Bertanggung Jawab

Note: artikel yang tertulis disini murni hanya sebuah opini dari penulis, apabila ada yang menyinggung perasaan saya mohon maaf sebelumnya.

Sudah 2 hari belakangan ini saya tidak menulis artikel dan melupakan tanggung jawab saya sebagai penulis yang sudah jauh jauh dan dibayar mahal oleh orang orang yang mempercayai saya. Sungguh saya mohon maaf kepada Asta Ramdhanti dan juga Pak Benny yang sudah mempercayakan saya untuk menulis artikel kemudian saya malah lalai dan tidak menulis 2 hari dengan alasan lelah dan capek sekali.

Banyak sekali sepertinya tanggung jawab yang saya lalaikan beberapa hari ini dengan alasan terlalu sibuk atau lelah. Salah satu contoh sikap kurang tangung jawab yang saya lakukan selama 2 hari belakangan ini adalah:
1. melalaikan tanggung jawab saya sebagai penulis dan tidak menulis selama 2 hari
2. melalaikan tugas saya sebagai penyiar hari ini dan tidak siaran melainkan saya malah asik nonton DVD
3. melalaikan tugas saya sebagai seorang mahasiswi/murid dan kembali tidak masuk kelas dengan alasan sakit (walaupun memang saya benar benar sakit)
4. melalaikan tugas saya sebagai seorang anak yang baik dan kemudian malah lebih sering menyusahkan dari pada membantu orang tua saya.
5. dan melalaikan tugas saya sebagai manusia yang baik dan sering melupakan bahwa saya ini seharusnya sangat bersyukur dengan apa yang saya miliki dibandingkan mereka yang mungkin masih kekurangan dibandingan saya disekitar.

Apabila saya harus me-list satu per satu kelalaian saya sepertinya ini tidak akan pernah habis, tetapi yang ingin saya tulis hari ini adalah bagaimana kita seharusnya lebih memperhatikan tanggung jawab kita sebagai manusia. Terinspirasi dari 2 film yang saya tonton hari ini, kedua film yang saya tonton sendiri memiliki kekontrasan yang amat tinggi.

Yang pertama yang saya tonton adalah sebuah film yang berjudul The Secret Of Bees Life, dimana film ini bercerita tentang seorang anak yang hidup dalam perasaan bersalah karena dia pernah dengan tidak sengaja membunuh ibunya saat dia berumur 4 tahun dan kemudian dia hidup bersama dengan ayahnya yang kemudian melalaikan tanggung jawabnya sebagai ayah yang baik untuk seorang anak. Kemudian anak kecil ini kabur dari rumah dan tinggal bersama dengan seorang peternak lebah yang ternyata masih memiliki hubungan dengan ibunya.
Disini saya melihat 2 kelalaian yang sangat significant. Kelalaian dari si ayah yang tidak menjadi ayah yang baik, itu mungkin dikarenakan luka bathin yang memang belum sembuh, dan juga kelalaian dari sang anak yang lari dari rumah dan tidak ingin berusaha mengerti perasaan sang ayah.
Sebenarnya saya sendiri tidak menyalahkan, dan apabila saya ada di posisi anak tersebut mungkin saya sudah melakukan hal yang lebih gila dibandingkan, tetapi memang kelalaian ini bisa menjadi pembelajaran buat saya dan siapapun yang menonton film itu.

Film kedua yang saya tonton adalah sebuah film keluaran dari Walt Disney yang berjudul Bedtimes Story. Sebuah film lucu yang memiliki banyak sekali makna di dalamnya. Ceritanya sendiri berawal dari seorang paman yang suka menceritakan cerita kepada 2 keponakannya yang dimana cerita cerita tersebut menjadi kenyataan di dunia nyatanya. Cerita cerita itu sendiri di atur secara tidak sengaja oleh kedua keponakannya. Cerita dari film ini sendiri sangat easy flowing, tetapi masih ada 1 kelalaian yang sepertinya sengaj diciptakan oleh sang director dan penulis scenario dari film ini. Kelalaian dari sang paman yang tidak dapat melihat kenyataan dan malah mempercayai mimpi. Memang terkadang ketika kita sudah nyaman dengan sebuah kejadian atau beberapa kejadian beruntun, kemudian kita mulai mempercayai bahwa kejadian kejadian itu akan terus menerus menjadi nyata. Sayangnya terkadang kita salah dan malah terbuai dengan semua ‘kenyataan’ sesaat itu yang kemudian membawa kita kelalaian kelalaian lainnya yang malah akan berdampak berbahaya.

Personally, saya belajar banyak sekali hal hari ini dengan kedua film yang sudah saya tonton itu, walaupun saya melalaikan tangung jawab saya. Saya jadi lebih sadar kelalaian kelalaian itu terjadi karena kelengahan saya mensyukuri dan melihat sekitar saya. Terkadang sebagai manusia kita merasa kita memiliki banyak sekali tanggung jawab dan banyak sekali hal yang harus kita lakukan dalam 1 waktu, hingga hal hal yang memang diperlukan atau memang penting malah.
Kita lupa bahwa di dunia ini masih banyak sekali hal yang dapat dan perlu kita lakukan.

Dan hari ini ada sesuatu yang benar benar saya pelajari. Melalaikan tanggung jawab satu atau dua kali adalah hal yang wajar karena kita adalah manusia biasa, tetapi apabila anda melakukannya terus menerus, melalaikan tugas dan kewajiban kita itu merupakan hal yang bisa dibilang kejahatan.
Jadi dari pada kita berbuat kejahatan terus menerus, marilah kita lebih bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan, dan perhatikanlah apa yang lebih penting. Prioritaskan beberapa hal yang memang penting, dan terlebih pentingkan keluarga anda diatas apapun.

Jadilah seseorang yang bisa bertanggung jawab dengan apa yang anda lakukan, dan terlebih kepada diri anda sendiri. God Bless Us always!

Advertisements

Adat timur? atau kolot?


Note: artikel ini ditulis atas opini sang penulis semata dan tidak ada niat untuk menyinggung pihak mana pun. apabila ada pihak yang merasa tersindir saya mohon maaf sebelumnya.

Beberapa hari belakangan ini saya menyempatkan diri untuk kembali mengobrol dengan beberapa teman lama saya yang tinggal di luar negri seperti US dan Belanda, dan kami banyak mengingat masa lalu kita sewaktu kita masih kecil. Banyak sekali hal hal yang lucu dan memang patut untuk kita ingat agar kita tidak akan pernah melupakan masa masa kecil kita itu.

Perbincangan kami pun berlanjut dan mulai ke masalah hidup kami saat ini, dimasa yang sudah bisa dibilang dewasa. Banyak sekali perbedaan prinsip dan cara hidup yang berbeda pula antara saya dan teman teman saya yang memang hidup di negara berkembang seperti US dan Belanda, dan banyak di antara mereka yang menurut saya telah melupakan norma ketimuran kita sebagai bangsa Indonesia. Saya ingat sebuah pertanyaan teman saya kepada saya yang membuat saya jujur sedikit shock mendengarnya,

‘Ta masih virgin ga?’

sebuah pertanyaan yang sebenarnya di masa sekarang ini sudah tidak tabu sama sekali. Apalagi di tahun 2009 ini, dimana memang sebuah virginitas itu tidak lagi dipentingkan sama sekali dalam sebuah hubungan (mungkin).

Walau pun lama tinggal diluar negri dan menuntut ilmu di luar negri, sampai saat ini saya masih belum pernah mengerti cara berfikir orang barat. Walau mungkin cara berpakaian, cara berbicara dan sifat sifat cuek saya sering kali di hubung hubungkan dengan kehidupan orang barat, tetapi cara berfikir saya masih kental sekali dengan sebuah adat yang sering kali di sebut sebut adat timur oleh kebanyakan orang.

Dimana tentunya virginitas, kehormatan pada orang tua, kepedulian pada sesama, dan banyak lagi hal lainnya masih merupakan nomor satu di antara lainya. Kalau mau kita bahas satu per satu disini, mungkin ini akan menjadi sebuah artikelnya yang panjangnya berpuluh puluh page, tetapi tentunya sebagai orang timur, anda para pembaca artikel ini akan mengerti dengan sendirinya apa yang saya maksudkan.

Saya sekali lagi sama sekali tidak menyalahkan adat kebaratan yang mereka adopt dari sekeliling mereka, karena itu sangatlah wajar terjadi. Tetapi yang saya tidak habis pikir, mengapa adat ketimuran mereka hilang seketika? Bukankah kita akan selalu mengingat asal dimana kita dilahirkan? Bukankah seharusnya kita berbangga sebagai orang timur yang masih perduli kepada orang tua dan selalu dapat mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan (walaupun tidak semuanya)?

Ketika saya menjawab pertanyaan teman saya di atas, dengan jawaban,

‘tentu saja saya masih virgin dan akan terus menjaganya hingga menikah nanti…’

teman saya pun melontarkan sebuah kata yang kembali cukup mengagetkan saya..

‘akh kolot amad sih lo jadi orang’

tentu saja sesaat saya berfikir, apakah jalan pemikiran saya yang kolot atau sebenarnya saya masih memegang adat timur dengan sangat kuat?

Dan akhirnya saya menyimpulkan kalau saya bukan orang kolot, melainkan saya masih memegang adat timur yang saya percayai dengan kuat. Karena seharusnya sebagai warga yang beradat, dilahirkan, dan kemudian dibesarkan dengan adat timur walaupun dengan environment yang kebarat baratan, kita masih harus selalu bangga dengan adat bangsa kita. Mengapa kita mesti malu atau mungkin merasa minder dengan adat kita? Mengapa kita harus selalu mengikuti adat orang lain dan merasa keren atau cool karenanya? Mengapa kita tidak mau membuat sebuah trend-setter dengan menjadikan mereka beradat timur?

It’s time to change the world and make it a better place. Mengapa harus selalu minder dengan adat dan bangsa kita? Berbanggalah, karena kalau bukan kita yang bangga, siapa lagi?

Gadget-Holic

Note: artikel ini murni hanyalah opini dari penulis dan tidak bermaksud untuk menyinggung siapa pun. Apabila ada yang kurang berkenan saya mohon maaf sebelumnya.

Tahun 2009, adalah sebuah tahun yang dikatakan tahun technology. Hampir semua orang, dari segala umur dan segala kalangan memiliki sebuah gadget yang berhubungan dengan techonology. Setiap harinya, para pembuat gadget pun mendesign dan membuat sesuatu yang baru untuk para ‘gadged-holic‘ yang memang tergila-gila dengan hal hal seperti ini.

Dewasa ini sebuah gadget menjadi tolak ukur kegaulan seseorang. Handphone, Ipod, PSP, Nintendo DS, atau apapun gadget lainnya membuat anak muda jaman sekarang menjadi tergila dengan gadget gadget tersebut.
Saya ingat sebuah cerita dimana teman saya menangis ketika handphonenya ketinggalan di rumah ketika dia pergi. Mungkin saya bisa mengerti karena itu menjadi sulit untuk dia berkomunikasi dengan temannya, apalagi di masa seperti ini, tetapi ketika saya tanyakan alasannya, dengan entengnya dia menjawab,

‘ya gw magay (mati gaya) aja kalo ga ada handphone’

Hal ini juga terjadi pada saya sendiri. Saya sendiri merupakan seseorang yang bisa dikatakan sangat gadget-holic. Rasanya tidak tahan apabila saya melihat handphone keluaran terbaru dan saya tidak memilikinya, atau gadget apapun keluaran terbaru dan saya belum memilikinya.

Sebenarnya apabila dilihat dari tingkat keperluannya, gadget memang dibutuhkan sekali, apalagi di tahun yang sudah dapat kita katakan tahun technology, dimana sebuah gadget akan sangat berguna agar kita dapat berkomunikasi satu sama lain. Seorang anak TK yang baru berumur 5 tahun saja saat ini sudah memiliki handphone, PSP, nintendo DS, dan gadget lainnya yang selalu disebut sebut untuk menghilangkan mati gaya dan menjadi tolak ukur kegaulan kita sebagai anak muda. Terkadang banyak anak muda jaman sekarang yang menjadi minder apabila mereka tidak memiliki gadget terbaru, apabila mereka sama sekali tidak memiliki gadget yang teman teman mereka punya dan lain sebagainya.

Hal ini juga terjadi tidak hanya kepada anak muda, tetapi juga kepada orang yang berumur lebih dewasa atau juga yang memiliki jabatan tinggi. Gadget seperti handphone, PDA, dan sebagainya menjadi sesuatu yang sangat sangat berharga dan menjadi tolak ukur kesuksesan mereka. Saya ingat sebuah cerita ketika saya mengatakan kepada seseorang bahwa handphonenya itu sudah sangat lama dan tua, dan sudah saatnya dia untuk mengganti handphonenya. Ketika kemudian dia mengganti handphonenya dengan yang lebih baru dan yang cukup bisa dikatakan mahal, beberapa orang kemudian berkomentar,

‘wahhh handphonenya ganti, emang susah yang udah jadi bos..’

saya tertawa terbahak-bahak ketika saya diceritakan hal itu oleh teman saya, dan kemudian saya berfikir; sebegitu pentingnyakah sebuah gadget?
Sebuah pertanyaan yang hingga saat ini pun belum dapat saya jawab, karena saya sendiri masih mengalami syndrome ‘gadget-holic‘ dan masih mengharapkan sebuah ipod touch terbaru minggu depan.

Sebenarnya tidak pernah ada salahnya untuk menjadi seorang gadget-holic di jaman yang memang sudah seharusnya ini. Tetapi yang salah adalah ketika kita terus menerus mengikuti trend gadget yang tidak akan pernah habisnya tanpa tau alasan mengapa kita harus memiliki gadget gadget tersebut.

arti sahabat


Note: Artikel ini tertulis dan tertuang dalam kata-kata murni sebagai sebuah opini dari si penulis. Dan artikel ini ditujukan kepada 3 sahabat terbaik saya: Faizal Dunggio, Octavia Hutagalung dan Jane Felis.

Sahabat berarti seseorang yang dapat kita percaya, dapat kita ajak ngobrol, teman menangis tertawa, teman dalam sedih dan senang. Saya yakin kita semua pasti memiliki sahabat, atau mungkin peletakannya pada kalimat bukan sahabat, tetapi teman baik.

Saya memiliki 3 teman terbaik itu, dan mereka selalu ada dalam susah dan senang saya, mereka orang-orang yang walau ada jarak menghalang selalu bisa berkomunikasi dengan saya. Memang untuk berkomunikasi saat ini pun sudah gampang sekali dengan adanya telepon genggam, internet atau social networking seperti Friendster, Facebook, Multiply, Hi5, atau banyak lagi lainnya yang mungkin akan sulit untuk disebutkan satu per satu disini. Tetapi kadang bersahabat jarak jauh pun tetap terkadang terhambat dengan kesibukan kami masing masing.

Mungkin saya akan bercerita sedikit tentang sahabat sahabat saya ini:

Faizal Dunggio, seorang cowo yang berasal dari Gorontalo dan sedang berdomisili di Yogyakarta untuk menuntut ilmu di Universitas Gajah Mada. Saya ingat pertama kali saya berkenalan sama dia itu saat saya baru saja bergabung di salah satu radio cyber dimana hingga saat ini masih mengabdikan diri sebagai HRD dan Announcer. Awal perkenalan yang lucu sebenarnya karena kita sedang sama-sama bercanda saja di chat room yang memang disediakan untuk para listeners berinteraksi bersama. Diawali dengan hanya berteman biasa, lalu dia mulai sering bercerita dan membuka diri. Otomatis dari pihak saya pun mulai membuka diri dan mulai bercerita apa saja yang dapat saya ceritakan kepada dia. Rasa nyaman pun kemudian tumbuh dan ada saat berbincang dan berada bersama dengan dia. Awalnya memang kami hanya berteman melalui chatting dan internet saja, tetapi ketika saya kembali ke Indonesia akhir tahun 2008 lalu kami pun bertemu dan ternyata kami sama sama merasa nyaman bersama. Saat itu saya dapat memastikan kalau dia memang layak saya sebut seorang sahabat.

Octavia Hutagalung, seorang cewe yang berketurunan batak yang saat ini berdomisili di Jakarta dan sedang menuntut ilmu dan menggarap skripsinya di Universitas Negeri Jakarta. Berkenalan sama Octa awalnya dikenalkan oleh Faizal dan awalnya memang kita hanya teman biasa saja, tidak pernah sama sekali kami banyak bercerita. Sampai entah dimana hari itu kita bisa ngobrol panjang lebar dan mulai membuka diri. Saat ini Octa adalah orang yang selalu gw cari apabila gw ada masalah dan dia lah orang yang selalu bisa menenangkan gw kalo sedang ada masalah.

Jane Felis, seorang cewe yang menjadi sahabat saya sejak saya SMP. Saat ini dia berdomisili di Jakarta dan menuntut ilmu di Universitas Pelita Harapan, seorang yang sangat mencintai musik dan piano. Awalnya gw ga kenal sama dia, secara dia ini senior gw 1 tingkatan di sekolah yang dulu dan juga memang gw ga begitu terkenal atau punya banyak temen di sekolah itu. Kita sama sama pergi ke sekolah dengan antar jemput yang sama, dan disanalah kami berkenalan dan menjadi dekat satu sama lain karena frekuensi waktu bertemu yang tinggi. Sampai saat ini pun, walaupun frekuensi kami ber-SMS atau ngobrol tidak begitu banyak dibandingkan yang dulu, tetapi apabila kami kami sedang bingung atau hanya sekedar iseng, pastilah kami memberitakan satu sama lain.

Itu adalah beberapa kilasan tentang sahabat sahabat saya, mereka adalah orang yang dapat saya sebut sahabat karena mereka selalu ada dalam suka, sedih, dan salam suasana apa pun. Walau pun dalam bersahabat atau berteman pasti pernah terjadi kecekcokan atau ketidaksamaan pendapat antara satu sama lain. Karena bagaimana bisa selalu sama pendapat apabila kita ini adalah individu yang berbeda, seorang yang memiliki saudara kembar pun pasti pernah beradu pendapat satu sama lain.

Dalam bersahabat pun saya yakin kita pasti pernah beradu pendapat, kita pasti pernah setidaknya berkelahi atau beradu mulut akibat ketidak samaan pendapat atau mungkin lain lagi sebagainya. Tetapi bukankah karena ini hubungan persahabatan kita jadi lebih erat dan lebih dapat mengerti satu sama lain? Friksi yang terjadi tidak selamanya akan menimbulkan dampak negatif, tetapi bagaimana kita dapat melihat sebuah masalah dari segi yang berbeda maka selalu ada solusi dari segala masalah.

Kalau tadi diawal saya menulis, sahabat seseorang yang dapat kita percaya, dapat kita ajak ngobrol, teman menangis tertawa, teman dalam sedih dan senang. Saya yakin kita semua pasti punya orang yang dapat membuat kita nyaman dan selalu menemani kita. We are never born alone to this world. saya tidak tau apakah anda memanggil orang terdekat anda sahabat, atau teman baik.. tetapi yang saya tau, setiap sahabat kita adalah orang orang yang patut kita syukuri keberadaannya karena merekalah yang mewarnai dunia kita.

Khawatir

Note: Artikel yang tertulis disini murni hanya sebuah opini semata dan tidak bermaksud untuk menyinggung atau menyindir siapapun, dan sebelumnya saya meminta maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan.

Setiap orang pasti memiliki rasa was was dan rasa ketidak-amanan, apalagi ketika anda pernah mengalami hal yang buruk, dan ketika anda mau mengulang rutinitas tersebut anda pasti pernah merasa takut dan was was.

Seperti biasanya, 3 hari sebelum imlek tentu saja sudah mulai ramai menyiapkan segalanya yang perlu disiapkan dan salah satu yg perlu disiapkan adalah menyusun jeruk yang akan di pajang di meja ruang tamu lalu diselipkan ang pao sebagai sebuah tradisi yang selalu dilakukan di rumah saya. Ibu saya pun hari ini sudah mulai sibuk dengan membersihkan dan menyetok rumah dengan buah buahan. Ketika ibu saya pulang dengan banyak belanjaan, saya di berikan tugas untuk menyuci dan menyusun buah buahan tersebut. Ingatan saya kemudian terbang kepada sebuah email forward-an yang saya terima dari beberapa orang kepada saya, judulnya: Beware worms inside oranges.
Sebenarnya email ini baik sekali, karena memberikan informasi yang mungkin banyak dari orang orang yang tidak tau menau sama sekali tentang hal ini, akan tetapi email ini justru membuat sebagian orang menjadi takut dan was was untuk mengkonsumsi jeruk.

Tadi siang pula saya sempet bertukar komentar dengan seorang teman di social networking yang sangat addictive (facebook, red) tentang makanan.

jangan makan kambing kandungan kolesterolnya khan tinggi..’

sebenarnya tidak ada yang salah dengan kalimat itu, karena memang ada baiknya kita menghindari makanan yang dapat membawa penyakit, tetapi terkadang yang salah adalah ketika kita menjadi was was dan tidak berani untuk mengkonsumsi makanan tersebut.

Kekhawatiran itu sebenarnya baik sekali karena kita menjadi lebih tau dan lebih dapat me-limitkan apa yang kita miliki (atau konsumsi dalam hal ini), akan tetapi sampai kapan kita mau selalu was-was hingga tidak dapat menikmati dunia ini?
Saya melihat banyak kejadian dimana orang-orang menjadi tidak dapat menikmati dunia dan kemudian melupakan bagaimana cara menikmati dunia dengan baik dan seharusnya. Terkadang banyak dari teman teman saya yang juga menjadi paranoid akibat terlalu khawatir dan terlalu was was.

Ada sesuatu yang selalu saya ingat dari kata kata seseorang adalah: Sesuatu yang terlalu itu pasti ga baik, tetapi sesuatu yang ga terlalu juga ga baik. Jadi paling bagus ada ditengah tengah aja, kayak lagu dangdut yang judulnya Yang Sedang Sedang Saja. Tetapi akan lebih baik lagi apabila kita meletakkan Tuhan di atas segalanya seperti postingan saya kemarin (baca Persepsi Bahagia) dimana saya tulis dan akan saya kutip lagi disini, ‘Letakkan Tuhan diatas semua keputusan anda’. Karena yakinlah Tuhan tidak akan dan tidak pernah meninggalkan kita sama sekali.

Jadi untuk apa khawatir? Nikmatilah hidup anda dan jangan jalani hidup anda di atas kekhawatiran. Just follow what your hearts says.. dan ketika anda dapat melakukan itu, saya yakin hidup anda akan menjadi lebih indah.
God Bless Us!

Sebuah Sosok


Note: Artikel ini murni opini dan pendapat saya semata, apapun yang tertulis apabila ada yang kurang sepakat dengan tulisan dan opini anda, saya mohon maaf sebelumnya.

Sebuah keluarga yang lengkap haruslah terdiri dari ayah, ibu kemudian anak anaknya. Keluarga yang saya maksud disini adalah hanya keluarga inti saja, tidak termasuk kakek, nenek, sepupu, ipar, dan lain sebagainya. Dewasa ini kita banyak mendapati keluarga yang berantakan atau biasanya dengan kata gaulnya anak muda jaman sekarang ‘broken home’.

Entah mengapa sepertinya ini merupakan sebuah trend yang terjadi dan membuat anak-anak muda bertingkah liar dan melakukan hal hal yang seharusnya dapat di atasi apabila mereka memiliki keluarga yang utuh dan baik baik saja. Saya sendiri terlahir dari keluarga yang ‘broken’, hidup dengan keluarga yang ‘broken’, disekelilingi dengan anak anak yang memiliki ‘broken home’ dan segalanya yang berkaitan dengan ‘broken’. Bukankah tidak ada yang salah dengan kondisi ini, selama toh kita hidup bahagia bukannya sah sah saja untuk memiliki keluarga yang ‘broken’ dan selama kita bisa menghidupi diri kita dengan kebahagiaan apa sih yang sebenarnya salah dari kata ‘broken home’?

Sebenarnya memang tidak ada yang salah, tetapi ada yang kurang dari inti dan juga arti sebuah keluarga. Seperti yang saya tulis di awal artikel ini, sebuah keluarga yang lengkap seharusnya terdiri dari ayah,ibu dan anak anaknya, dan tentunya akan menjadi tidak lengkap apabila tatanan dari keluarga utuh ini di’patah’kan dan biasanya, anak anaklah yang akan menjadi korban dari kerusakan tatanan keluarga yang utuh itu.

Kalau dari pengalaman saya, saya sendiri adalah seorang anak muda yang terlahir dari keluarga yang bisa saya bilang berantakan total. Jujur pernah terlintas dibenak dan pikiran saya untuk sama menjadi anak anak kebanyakan yang kemudian menjadi pecandu narkoba, merokok, peminum, atau berbuat hal hal yang lainnya. Tetapi puji Tuhan, Dia selalu menjaga dan melindungi saya dari segala hal dan perbuatan terlarang yang pernah terbersit di benak saya. Pernah suatu ketika saya akhirnya lelah dan kemudian menyerah dengan keadaan yang telah ada dan terhampar di depan mata saya. Menyerah dalam mencari sebuah dan seorang sosok yang dapat saya panut di dalam hidup. Seorang sosok yang selalu saya dambakan dan saya cari selama hidup saya kurang lebih 17 tahun, seorang ayah, seorang yang dapat menjadi sahabat, tempat menangis, tempat berbagi, seseorang dimana bisa saya dapatkan rasa aman, seseorang yang dapat saya katakan dengan bangga kepada semua orang, ‘ini loh papa aku..’ selalu menjadi target utama saya. Kalau ditanya mengapa, jawaban yang mungkin akan terlontar dari saya adalah: pertama, saya ingin merasakan aman dan ingin memiliki sebuah sosok yang bisa saya jadikan panutan kemudian yang kedua, saya sudah lelah ditanya oleh orang orang, ‘papanya dimana?’ dan yang bisa saya lakukan hanya tersenyum. Saya yakin, hampir semua anak anak yang broken home, entah itu kehilangan ayah atau kehilangan ibu pasti memiliki perasaan yang sama, atau mungkin akan merasakan perasaan yang sama. Dimana kelelahan dan keletihan akan kepura-puraan bahagia di depan banyak orang, terutama relasi dekat orang tua yang mengasuh kita menjadi sebuah momok yang menyeramkan.

Namun kemudian, belum lama ini saya menemukan sosok itu. Sebuah sosok yang membuat saya aman, nyaman, tempat berbagi, tempat bercerita. Seorang panutan dan seseorang yang bisa dengan bangga saya sebut ayah. Jujur, ketika saya menemukan dia, ketika akhirnya saya mendapatkan kasih sayang itu rasanya saya bahagia sekali. Rasanya segalanya telah kembali seperti semula, bahkan saya kembali memiliki kepercayaan bahwa semuanya akan baik baik saja.

Seperti judul dari artikel ini, sebuah sosok, yang ingin saya tekankan di artikel ini adalah pentingnya sebuah sosok yang sebenarnya dapat menjadi sebuah semangat untuk hidup, sebuah lampu pijar yang dapat menerangi kegelapan, sebuah batu karang yang dapat menjadikan pegangan dan pedoman kita untuk hidup. Terkadang kita masih mudah untuk lalai, masih mudah untuk melupakan betapa pentingnya arti sebuah sosok dalam kehidupan kita. Sosok apapun, dan mungkin personally bagi saya adalah sosok seorang ayah. Yang sudah saya temukan dan saya harap tidak akan pernah hilang lagi.

Sebuah sosok, mungkin terkadang mereka hanyalah sebuah sosok yang tidak penting dalam hidup kita, namun apabila kita mau lebih memperhatikan sosok itu dan menjadikan mereka pedoman kita, saya yakin sosok itu akan lebih berharga dan kemudian kita akan lebih menghargai arti dari sebuah kebahagiaan.

Persepsi Bahagia

Note: apa yang saya tulis disini murni hanya datang dari apa yang saya lihat dan saya rasa, jadi apabila memang tidak berlaku kepada beberapa orang yang membaca saya mohon maaf.

Persepsi bahagia, saya yakin hampir semua dari kita memiliki persepsi yang berbeda beda untuk segala hal yang kita lakukan di dunia ini, salah satunya adalah persepsi kebahagiaan yang saya yakin saya memiliki mungkin persepsi yang berbeda dari anda. Tadi siang saya berjalan jalan di salah satu jalan di kamboja ini dan kemudian saya melihat sebuah slogan dalam bahasa ingris dari sebuah provider selular yang bertuliskan ‘Happiness is your choice‘ yang kemudian menarik saya untuk berfikir lebih dari makna dibalik slogan yang sengaja di pasang di jalan raya itu. Sepanjang perjalanan menuju kampus saya berfikir dan merenung kembali dengan alunan Kenny G yang mengalun cukup kerasdari radio mobil saya, kata happiness kembali terulang ulang dalam benak saya nampaknya berusaha mencari definisi yang tepat untuk kata happiness.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), bahagia berarti keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dr segala yg menyusahkan). Itu mungkin sebuah arti general dari kata bahagia, tetapi apakah bahagia bagi diri kita sendiri? Kemarin, seharusnya saya memposting artikel ini, tetapi dikarenakan kemalasan saya untuk meneruskan menulis dan malah akhirnya saya ber-siaran sampai jam 12 malam, tema ini-lah yang kemudian saya angkat ke dalam siaran saya, dengan satu pertanyaan: Apa sih persepsi bahagia kamu? Cukup banyak yang bertanggapan dan kemudian semua persepsi yang mereka miliki kemudian menunjukkan siapakan dan seperti apakah mereka. Beberapa jawaban dari mereka adalah:
‘ketika kita bisa membahagiakan orang tua dunia dan akhirat’
‘when all our basic needs is fulfilled’
‘ketika kita bisa tersenyum jasmani dan bathin’
‘ketika gw bisa barengan terus sama pacar gw’
dari semua jawaban yang saya dapatkan kemarin, semuanya memang merupakan arti kebahagiaan untuk para pendengar radio saya malam kemarin, tetapi apakah arti kebahagiaan untuk saya sendiri?

Bagi saya, kebahagiaan adalah ketika saya memiliki sebuah keluarga bahagia yang utuh. Sudah menjadi cita-cita saya untuk memiliki sebuah kebahagiaan yang saya dapatkan dari sebuah keluarga yang utuh, sebuah keluarga yang saling menyayangi satu sama lain dan walaupun pasti tidak ada kebahagiaan yang mutlak, tetapi ketika saya memiliki keluarga utuh yang bahagia, saya yakin setidaknya saya akan menjaga kebahagiaan yang akan ada dan akan hadir.
Tetapi kembali, kita tidak bisa terlau berharap pada suatu hal dan kemudian terlalu fokus pada harapan maka hasilnya kita akan melupakan sisi bahagia yang semestinya atau mungkin lebih tepatnya saya katakan kita sudah miliki. Sering kali sebagai manusia yang memang sudah menjadi nature-nya banyak menuntut dan banyak maunya. Itu merupakan sebuah hal yang manusiawi, namun terkadang kita lupa atau bahkan kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita sudah merasakan sebuah kebahagiaan.

Bukan menyalahkan, tetapi itulah nature kita dan di dalam artikel ini saya tidak mengatakan bahwa manusia adalah mahkluk yang tidak tahu diuntung atau tidak bisa merasakan, akan tetapi apabila saya mereflek kepada diri saya sendiri, saya pun jujur mengakui kalau saya adalah satu diantara sekian banyak orang yang melakukan hal itu. Lupa diri ketika sedang berbahagia dan kemudian bertanya, ‘Kapan gw bakal bahagia?’ ketika saya sedang merasakan kesulitan. Jadi kapan kita akan benar benar merasakan bahagia? Mungkin jawabannya adalah ada di dalam diri kita masing masing. Kapan kita ingin dan akan sadar merasa bahagia, seperti kalimat yang menjadi slogan provider selular itu, ‘Happiness is your choice’. Kapan kita mau memilih untuk menjadi bahagia dan kapan kita mau benar benar merasa bahagia.

Cobalah untuk melihat sesuatu dari sebuah sisi yang berbeda dan cobalah untuk meletakkan Tuhan di atas semua keputusan dan jalan yang anda semua pilih, maka anda akan bisa merasa lebih bahagia. God Bless Us All…

Jazz: Only a genre? or is it a life style?

Note: apa yang gw tulis disini hanyalah opini gw yang datang dari lubuk hati paling dalam..

Sudah lama saya tidak menulis artikel, dan sepertinya saya akan kembali memulai menulis artikel lagi mulai malam ini. Kali ini mungkin saya akan mengangkat sebuah tema yang menarik perhatian saya dari sebuah tagline sebuah acara Jazz besar yang diadakan setiap tahunnya di Jakarta yang akan mendatangkan banyak musisi Jazz dari mancanegara – Java Jazz.

Personally, saya sendiri hanya pernah menghadiri 1 dari sekian banyak acara Java Jazz yang pernah di adakan di Jakarta Conventional Centre – Jakarta dan itu pun dikarenakan saya diberikan sebuah tiket gratis oleh teman saya selama 3 hari berturut turut termasuk special shows-nya.
Sudah kurang lebih 5 tahun belakangan ini saya bisa dibilang orang yang cukup freak dengan genre yang selalu disebut sebut mahal oleh kebanyakan orang, dan juga banyak disebut sebagai genre orang tua oleh sebagian dari anak anak muda sekarang. Tapi apakah benar kenyataannya seperti yang banyak dikatakan orang bahwa Jazz hanya untuk orang kaya dan orang tua?
Kalau anda tanyakan itu pada saya maka saya akan menjawab ungkapan dan stereotype itu salah besar. Mungkin saya tahu mengapa banyak orang berfikir bahwa Jazz adalah lagu mahal atau lagu orang tua, hanya karena kebanyakan genre jazz ini diputarkan di lounge mahal yang terdapat di hotel bintang 5 yang memiliki range harga yang sejujurnya mahal luar biasa atau kebanyakan pencinta jazz adalah orang yang berumur bukan berarti lagu jazz hanya dinikmati oleh orang tua dan orang kaya.

Jazz sendiri adalah jenis musik yang lahir karena adanya peralihan dari musik traditional menuju musik modern, awalnya jazz adalah lagu yang mencirikan kultur dari orang orang berkulit hitam di US, dan sama seperti nasibnya pada masa itu, sebagai orang yang terdiskriminasi maka lagu mereka pun kurang lebih sama terdiskriminasinya seperti orang orang kulit hitam tersebut. Kemudian perlahan pada era tahun 1930-an munculnya sub-genre yang diberi nama swing membuat orang mulai memperhatikan dan menghitung Jazz kedalam kategori musik mereka. Jazz perlahan mulai terkenal ketika banyak big band di Eropa yang mulai memainkan lagu lagu mereka dan menyebutnya sebagai Jazz dan kemudian akhirnya memiliki ciri yang dikenal sedikit banyak orang dan membedakan Jazz dari genre lain yaitu improvisasi, sinkopasi dan juga blue note – nada yang merendah pada not ketiga dan ketujuh.

Kemudian dewasa ini perlahan Jazz mulai meluas dan memiliki banyak sekali sub-genre, atau mungkin sekarang Jazz menjadi genre yang memiliki paling banyak sub-genre diantara semua genre yang ada dan pernah di kenal saat ini. Memiliki lebih dari 40 sub-genre saat ini dan mungkin akan bertambah lagi setiap tahunnya jazz menjadi sebuah genre yang amat luas dan terkadang membuat para non-jazzer sulit untuk menidentifikasikan jazz. Saya ingat teman saya, ketika saya bilang saya ini adalah seorang penggemar atau bisa disebut pencinta jazz dia berkata pada saya,

“kalau gw sih bukan pencinta jazz tapi gw suka sama lagu yang upbeat energic dan a lil’ rock”

dan kemudian setelah mengobrol dengan dia lebih jauh dia menyebutkan beberapa nama yang merupakan maestro dan juga penyanyi yang ada dibawah kategori jazz seperti: Frank Sinatra, Lighthouse Family, Neri Per Caso, dan RAN yang dia pikir ini adalah lagu RnB. Kalau saya ingat apa yang dia katakan pada saya ketika dia tahu kalau dia ternyata seorang jazzer juga adalah,

“ya ampuuunnn ga gw sangka kalau ternyata gw sama tuanya sama lo..”

Sampailah akhirnya kita pada pertanyaan di awal artikel ini. Jazz: Only a genre or is it a life style?
Personally for me Jazz is a lifestyle, karena setiap genre jazz memiliki keunikan dan kehebatannya masing masing, dengan warna, dengan detak, dan ketukan yang berbeda setiap sub-genre jazz itu seperti menunjukkan serta menggambarkan kehidupan yang berbeda beda, yang pernuh warna dari setiap orang yang menjalaninya. Karena seperti yang bisa saya kutip dari salah seorang teman terdekat saya,

“everything has it’s style and jazz perfectly draws it.”

yuupz, jazz is not only a genre but it’s a lifestyle.

PS: to know more about Jazz and update on Java Jazz Festival 2009, you can log on Jazzuality to get the latest update on jazz events.

silweran numpang lewat.. ^_^

Hari ini hari yang cukup bawa senyum buat gw,walau sebenernya masih ada sedikit kegalauan di hati cuma berusaha untuk menepis karena gw tau Tuhan pasti akan menjawab dan membantu gw salam segala hal.. but anyway hari ini gw bukan mau nulis soal itu kok.. hehehehe
Hari ini gw beli hape baru E71 dan tadi gw isheng isheng online as gw udah bisa online di hape gw dengan mudahnya dan akhirnya gw mampir di blognya kuluw, ada sedikit yang menggugah gw karena bener kata dia..
blog gw biasanya isinya sampah, curhatan, atau mungkin cerpen cerpen gw yang hanya biasa biasa aja untuk meramaikan suasana blog gw… cuma sepertinya ada baiknya juga kalau gw mulai menulis artikel lageh..
*hummm.. jadi inget blog gw terdahulu yang isinya penuh sama artikel pembelajaran* wakakakaka sayangnya gw udah lupa itu linknya apaan dan dimana. wakakakaka

anyways… gw hanya droppin’ by to my blog yang sungguh imut dn penuh sampah ini..
mungkin di posting selanjutnya dhe gw posting satu artikel tentang pembelajaran di kampus gw..
wakakakaka ^__^

cabyuttzz dulu akh ^__^