemudian ke kampus, pulang ke rumah, tidur, dan kembali melakukan hal yang sama. Atau mungkin apabila saya ada pekerjaan, bangun pagi, masih terburu-buru mandi, kemudian ke kampus, ke kantor atau kemana saya harus pergi karena pekerjaan itu, pulang ke rumah, tidur, dan kembali akan mengulang kegiatan yang sama.
Monoton dan bahkan kekurangan warna nampaknya.

Saya terbangun pagi ini, tidak terburu-buru karena kelas saya akan dimulai pada pukul 2 nanti siang. Di dalam kamar mandi ketika saya hendak mandi, ada sebuah kejadian yang begitu nyata kembali terulas di benak saya.

.should we make another design?
..no why should we,
.just for, well i guess just for another option
..no we did enough

sebuah penggalan kejadian yang pernah terjadi belum lama ini dalam hidup saya. Ketika saya di kampus dan harus menyerahkan design sampul makalah saya kepada dosen pembimbing saya. Kebetulan saya meminta tolong teman saya yang berada di jurusan design grafis untuk mendesign sampul tersebut. Dia masih ingin mendesign sebuah sampul lagi untuk pilihan dosennya nanti, tetapi dengan lantang saya jawab, tidak perlu karena sudah cukup baik apa yang dia kerjakan. Kalau mau dihubung-hubungkan, kejadian ini sedikit mirip dengan renungan yang saya baca kemarin malam, hanya saja sedikit bertolak belakang dengan renungan ini.
Di dalam renungan itu tertulis bagaimana manusia merasa selalu tidak cukup, belum puas dan selalu ingin ingin dan ingin untuk membeli, membuat, memiliki. Bagaimana manusia begitu consumtif dan akhirnya dipenuhi dengan ke-dagingan mereka. Bagaimana manusia selalu melihat rumput tetangga lebih hijau dibandingkan rumput diladang sendiri. Memang itulah normalnya hidup, kita selalu iri, selalu melihat milik orang lain lebih indah dari yang kita miliki.

Kemudian ada pertanyaan yang mucul di benak saya melihat kejadian itu. Saya, apakah dengan merasa cukup begitu saya bukan orang yang consumtif dan cepat merasa puas ataukah sebenernya saya saja yang malas? Apakah saya sudah bersyukur dengan apa yang saya dapatkan dan merasa, ‘ah sudahlah, yang penting diterima?’ apakah itu merupakan sikap yang baik atau sebaliknya?
Mungkin saya bukan orang yang freak-holic dengan kegiatan kampus saya, terkadang saya sudah merasa lelah dengan semuanya. Tetapi kemudian, seperti renungan yang saya baca kemarin malam, How much Enough is ENOUGH? apakah saya seharusnya sudah merasa cukup atau seharusnya saya mengejar target saya lagi?

Yang pasti, sebagai manusia, kita memang harus selalu merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki, tetapi bukan berarti pula kita harus berhenti apabila kita merasa kurang. Cuma kita harus dapat ingat sampai dimana batas kebutuhan itu. Janganlah menjadi seseorang yang terlalu banyak maunya, dan yang harus, kita harus selalu ingat untuk bersyukur dengan apapun yang kita miliki. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan segala yang kita miliki, karena tanpa kuasa dan rahmat-Nya kita tidak mungkn memiliki apapun di dunia ini. God Bless Us All!

Sebuah Perubahan

Note: Apa yang tertulis disini murni merupakan opini dan pandangan pribadi dari sang penulis semata. Apabila ada kata kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebelumnya.

Sebuah perubahan memang tidak selalu baik, ada yang berubah dari seorang anak yang rajin belajar kemudian karena bergaul dengan teman teman yang salah dia menjadi malas dan malah lebih memilih bermain game. Ini mungkin merupakan sebuah contoh perubahan yang tidak baik. Tetapi ada pula yang berubah menjadi sesuatu yang mungkin lebih baik. Apabila merefleksikan perubahan baik ini, mungkin akan lebih tepat apabila saya bertanya kepada para pembaca sekalian, apakah ini sebenarnya merupakan perubahan baik.

Saya merupakan seorang perempuan yang sulit sekali disebut perempuan. Saya tidak dapat berdandan, memakai rok, atau high-heels sama sekali. Itu mungkin ada jauh sekali dalam hidup saya. Terkadang saya berfikir, apakah mungkin saya akan menggunakan rok keluar dengan sepatu perempuan, apabila pikiran itu sempat terbersit di kepala saya, maka saya akan tersenyum dan bahkan tertawa terhadap pikiran tersebut. Tetapi kemarin berubah, ketika saya keluar rumah menggunakan rok, dengan sepatu high-heels tetapi saya menyukai itu, dan mulai merasa mungkin ada baiknya apabila saya membeli beberapa lagi untuk saya gunakan. Apakah itu merupakan sebuah perubahan yang baik?
Ya sebenarnya tergantung siapa dan dari sisi apa kita melihat masalah ini, tetapi menurut saya pribadi, itu merupakan sebuah perubahan yang baik.

Hari ini saya sempat mengobrol dengan seorang teman saya, dan kemudian dia berkata,
.gila lo beda banged dhe

..apanya yang beda, kayaknya sama aja dhe
.ga lo berubah banget pake rok
..akh masa sey, itu positive atau negative?
.kayaknya negative dhe.. wakaka ini sampe disimak tau ga
..busett disimaakk
.lo keliatan dewasa banged, dan manis banget aja.

..lahh itu khan bagus namanya

saya sempat sejenak terkesiap membaca obrolan itu sekali lagi. Menurut teman saya, perubahan yang terjadi pasa saya merupakan perubahan yang negative. Entah dari sisi apa yang membuat dia mengatakan itu merupakan sebuah perubahan negative, tetapi saya sendiri menerima itu sebagai pujian, karena setidaknya dia memerhatian saya selama ini.

Dari semua perubahan dan masukan yang saya terima dari foto saya ketika saya ‘berubah’ tersebut saya belajar sesuatu, bahwa tidak semua orang akan memiliki pandangan yang sama. Sebuah perubahan tentunya merupakan sebuah step-by-step phase dalam kehidupan kita. Terkadang kita terlalu nyaman menjadi diri kita sendiri, sehingga terkadang kita enggan sekali untuk berubah dan mencoba hal yang baru dalam hidup kita.

Jadi mengapa kita tidak mau mencoba untuk berubah? Mengubah semua kekurangan kita, keburukan, dan kejelekan kita menjadi sesuatu yang lebih baik? Tetapi ingatlah, bahwa kita tidak mungkin berjalan sendiri. Kita masih akan selalu butuh bantuan dari Tuhan. Berjalanlah dengan-Nya, biarkan Tuhan menuntun kita, dan saya yakin anda semua akan perlahan berubah, menuju sebuah kehidupan dan diri yang lebih baik. God Bless Us All!

Berbanggalah..

Note: apa yang tertulis disini, murni merupakan opini dan pandangan dari sang penulis semata. Apabila ada kesalahan kata, saya mohon maaf sebelumnya.

Berbanggakah anda pada diri anda sendiri. Belakangan ini dalam liburan, banyak sekali hal yang saya pelajri dan perlahan dapat membuat saya mengulaskan sebuah senyum yang sungguh nyata dalam hidup saya yang jarang sekali saya lakukan. Melihat perubahan demi perubahan yang muncul dan hadir di dalam hidup dan keluarga saya, saya perlahan menyadari betapa sebenarnya saya memiliki sebuah keluarga yang unik, penuh dengan berbagai masalah keluaraga normal yang ada di sekitar. Seorang oom pengangguran yang tidak ingin mencari kerja, seorang oom yang niat sekali menikah dengan uang pas pasan, seorang tante yang senang sekali mengurusi pekerjaan orang lain dan menyalahkan orang lain di kemudian hari. Saya sendiri tinggal bersama seorang ibu single parent yang sangat tangguh tetapi begitu menyebalkan apabila anda harus hidup bersamanya setiap saat.
Terkadang saya merasa sangat kesal dan sebal dengan segala hal yang begitu mengganggu hari demi hari saya dengan pelbagai masalah yang tidak dapat saya selesaikan dengan begitu saja. Perasaan tertekan dan bahkan perasaan diasingkan terkadang hadir di dalam hidup saya.

Pergi ke Singapura dan berlibur merupakan hal yang jarang sekali ada di dalam list agenda jalan-jalan saya. Walaupun memang begitu menyenangkan untuk main dan berbelanja ketika saya berlibur, menghabiskan uang, berjalan-jalan dan melakukan banyak sekali hal itu memang sangat menyenangkan, tetapi untuk datang dan tinggal bersama dengan tante saya di Singapura mungkin akan menjadi pilihan terakhir saya apabila saya diperkenankan untuk memilih. Terkadang saya berfikir banyak sekali hal yang dapat kita lakukan, tetapi ketika hati nurani ini begitu menolak segala logika yang terpampang di depan mata, maka semuanya hanya akan menjadi sia-sia belaka bukan?

Ketika saya dipaksa untuk memilih dimana saya ingin berkuliah, pilihan saya dengan cepat jatuh ke Indonesia, kota Bandung merupakan tujuan terakhir dalam hidup saya nampaknya. Apabila ditanya oleh beberapa teman, jawaban saya dikarenakan saya sudah lelah tinggal diluar negri, yang memang benar. Tetapi alasan lainnya, itu sebenarnya di karenakan saya malas sekali untuk tinggal di Singapura dan berdekatan dengan tante saya.

Di dalam sebuah keluarga memang banyak sekali permasalahan demi permasalahan yang mungkin tidak dapat kita selesaikan dengan begitu saja. Butuh begitu banyak pemikiran, logika, bahkan pemikiran hati dimana ini mungkin akan dibilang kami merupakan seorang sensitif. Terkadang saya befikir, dimana seharusnya saya melangkah, dimana saya akan maju dan berjalan sesuai dengan semua ide saya, tetapi kembali sebagai manusia sosial kita tidak bisa hidup sendiri dan melakukan segalanya sendiri, termasuk berfikir. Kita tetap harus memikirkan orang lain yang ada disekeliling kita. Keluarga, teman, saudara, atau mungkin orang-orang yang hanya sekedar kita kenal.

Dan saat ini saya bahagia memiliki sebuah keluarga, walau belum lengkap dan masih mengharapkan kelengkapan keluarga yang mungkin akan segera diberikan oleh Tuhan. Masih berdoa kepada-Nya agar saya segera diberikan sebuah kebahagiaan dari sebuah keluarga.

Bersyukurlah dan berbanggalah dengan apa yang anda miliki karena masih banyak diluar sana orang-orang yang kurang mampu dan orang-orang yang masih jauh kurang beruntung dari anda dan masih mampu bersyukur kepada Tuhan. God Bless Us All!

Definisi Bahagia


Note: apa yang ditulis disini murni hanya merupakan opini dari sang penulis semata, apabila ada kata kata yang kurang berkenan, saya mohon maaf sebelumnya.

Apakah definisi dari bahagia untuk anda? Apakah saat kita tersenyum? Apakah saat kita mendapatkan gadget baru yang telah lama anda ingin? Ataukah ketika anda melakukan sesuatu yang simple tetapi itu dapat membuat anda begitu bahagia? Ketika anda bisa merasakan bagaimana hati anda tersenyum? Itukah definisi bahagia untuk anda? Mungkin itulah saat ini definisi bahagia untuk diri saya pribadi saat ini.

Weekend di Singapura mungkin merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan untuk saya. Menghabiskan waktu, walau lelah sekali tubuh saya, kekurangan tidur dan terlalu banyak berjalan jalan menjelajahi Singapura yang sudah sering saya datangi ini. Hari ini rencananya saya akan kembali menjelajah untuk mencari buku yang memang saya cari untuk bahan skripsi saya selama 3 bulan ke depan nanti. Dalam perjalanan menuju mall yang dituju, tentunya kami akan naik kendaraan umum, yaitu MRT. MRT itu penuh sekai dengan orang orang, dan prioritas bagi saya adalah Oma saya harus duduk terlebih dahulu supaya dia tidak akan kecapaian. Tidak ada tempat duduk di MRT tersebut, otomatis saya yang paling muda harus berdiri di dalam MRT tersebut. Sampai di salah satu station yang kami lewati, mendadak banyak sekali dari penumpang di dalam MRT tersebut yang kemudian turun dan meninggalkan sebuah bangku kosong untuk saya duduk. Terburu-buru saya mendatangi bangku tersebut sebelum ada orang lain yang akan menduduki bangku tersbut dikarenakan kaki saya yang mulai lelah tersebut. Namun ketika saya baru saja ingin menarik nafas lega sesaat, saya melihat seorang nenek tua yang berjalan dan mencari tempat duduk untuknya duduk. Sesaat saya terdiam, memerhatikan sekeliling adakah orang yang akan berdiri dan memberi nenek tersebut tempat duduk. Hasilnya: Nihil.
Akhirnya saya pun bangun, memanggil nenek itu dan memberikannya tempat duduk yang baru saja saya dapatkan. Begitu saya terbangun dan memberikan tempat duduk tersebut kepada sang nenek, ia pun tersenyum kepada saya, sebuah senyuman yang sulit sekali untuk saya defisinikan. Ia berterima kasih pada saya, dan pada saat saya mengembalikan senyumnya yang menurut saya begitu ‘angelic’ ada perasaan yang begitu lega dari hati saya dan saya dapat tersenyum dengan begitu lebar. Segala rasa lelah yang saya rasakan di kaki saya, segala rasa sakit hilang seketika dengan melihat senyuman dari sang nenek tersebut.

Disaat saya berdiri, ada sepatah kalimat tak lengkap yang saya ucapkan tanpa sadar kepada Tuhan.

‘I am so glad for doing that’

dan kemudian saya tersenyum setelah mengatakan demikian. Sesaat saya bisa merasakan hati saya lega dari segala masalah dan ketika saya memejamkan mata saya sesaat, saya dapat melihat ketika Tuhan nampaknya sedang tersenyum kepada saya.

Betapa bahagianya hati saya dan perasaan saya ketika saya melakukan hal yang begitu Minor yang mungkin memang hanya kejadian biasa biasa saya dan yang memang semestinya dilakukan oleh kebanyakan orang. Kemudian saya ingat sesuatu yang pernah dikatakan kepada Teman saya, ‘walaupun kecil, tetapi itu kegiatan yang mulia.’ dan kemudian saya ingat sebuah ayat yang terdapat dalam alkitab, tertulis begitu jelas dan kemudian nyata sekali saya ingat di kepala saya ketika saya tersenyum. ‘sekecil apapun itu yang kamu lakukan, apapun wujudnya kamu lakukan kepada orang lain, sesungguhnya kamu telah membantu Aku.’

Jadi mengapa sampai saat ini kita masih segan untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan? Mengapa terkadang masih ada rasa enggan dimana kita begitu takut dan begitu malu untuk membantu yang lain apabila itu bisa membawa kebahagiaan dan terlebih apabila itu kita membantu Tuhan?
Masih akan enggankah kita untuk membantu?
Masih akan merasa malukan kita untuk mengulurkan tangan kita kepada sesama?

Bantulah orang lain, karena sejujurnya ketika kita membantu orang lain itu akan membawa sebuah rasa bahagia kepada kita, dan terlebih bantuan yang kita lakukan, sama dengan kita membantu Tuhan kita.

Soulmate






















Note: apa yang saya tulis disini, murni hanya merupakan sebuah opini dari sang penulis semata. Apabila ada kesalahan pada kata-kata saya, saya mohon maaf sebelumnya. 


Saya dulu sering berfikir bahwa soulmate itu sebenarnya tidak ada sama sekali, atau bahkan saya sama sekali tidak mempercayai yang namanya soulmate. Selama ini saya hanya memiliki beberapa sahabat terdekat saya tetapi meskipun sudah disebut sahabat, terkadang masih ada beberapa dari mereka yang makan teman atau bersahabat kemudian persahabatan itu akan habis dimakan waktu. Kemudian akhirnya saya berfikir, apakah memang persahabatan itu sebenarnya hanyalah sebuah hubungan yang satu langkah lebih dari sebuah perkenalan? Saya sendiri beberapa waktu lalu sempat merasa lelah dan menyesal mengenal seseorang yang pernah saya sebut sahabat dan akhirnya menarik diri saya sendiri. Saya bahkan sempat berfikir bahwa apa gunanya juga memiliki sahabat yang katanya selalu ada, katanya bisa mengerti kita kalau pada kenyataannya semua yang mereka katakan itu hanyalah sebuah kalimat yang akan terbang dibuang angin belaka..

Cukup lama saya memiliki persepsi itu dalam hidup saya. Saya malah menjauh dan hanya memilih memiliki kenalan kenalan saja, sama sekali tidak ada niat untuk dekat atau memiliki sebuah hubungan persahabatan tersebut. ‘Cukuplah kenal kenal aja, ga usah terlalu kenal. Kenal sama kulitnya saja.’ itu yang pernah saya katakan pada diri saya sendiri setiap malam setiap kali hati saya berontak membutuhkan sahabat yang bisa mendengarkan saya. Tetapi kembali logika saya melarang saya untuk melakukan itu karena tidak ingin kembali terjermus dalam kesakitan yang pernah saya rasakan. 
Tetapi semuanya berubah ketika saya bertemu dengan seseorang yang sampai hari ini saya percaya merupakan soulmate saya, dan ini sama sekali bukan coincidence biasa yang terjadi dalam hidup.

Seorang laki-laki yang sama sekali belum saya temui, berkenalan karena saya dikenalkan oleh seseorang yang begitu saya pandang dan saya percaya dalam hidup saya. Awalnya saya pikir saya hanya akan kenal kenal saja sama orang ini. Karena toh sepertinya dia hanya teman gila saya, dimana kita asik tertawa bersama dan bergila gila saja. Yang saya tidak tau bahwa sebenarnya sepertinya Tuhan punya rencana lain dari perkenalan saya dengan orang ini. Bagaimana saya dan orang ini memiliki cara pandang hidup yang sama, persamaan culture, dan lain halnya yang mungkin tidak dapat saya sebutkan disini. Bagaimana awalnya saya pikir ini merupakan mere coincidence tetapi lama kelamaan saya mulai melihat kalau ini bukan kebetulan semata. Ada maksud dibalik semua yang terjadi, dibalik semua kesamaan yang terjadi antara saya dan kawan saya ini.
Perlahan dari satu kejadian menuju kejadian lain membuat saya yakin dari hari ke hari memang kami adalah saudara kembar secara bathin yang telah lama terpisahkan.
Diawal minggu setelah kejadian beruntun ini terjadi saya masih mengatakan pada diri saya sendiri ‘ah mana mungkin sih bisa begitu’ tetapi kembali kata kata saya dibuktikan yang lain oleh Tuhan yang memang sepertinya punya rencana dibalik semuanya ini. 

Apakah memang dia soulmate saya? Beberapa kali pula sempat saya tanyakan pertanyaan demi pertanyaan untuk meyakinkan diri saya sendiri. Karena memang kita bukan ingin menikah atau melanjutkan ke jenjang apapun, tetapi hubungan soulmate ini jelas merupakan sebuah jalinan yang cukup erat. Sampai akhirnya ada satu kejadian yang benar benar membuktikan kalau dia memang bayangan saya, jiwa kembar saya yang mungkin selama ini di alam bawah sadar saya selalu saya cari. 

Jujur saya sungguh bahagia mengenal twinsoul saya ini. Begitu saya memanggilnya sekarang, twinsoul yang telah lama hilang, dan saya yakin Tuhan mengirimkan dia untuk menghilangkan semua perih yang pernah terciptakan dan untuk menemani saya dan selalu ada disamping saya. Terlebih dari itu, dia dikirimkan oleh Tuhan kepada saya untuk selalu mengingatkan saya bahwa saya tidak akan pernah sendiri dan Tuhan begitu menyayangi saya karena telah mengirimkan twinsoul ini kepada saya. How thankfull I am to have you in my life and how greatful I am to be part of you life. 

Yang ingin saya bagikan disini para pembaca sekalian, adalah bagaimana seharusnya kita jangan terlalu ngoyo untuk memiliki sahabat. Saya ingat sebuah pepatah yang mengatakan ‘Semakin dikejar akan semakin menjauh’ dan itulah layaknya pacar mungkin, juga sahabat; semakin kita cari, semakin sulit kita menemukan mereka. Bukan berarti kita hanya harus menunggu dan tidak berusaha, namun ada kalanya kita berhenti sejenak dan diam, menunggu, memilih dan menyeleksi. Dan satu hal yang harus selalu kita letakkan dalam benak kita adalah, Dia pasti akan selalu memberikan yang terbaik dan jangan pernah takut, karena tidak sedetik pun Dia meninggalkan kita.
Dia akan selalu menjaga kita dalam situasi apapun.


NB: this article specially to my twinsoul. Thank you for being there, membuka mata gw, dan mendekatkan Tuhan lebih banyak lagi setiap harinya. dan juga selalu mengingatkan gw kalau gw tidak pernah sendirian. 

Senyuman yang Membawa Semangat

Note: apa yang tertulis disini murni merupakan hanya opini dari penulis semata. Apabila ada kata kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebelumnya. 


Hari ini merupakan hari yang cukup panjang dan melelahkan untuk saya. Pagi-pagi saya sudah harus bangun dan melakukan double check pada bahan skripsi yang harus saya tunjukkan pada dosen pembimbing saya. Lalu jam 1 siang saya harus melakukan interview dengan salah satu band yang mengisi di lounge di hotel local di Cambodia ini, dan kemudian jam 3 saya harus kembali ke kampus. Pukul 4 sore setelah keluar dari kampus saya dan langsung menuju kantor ibu saya karena beliau ingin dijemput. Sesampainya di kamtor ibu saya, tentunya saja kita tidak langsung pulang melainkan saya harus naik ke atas ruangan kantornya terlebih dahulu untuk setidaknya bertukar sapa dengan orang orang yang bekerja disana. 

Setelah selesai bertukar sapa saya dan ibu saya pun keluar dari ruangan kantor tersebut kemudian menunggu lift yang akan membawa kamu turun ke bawah. Sambil menunggu lift saya sibuk mencari-cari lagu yang asyik yang akan saya dengarkan di iPod dalam perjalanan pulang nanti, tetapi kemudian arah pandang saya terpaku pada seorang security guard yang sedang menjaga pintu dan tersenyum begitu dia mendapati saya menoleh secara tidak sengaja kearahnya. Secara instant saya pun tersenyum kembali kepadanya dan kemudian ketika pintu lift itu terbuka, dia berkata

‘goodbye, take care!’

saya terperangah sesaat mendengar itu sebelum akhirnya saya menjawab ‘thank you’ dan kemudian masuk ke dalam lift tersebut. Sesaat saya terdiam dan kemudian tersenyum dan merasakan sebuah energi baru yang lahir dan membuat saya bersemangat melakukan apapun. Sesaat saya termenung, dan berusaha mencerna, mengapa saya mendapatkan sebuah energi baru untuk beraktivitas. Sayang sekali saat saya berfikir tadi saya belum menemukan jawabannya. 

Sesampainya di gedung apartment tempat saya tinggal, seperti biasa tentunya satpam penjaga pintu akan membukakan pintu gerbang agar mobil saya dapat masuk. Belakangan ini saya senang mendapati satpam yang menjaga pintu gerbang itu begitu penuh senyum, terkadang dipagi hari ketika dia membukakan pintu gerbang ketika saya hendak keluar senyumannya yang hormat, santun dan tulus itu dapat menjadi semangat baru untuk pagi hari saya.
Kemudian baru saja ketika saya sedang asik mengobrol dengan beberapa teman saya, kembali saya melakukan hal aneh. Dalam keramaian bersama teman teman saya, saya merenung dan termenung dan saya menyadari, melihat senyum orang lain yang ditujukan begitu tulus kepada kita, itu bisa menjadi sebuah semangat baru untuk setiap hari kita.

Kalau senyum orang lain bisa membuat kita bersemangat, kenapa kita tidak mau menjadi semangat untuk orang lain dengan memberikan hanya senyuman. Jadilah energy yang baik buat orang-orang yang ada disekeliling kita. Karena energy itu akan membantu orang orang yang ada disekeliling kita. 

Tertawa Bahagia













Note: apa yang tertulis disini murni hanyalah opini dari penulis semata. Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebelumnya.

Tertawa itu adalah obat awet muda, begitu katanya dan baru saja saya tersenyum dan bahkan tidak dapat menahan tawa setelah melihat sebuah video dimana saya dan 3 teman saya mengerjai seseorang. Menertawakan seseorang itu memang merupakan hal yang begitu menyenangkan, ditambah saya tidak bisa berhenti tertawa apabila mengingat kejadian-kejadian yang terjadi mungkin beberapa saat yang lalu dimana memang banyak sekali kejadian bodoh yang asyik dan lucu apabila bisa kita selalu ingat. 

Saya sendiri percaya bahwa tertawa itu sebenarnya merupakan luapan expresi dari diri kita, atau mungkin dengan kata puitisnya, tawa adalah ketika ketika menangis tetapi tanpa air mata. Tetapi jujur terkadang saya melihat maksud dari kalimat tersebut, bagaimana terkadang kita bisa tertawa kemudian menangis, atau menangis kemudian tertawa. Bagaimana kedua hal ini hanya memiliki perbedaan yang sangat tipis, bahkan sukar sekali untuk dibedakan. 

Tertawa sendiri merupakan hal yang secara sadar atau tidak sadar kita lakukan. Bahkan sempat dikutip disalah satu buku panduan phychology yang saya miliki,

‘It is a subconcious action that human being do’

dan percaya tidak percaya memang itulah yang kita lakukan. Dalam kondisi apapun kita pasti akan tertawa, atau setidaknya tersenyum. Mungkin tidak tulus keluar dari hati, tetapi itu pasti ada menghiasi wajah kita. 

Terkadang, seperti yang pernah saya tulis pada artikel terdahulu (baca: Mengenali Sendiri) tawa itu terkadang hanyalah tawa palsu yang memang sengaja dihiasi di wajah sang empunya tawa. Tertawa sendiri kadang bisa mungkin karena kebodohan yang terjadi, kejadian lucu, atau mungkin hanya sekedar tawa untuk meramaikan suasana. Tetapi yang pasti, tertawa itu adalah tanda kebahagiaan dimana mungkin bukan sebuah kebahagiaan bathin hanya sebuah kebahagiaan jasmani tetapi tetap itu merupakan sebuah kebahagiaan. 

Ada sebuah kutipan yang menggelitik hati saya adalah ‘tertawalah selagi bisa, sebelum hidupmu dihiasi tangisan’ 
Tertawalah selagi kamu bisa, terkadang tidak usah membohongi diri kamu untuk selalu tertawa atau tersenyum. Menangis itu hanyalah sebuah tawa yang lebih air mata. Jadilah diri kamu sendiri, tetapi ingat, setelah menangis tersenyumlah, karena setidaknya sedikit bebanmu telah kamu lepaskan. 

Pujilah Tuhan, kemudian tertawalah bahagia karena setidaknya kamu memiliki-Nya yang Mahatau. God Bless You All!

Kasih Sayang di Valentine


Note: apa yang tertulis disini hanyalah sebuah opini dari penulis semata, sama sekali tidak ada niat untuk menyinggung pihak manapun. Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebelumnya. 

Tanggal 14 Februari selalu identik sekali dengan sebuah perayaan yang di rayakan diseluruh dunia. Dirayakan oleh yang tua, yang muda, dan dirayakan oleh kalangan manapun, yaitu: Valentine. Banyak sekali orang orang yang begitu menanti nantikan hari valentine karena di hari inilah dimana katanya kasih sayang akan benar-benar di tunjukan. Di hari inilah dimana sang dewi cinta akan lebih bersinar dan berbaik hati dengan kasih sayang. Dari pihak saya sendiri, valentine sendiri bukanlah sebuah hari yang patut untuk di besar besarkan, mungkin memang ini sebuah hari special dimana kita akan merayakan sebuah hari yang special. Hari cinta, dimana menurut rumor rumor yang saya dengar bahwa kita menikah di hari valentine, pernikahan kita akan selamanya. 

Kadang saya bertanya pada diri saya sendiri. Apa sih valentine itu? kenapa sepertinya orang orang begitu membesar-besarkan sebuah hari ini. Bereaksi terlalu extreme dengan sebuah hari yang seharusnya biasa biasa saja, ada yang begitu menunggu nunggu hari valentine, tetapi ada juga yang begitu membenci hari valentine sampai ada sebuah group anti valentine atau yang biasa disebut grup anti cinta. Jujur saya sedikit tergelak mendengar hal itu beberapa hari yang lalu, dan bagaimana saya sampai tertawa terbahak bahak mengingat sebuah kalimat yang dilontarkan oleh seorang kawan saya.

‘halah valentine, bullshit! makan thu cinta..’

Ada apa dengan valentine, ada apa dengan sebuah hari kasih sayang yang nampaknya menimbulkan kontroversial kepada beberapa orang yang saya kenal. Orang yang sedang jatuh cinta akan begitu menanti nantikan sebuah hari yang katanya special ini, sedangkan orang orang yang sedang jomblo atau patah hati akan begitu membenci hari ini dan selalu mengutuk sebuah hari kasih sayang ini.
Mungkin saya sedikit menjadi orang yang stereo-typing  untuk hal ini, dimana saya sering berkata bahwa valentine adalah sebuah hari kasih sayang dimana kalau kita jadian, menikah atau merayakan hari ini maka cinta itu akan terus bertahan, dan akan lebih indah apabila hari jadian, ulang tahun, pernikahan jatuh pada hari kasih sayang ini.

Hanya saja malam hari ini saya berfikir dan kemudian tersenyum simpul menyadari sebuah kesimpulan yang saya dapatkan. 
Mengapa harus menunggu hari valentine untuk merasakan kasih sayang? 
Mengapa harus menunggu hari kasih sayang untuk mengucap sayang? 
Bukankah setiap hari valentine apabila kita bisa merasakan kasih sayang dan cinta yang hadir di dalam kehidupan kita? Memang tidak perlu menunggu hari valentine untuk merasakan kasih sayang dan cinta yang ada dari sekitar hidup kita.

Mencintai, dicintai, menyayangi, disayangi, itu adalah kegiatan yang setiap hari kita lakukan, kegiatan yang setiap hari harus kita lalui suka ataupun tidak suka. Sadar maupun tidak sadar. Setiap hari adalah valentine, mungkin akan lebih heboh dan meriah di hari yang ditetapkan sebagai hari valentine ini, tetapi buatlah setiap hari anda penuh cinta dan kasih sayang.
Tidak harus kita rayakan hari kasih sayang ini dengan pacar ataupun gebetan. Mengapa anda mencoba sesuatu yang baru? Rayakan hari Valentine kali ini dengan keluarga anda atau pun teman terdekat anda tunjukan kasih sayang nyata anda kepada mereka dan berikan yang terbaik dari anda untuk mereka

Happy Valentine semuanya, semoga di tahun ini cinta dan kasih sayang akan selalu ada di dalam hati anda semuanya. Dan buatlah setiap hari anda menjadi hari valentine yang begitu penuh dengan cinta dan kasih sayang. Jangan lupa untuk selalu membawa Tuhan dalam setiap langkah anda. 

Menghargai Rasa Nyaman



















Note: apa yang tertulis di artikel ini murni hanya merupakan opini dari sang penulis semata, apabila ada beberapa kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebelumnya. 

3 hari terakhir ini saya menginap di tempat teman dikarenakan ibu saya sedang pergi meeting di Hongkong. Walaupun memang sebenarnya saya bisa saja sendirian di rumah, tetapi entah mengapa kali ini saya ingin merasakan sebuah perbedaan dan variasi baru dalam hidup saya. Karena memang sepanjang hidup saya, jarang sekali saya diperbolehkan menginap di rumah orang lain. 3 hari terakhir ini saya menghabiskan hari saya di tempat teman saya itu bermain, bercanda, dan bersenang senang. Sungguh saya memiliki pengalaman yang berbeda. 

Hari ini saya kembali ke apartment saya karena pagi ini ibu saya telah sampai kembali ke Cambodia dan tentunya saya harus kembali ke rumah untuk setidaknya berberes sedikit. Ada sedikit tersemat rasa rindu menggelayut di hati saya dalam perjalanan pulang ke apartment saya sendiri. Sempat sedikit terbersit di benak saya sebuah kalimat yang membuat saya terkesiap sejenak…

‘Home I’m coming..’ 

sebuah kalimat yang nampaknya belum saya sebutkan lama sekali. Rasa memiliki dan rasa ingin kembali pulang ke tempat dimana saya berasal. Ketika akhirnya saya sampai di apartment saya, membuka pintu depan, sejenak saya berhenti dan memandang sekeliling. Tidak ada yang berubah memang, semuanya masih terletak di tempat yang seharusnya, dan ada aura yang nyaman layaknya memeluk saya dan berkata ‘welcome home’ 

Jujur ini merupakan sebuah perasaan yang cukup aneh yang saya alami, karena sepertinya saya tidak pernah sama sekali kangen pada rumah saya. Yang ada dari dulu saya selalu ingin pergi dan meninggalkan rumah saya, namun kali ini saya ingin kembali ke rumah saya, tidur di tempat tidur saya, menggunakan kamar mandi yang selama ini saya gunakan, duduk di tempat dimana biasanya saya duduk, dan lain lain. Melakukan semua kegiatan yang memang seharusnya saya lakukan di rumah ini. 

Perlahan saya tersenyum dan kemudian hati saya berbisik,

‘isn’t it good to feel like you belong here?’ 

dan senyuman saya pun melebar menyadari kalau disinilah dimana saya memang seharusnya berada dan bagaimana indahnya merasakan sebuah rasa nyaman yang selama ini selalu saya cari. 
Sebuah pelajaran yang sungguh berharga yang saya pelajari kali ini adalah bagaimana sebenarnya perasaan nyaman itu ada di dalam diri kita sendiri dan bagaimana seharusnya kita mensyukuri apapun yang kita miliki. 

Satu hal yang ingin sekali saya bagikan kepada para pembaca sekalian, bagaimana seharusnya kita berbahagia dengan kehidupan yang kita miliki. Walaupun memang pasti ada masalah dalam setiap kehidupan yang kita jalani. ‘Kehidupan tanpa masalah itu bukan hidup’ begitu yang bisa saya kutip dari seseorang terdekat saya. Dan terkadang kita selalu melupakan apa yang sudah ada di depan mata, kita melupakan sebuah rasa nyaman yang kemudian kita selalu mencari-cari dimana rasa nyaman itu. Padahal sebenarnya rasa itu selalu ada, hanya saja kita kurang jeli dan kurang peka untuk merasakannya. 

Latihlah kepekaan anda semua, dan selalu ingat untuk berdoa dan bersyukur untuk semua yang kita hadapi dan alami setiap harinya, karena memang hanya Tuhan yang Mahatahu. God Bless Us All!