Seilla Peri yang Terluka .. part eight – THE END

Aku duduk termenung memandangi langit malam. Hari ini langit malam terlihat begitu gelap dan begitu kelam, dan entah kenapa pikiranku malam ini begitu tak jernih. Pikiranku melayang kemana-mana, sudah beberapa hari ini aku merasakan itu, hatiku rasanya sakit, pikiranku tidak focus. Sudah beberapa kali pula aku dimarahi oleh ibu dan nenek peri di kota karena aku tidak belajar dan bekerja dengan benar.

Aku bisa merasakan air mataku meleleh perlahan.. Aku bingung perasaan apa yang sedang aku rasakan. Perasaan ini menggamangkan hati, perasaan ini melukai lubukku, perasaan ini menyesakkan nafasku. Perasaan takut kehilangan sebelum memiliki seutuhnya, perasaan takut kehilangan semua harapan yang pernah aku miliki, perasaan takut untuk maju satu langkah karena aku yakin aku akan tersakiti. Apakah ini yang namanya trauma bathin ya?

Langit malam ini begitu kelam dengan angin berhembus yang menusuk sukmaku yang juga membeku.
“Seilla…” panggilan yang cukup mengagetkanku ditengah lamunan yang melayang-layang. Aku membeku diam tak bergerak, aku merasakan kehadiran yang lain, peri lain yang sepertinya memandangiku sedari tadi. Aku tolehkan kepalaku ke arah suara itu…
“Georgy…” ucapku perlahan mendapati siapa yang duduk tak jauh disampingku.
“Sedang apa kamu disini?” tanyaku dengan kebingungan padanya..
“Aku sedang memandangi langit malam seperti dirimu..” jawabnya ringan sambil tetap mendongakkan kepalanya ke atas memandangi langit kelam itu. Aku termanggu mendengar kata-katanya, sebersit otakku mulai berpikir, sudah berapa lama dia memerhatikanku seperti ini? Setiap malamkah? Atau baru hari ini dia melihatku duduk dalam kegelapan seperti ini?
“Apa yang sedang kamu pikirkan Seilla? Peri yang terluka, masihkah kamu seperti itu?” Tanyanya memecahkan keheningan malam, memecahkan seluruh naluriku, membuyarkan lamunanku dan membawaku ke realita yang ada. Pertanyaan yang sebenarnya hingga saat ini belum terjawab. Pertanyaan yang sepertinya tidak akan pernah ada jawabannya.
“Akuu.. mungkin.” Jawabku sedikit tercekat. Sebenarnya ada begitu banyak kata-kata dibenakku, ada begitu banyak yang ingin aku katakan pada Georgy, hanya saja dia bukan Pino. Aku tidak memiliki rasa nyaman itu padanya, aku tidak bisa menjadi diriku sendiri di depan Georgy.
Dan keheningan itu kembali menyelubungi kami.

Dalam keheningan itu pikiranku kembali melayang. Begitu abstract, sulit untuk aku deskripsikan apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranku.
Aku terdiam dalam kegelapan malam. Aku tercenung dengan keadaan.
Realisasi bahwa sampai saat ini aku masih terluka semakin menyakitkan hatiku. Realisasi bahwa ternyata semua kesakitan itu terjadi karena diriku sendiri dan semua pikiranku semakin membuat ku merana. Realisasi bahwa itu semua karena trauma yang pernah dibuat orang lain semakin membuatku benci terhadap orang-orang itu. Realisasi bahwa ternyata aku lebih menyayangi orang lain dan memandang hormat orang lain membuatku menjadi peri yang tidak tahu terima kasih. Tetapi apakah mereka pernah mengerti aku? Apakah mereka pernah berfikir tentang apa yang aku rasakan? Apakah pernah sekali saja terbersit di otak mereka kalau aku juga merasakan?

“Georgy…” kataku perlahan dan tertahan..
“yaa..” jawabnya tetap memandangi langit yang kelam itu
“Aku masih seorang peri yang terluka” kataku perlahan, membuat kegelapan disekelilingku semakin gelap. Membuat hati ini semakin sakit dan semakin kelu untuk merasakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s