Sebuah Sosok


Note: Artikel ini murni opini dan pendapat saya semata, apapun yang tertulis apabila ada yang kurang sepakat dengan tulisan dan opini anda, saya mohon maaf sebelumnya.

Sebuah keluarga yang lengkap haruslah terdiri dari ayah, ibu kemudian anak anaknya. Keluarga yang saya maksud disini adalah hanya keluarga inti saja, tidak termasuk kakek, nenek, sepupu, ipar, dan lain sebagainya. Dewasa ini kita banyak mendapati keluarga yang berantakan atau biasanya dengan kata gaulnya anak muda jaman sekarang ‘broken home’.

Entah mengapa sepertinya ini merupakan sebuah trend yang terjadi dan membuat anak-anak muda bertingkah liar dan melakukan hal hal yang seharusnya dapat di atasi apabila mereka memiliki keluarga yang utuh dan baik baik saja. Saya sendiri terlahir dari keluarga yang ‘broken’, hidup dengan keluarga yang ‘broken’, disekelilingi dengan anak anak yang memiliki ‘broken home’ dan segalanya yang berkaitan dengan ‘broken’. Bukankah tidak ada yang salah dengan kondisi ini, selama toh kita hidup bahagia bukannya sah sah saja untuk memiliki keluarga yang ‘broken’ dan selama kita bisa menghidupi diri kita dengan kebahagiaan apa sih yang sebenarnya salah dari kata ‘broken home’?

Sebenarnya memang tidak ada yang salah, tetapi ada yang kurang dari inti dan juga arti sebuah keluarga. Seperti yang saya tulis di awal artikel ini, sebuah keluarga yang lengkap seharusnya terdiri dari ayah,ibu dan anak anaknya, dan tentunya akan menjadi tidak lengkap apabila tatanan dari keluarga utuh ini di’patah’kan dan biasanya, anak anaklah yang akan menjadi korban dari kerusakan tatanan keluarga yang utuh itu.

Kalau dari pengalaman saya, saya sendiri adalah seorang anak muda yang terlahir dari keluarga yang bisa saya bilang berantakan total. Jujur pernah terlintas dibenak dan pikiran saya untuk sama menjadi anak anak kebanyakan yang kemudian menjadi pecandu narkoba, merokok, peminum, atau berbuat hal hal yang lainnya. Tetapi puji Tuhan, Dia selalu menjaga dan melindungi saya dari segala hal dan perbuatan terlarang yang pernah terbersit di benak saya. Pernah suatu ketika saya akhirnya lelah dan kemudian menyerah dengan keadaan yang telah ada dan terhampar di depan mata saya. Menyerah dalam mencari sebuah dan seorang sosok yang dapat saya panut di dalam hidup. Seorang sosok yang selalu saya dambakan dan saya cari selama hidup saya kurang lebih 17 tahun, seorang ayah, seorang yang dapat menjadi sahabat, tempat menangis, tempat berbagi, seseorang dimana bisa saya dapatkan rasa aman, seseorang yang dapat saya katakan dengan bangga kepada semua orang, ‘ini loh papa aku..’ selalu menjadi target utama saya. Kalau ditanya mengapa, jawaban yang mungkin akan terlontar dari saya adalah: pertama, saya ingin merasakan aman dan ingin memiliki sebuah sosok yang bisa saya jadikan panutan kemudian yang kedua, saya sudah lelah ditanya oleh orang orang, ‘papanya dimana?’ dan yang bisa saya lakukan hanya tersenyum. Saya yakin, hampir semua anak anak yang broken home, entah itu kehilangan ayah atau kehilangan ibu pasti memiliki perasaan yang sama, atau mungkin akan merasakan perasaan yang sama. Dimana kelelahan dan keletihan akan kepura-puraan bahagia di depan banyak orang, terutama relasi dekat orang tua yang mengasuh kita menjadi sebuah momok yang menyeramkan.

Namun kemudian, belum lama ini saya menemukan sosok itu. Sebuah sosok yang membuat saya aman, nyaman, tempat berbagi, tempat bercerita. Seorang panutan dan seseorang yang bisa dengan bangga saya sebut ayah. Jujur, ketika saya menemukan dia, ketika akhirnya saya mendapatkan kasih sayang itu rasanya saya bahagia sekali. Rasanya segalanya telah kembali seperti semula, bahkan saya kembali memiliki kepercayaan bahwa semuanya akan baik baik saja.

Seperti judul dari artikel ini, sebuah sosok, yang ingin saya tekankan di artikel ini adalah pentingnya sebuah sosok yang sebenarnya dapat menjadi sebuah semangat untuk hidup, sebuah lampu pijar yang dapat menerangi kegelapan, sebuah batu karang yang dapat menjadikan pegangan dan pedoman kita untuk hidup. Terkadang kita masih mudah untuk lalai, masih mudah untuk melupakan betapa pentingnya arti sebuah sosok dalam kehidupan kita. Sosok apapun, dan mungkin personally bagi saya adalah sosok seorang ayah. Yang sudah saya temukan dan saya harap tidak akan pernah hilang lagi.

Sebuah sosok, mungkin terkadang mereka hanyalah sebuah sosok yang tidak penting dalam hidup kita, namun apabila kita mau lebih memperhatikan sosok itu dan menjadikan mereka pedoman kita, saya yakin sosok itu akan lebih berharga dan kemudian kita akan lebih menghargai arti dari sebuah kebahagiaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s