Seilla Peri yang Terluka .. part two

“Seilla bangunlah” begitu panggil ibuku di pagi itu.
Terkesiap aku dari tidurku yang jujur saja tidak ada lelap lelapnya sama sekali, tetapi aku tetap bangun dan mulai mengusap sayapku perlahan.
“Ada apa Ibu?” tanyaku lemas.
“Bangunlah, sudah siang ini dan tidak baik untuk seorang peri muda seperti kamu tidur sampai siang bolong seperti ini” kata ibuku halus dengan senyum indahnya.
Hatiku layaknya tersayat-sayat mendengar suara halusnya, ada sedikit rasa benci disana, kebencian yang lahir karena rasa cinta yang begitu besar. Kebencian yang lahir akibat aku tidak bisa menjadi seperti dirinya. Aku hanya mengangguk perlahan kepada ibu dan ibuku pun beranjak pergi dari samping tempat tidurku.

Rutinitas harian, bersiaplah aku pasti akan berkelahi dengan ayahku lagi. Entah mengapa, sepertinya merupakan kepuasan bathin bagi ayahku untuk memarahi bahkan memukuliku. Pernah suatu ketika sayapku hampir dirobek olehnya karena aku tidak mau membalas kata-kata kasarnya.
“Selamat pagi ayah..” sapaku padanya ketika aku keluar dari kamarku dan menemukannya sedang duduk terdiam di meja makan mungil kami. Tidak ada jawaban dari ayahku, dan aku pun hanya berlalu, berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air sebagai pembuka pagiku.
“Mengapa denganmu?” tanya ayahku tiba-tiba
“Apanya yang mengapa ayah?” dengan rasa ketidak mengertian aku bertanya hal yang normal bukan? Tetapi mengapa muka ayahku berubah menjadi berang? Kuperhatikan seluruh bagian tubuhku, tidak ada yang salah, semuanya bahkan baik-baik saja. Terlihat sempurna seperti apa adanya.
“Kamu berani menjawab aku? Peri kecil macam apa kau? Tidak diajarkan sopan santunkah kau oleh ibumu yang dikenal sebagai peri pemberi itu?” bentaknya dengan berang, sedangkan ibuku datang tergopoh-gopoh dengan secangkir air hangat untuk ayahku. Ketika ayahku melihat ibuku meletakkan cangkir itu di atas meja, dihempaskannya gelas itu ke lantai sampai pecah berantakan, seberantakan hatiku atas apa yang dikatakan oleh ayahku barusan.
“Memangnya apa salahku?” ku beranikan diriku menjawab cercaan ayahku itu dengan suara yang aku sadar bergetar dengan getir. Airmataku mulai tergenang dan pandanganku mulai samar-samar, hatiku terasa terkoyak, tercabik-cabik dengan sikap ayahku yang entah mengapa tidak pernah bersahabat denganku.
“Salahmu? Banyak sekali salahmu kepadaku Seilla. Kesalahanmu semakin sempurna karena kamu hadir dan lahir di dunia ini dan menjadi darah dagingku!” Teriak ayahku sekeras-kerasnya hingga membuat satu dunia runtuh, dan itu runtuh tepat di atasku membuatku terhimpit, membuatku sulit bernafas dan membuatku pilu seketika. Tidak ingin mendengar kata-kata ayahku lebih lanjut, kuletakkan gelas berisikan air yang belum aku minum sedikitpun dan aku berlari menerobos halangan ibuku keluar dari rumah itu.

Aku berlari dan terus berlari…
Aku berlari sekencang-kencangnya, sekuat tenaga yang aku miliki tanpa arah, tanpa tujuan. Kata-kata ayahku itu terus terputar diotakku, berputar-putar layaknya sebuah kaset rusak yang tak kunjung dapat diperbaikin.
“Salahmu? Banyak sekali salahmu kepadaku Seilla. Kesalahanmu semakin sempurna karena kamu hadir dan lahir di dunia ini dan menjadi darah dagingku!”
“Salahmu?…
“Salahmu? Banyak sekali salahmu kepadaku Seilla…
Aku terus berlari, dengan derai air mata yang tak kunjung henti jatuh dari mataku, aku ingin menangis sampai air mataku habis hingga aku tidak bisa menangis lagi..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s