Seilla Peri yang Terluka .. part three

Namaku Seilla, dan aku bukan lagi peri yang terluka. Sekarang aku lebih di kenal sebagai peri ceria. Aku banyak tertawa, aku banyak melucu, dan bahkan kata sebagian teman-temanku aku seharusnya menjadi kurcaci penari atau mungkin kurcaci pelucu yang selalu bisa membuat orang tertawa setiap saat. Tiada orang yang tau kalau aku sebenarnya berlari dari realita diriku yang kejam dan selalu menyakitkan.

Aku bertemu dengan banyak manusia, padahal kami sebagai peri dilarang berhubungan atau bertemu dengan manusia. Aib, begitu katanya karena manusia selalu lari ketakutan apabila mereka bertemu atau melihat kami layaknya kami ini adalah mahkluk gaib atau setan.

“Seilla…” panggilan samar-samar itu terdengar di telingaku, sayapku pun berpendar-pendar tanda yang memanggil adalah manusia, bukan sesama peri. Aku pun berpendar sesaat lalu merubah penampilanku agar dapat terlihat oleh manusia.
“Iyaa ada apa Thio?” tanyaku ketika aku sudah menampakkan diriku padanya. Thio ini adalah manusia pertama yang berkenalan denganku. Aku ingat pertemuanku dengannya ini cukup membuatku trauma hingga aku tidak ingin bertemu dengan manusia mana pun lagi, tetapi semuanya berubah ketika persahabatan ini terus berlanjut.
“Engga, aku mau manggil ajah. Kesepian nich Seilla..” kata Thio perlahan seperti sedang dalam masalah yang berat.

Aku pernah diajarkan oleh Thio, katanya di dalam dunia manusia dia itu berjenis kelamin cowo dan dia punya cewe yang berjenis kelamin seperti aku katanya. Sungguh tidak dapat dimengerti, karena di dalam dunia peri tidak ada cewe atau cowo dan apa itu jenis kelamin aku sendiri tidak mengerti. Begitu dibedakannyakah mereka hingga banyak sekali perbedaan yang ada? Katanya Pula, mereka lahir karena proses hubungan antara dua manusia yang berjenis kelamin berbeda, sedangkan di dunia peri kami lahir karena pemupukkan serbuk peri setiap harinya oleh dua peri yang berbeda. Cuma biarlah aku tidak mengerti dunia manusia seutuhnya, karena perlahan aku mulai menyukai dunia manusia dan memilih untuk menjadi manusia.

“Seilla, apakah kamu masih di panggil peri yang terluka seperti ceritamu dulu?” tanya Thio padaku hati-hati. Sepertinya dia takut menyakiti hatiku. Aku tertawa kecil dan tersenyum padanya,
“Aku bukan lagi peri yang terluka itu Thio. Aku sekarang adalah peri ceria, kenalkan” jawabku sambil mengulurkan tangan mungilku padanya. Thio pun tertawa keras sambil memejamkan matanya perlahan, terkadang aku benci menjadi peri karena aku dapat melihat aura orang lain, aura manusia lain. Saat ini aku melihat aura Thio yang berantakan, aura itu penuh dengan warna yang tidak dapat aku artikan, memperlihatkan betapa sedih dan hancurnya perasaan dia. Aku sendiri tidak tau apa yang harus aku lakukan untuk membantunya.
“Kamu baik-baik saja, Thio?” tanyaku perlahan berjalan mendekati tubuh Thio yang terbaring lemas. Hanya anggukan yang aku dapatkan dari Thio, sebuah anggukan lemas dengan senyum yang tergambar di wajahnya. Juga sebuah anggukan lemas.

Aku terpaku, terdiam, tak bersuara memerhatikan Thio. Apa yang begitu menghantuinya? Apa yang harus aku lakukan? Bukankah seorang peri seharusnya membantu manusia dalam kesusahan? Bukankah memang tugas kami sebagai peri untuk selalu hadir untuk manusia walau mereka tidak pernah tau itu?
“Thio, aku harus pergi.. Waktuku telah habis” kataku pada Thio ketika aku merasakan tubuhku mulai berpendar lemah.
“Pergilah Seilla, tidak kembali pun tidak mengapa” jawab Thio tidak membuka matanya sama sekali, sedangkan aku merasa terpukul oleh jawaban Thio. Apakah itu arti sebuah persahabatan? Apakah itu yang akan selalu terjadi di dunia manusia?

Akhirnya perlahan tapi pasti, tubuhku mulai memudar dan menghilang kembali ke dunia peri. Meninggalkan Thio sendiri yang entah mengapa begitu tersakiti dan akhirnya dia pun ikut menyakiti aku. Tetapi dalam hati aku berucap,
“Apabila satu dunia membencimu, ingatlah aku selalu ada disini untuk menjaga dan menemanimu”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s